- Pemerintah Indonesia merencanakan WFH satu hari per minggu sebagai respons lonjakan harga minyak dunia di atas 100 dolar AS.
- Kebijakan WFH ini diperkirakan mampu mengurangi konsumsi BBM nasional hingga sekitar 20 persen jika diterapkan konsisten.
- Pengamat energi UGM mengingatkan potensi risiko kebijakan terhadap sektor ekonomi informal dan produktivitas sektor manufaktur.
Suara.com - Lonjakan harga minyak dunia akibat konflik di Timur Tengah mulai berdampak ke Indonesia. Pemerintah pun menyiapkan sejumlah langkah efisiensi, termasuk rencana penerapan work from home (WFH) satu hari dalam sepekan.
Kebijakan ini ditujukan untuk menekan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) di tengah harga minyak global yang telah menembus di atas 100 dolar AS per barel. Pada 20 Maret 2026, harga minyak Brent bahkan mencapai 112,19 dolar AS per barel.
Sebagai negara importir, kenaikan harga minyak ini dinilai akan membebani APBN, memicu inflasi, serta menekan nilai tukar rupiah yang sempat menyentuh Rp 17.000 per dolar AS.
Pengamat Energi dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Fahmy Radhi, menilai kebijakan WFH satu hari memang berpotensi mengurangi konsumsi BBM secara signifikan, namun di sisi lain menyimpan risiko bagi sektor ekonomi lain.
"Kalau WFH-1 efektif diterapkan bagi seluruh ASN dan pekerja swasta secara konsekuen, menurut hitungan Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa penghematan konsumsi BBM bisa mencapai 20 persen," ujarnya dalam keterangan tertulis, Senin (23/3/2026).
Fahmy mengingatkan, implementasi kebijakan tersebut tidak akan mudah karena menyangkut perubahan perilaku kerja masyarakat.
"Masalahnya, tidak mudah mengerahkan seluruh ASN dan pekerja swasta untuk memberlakukan WFH-1 secara konsekwen karena menyangkut perubahan perilaku kerja," jelasnya.
Menurut Fahmy, tanpa adanya faktor pendorong kuat seperti saat pandemi Covid-19, kebijakan WFH berpotensi tidak berjalan efektif.
"Barangkali ASN dan pekerja swasta tidak kerja di rumah pada hari Jum’at, tetapi Work From Everywhere (WFE) di tempat wisata sekalian menikmati long weekend sehingga konsumasi BBM tidak dapat dihemat secara signifikan," bebernya.
Baca Juga: Daftar Harga BBM di Tengah Konflik Global, Stabil saat Arus Balik Lebaran 2026
Fahmy menambahkan, saat pandemi Covid-19, kebijakan WFH berhasil karena adanya faktor pembatasan aktivitas yang ketat.
"Saat pandemi Covid-19, WFH cukup berhasil menghemat BBM karena ada variabel paksa agar tidak tertular Covid-19. Sedangkan variabel paksa tidak ada pada WFH-1. Tanpa variabel paksa, sangat sulit WFH-1 bisa diterapkan secara konsekuen," imbuhnya.
Di sisi lain, kebijakan ini juga berpotensi menekan pendapatan sektor informal seperti ojek online dan pelaku UMKM yang bergantung pada aktivitas pekerja harian.
"Selain itu, WFH-1 berpotensi menurunkan pendapatan bagi sektor transportasi, termasuk jasa ojol, warung-warung UMKM yang selama ini menyediakan makan siang bagi ASN dan pekerja swasta, dan usaha lainnya," katanya.
Tak hanya itu, sektor industri juga dinilai bisa terdampak jika kebijakan diterapkan secara luas.
"Mewajibkan WFH-1 bagi pekerja swasta yang bekerja di sektor manufkatur juga akan menurunkan produktivitas kerja yang merugikan bagi sektor manufaktur," jelasnya.
Berita Terkait
Terpopuler
- 6 Rekomendasi Sepatu Lokal Rp 200 Ribuan, Kualitas Bintang Lima
- 7 Parfum Lokal Wangi Segar Seperti Habis Mandi, Tetap Clean Meski Cuaca Panas Ekstrem
- 5 HP Samsung Galaxy A 5G Termurah Mulai Rp1 Jutaan, Performa Gak Kaleng-kaleng
- 7 Sepatu Lari Lokal yang Wajib Masuk List Belanja Kamu di Awal Mei, Nyaman dan Ramah Kantong
- Promo Alfamart Double Date 5.5 Hari Ini, Es Krim Beli 1 Gratis 1
Pilihan
-
Kronologi Haerul Saleh, Anggota BPK RI Eks Anggota DPR Meninggal saat Rumahnya Kebakaran
-
Tragis! Anggota IV BPK Haerul Saleh Tewas dalam Kebakaran di Tanjung Barat, Diduga Akibat Sisa Tiner
-
16 Korban Tewas Bus ALS Terbakar di Muratara Berhasil Dievakuasi, Jalinsum Masih Mencekam
-
'Celana Saya Juga Hancur', Cerita Saksi yang Kena Sisa Air Keras Saat Bantu Andrie Yunus
-
Kala Harga Kebutuhan Meroket, Menulis Jadi Andalan Saya untuk Nambal Dompet
Terkini
-
OJK Blokir Rp614,3 Miliar Dana Penipuan, Ratusan Ribu Rekening Terdeteksi Ilegal
-
Antisipasi Karhutla, APP Group Kedepankan Deteksi Dini dan Kolaborasi
-
Harga Pangan Hari Ini : Cabai dan Bawang Merah Kompak Naik, Beras - Minyak Goreng Justru Turun
-
Harga Minyak Melonjak Usai Kontak Senjata AS-Iran di Selat Hormuz
-
Dari Pulau Obi untuk Literasi: Rumah Belajar Harita Nickel Tumbuhkan Minat Baca Anak
-
Tutup Pabrik, Krakatau Osaka Steel Apakah Sama dengan Krakatau Steel?
-
Kurs Rupiah Melemah ke Rp17.366 per Dolar AS, Dipicu Konflik AS-Iran dan Penguatan Dolar
-
IHSG Bergerak Dua Arah Pada Jumat Pagi
-
Lawan Overcapacity, Strategi Transformasi SIG Mulai Berbuah Manis
-
Lahan Pusat Kota Menipis, Kawasan Kemayoran Bakal Disulap Jadi Pusat Ekonomi Baru