News / Internasional
Minggu, 29 Maret 2026 | 09:51 WIB
Demo "No Kings" tuntut Donald Trump Mundur pada Minggu (29/3/2026 -untuk waktu WIB) [X/Jon Cooper]
Baca 10 detik
  • Demonstrasi "No Kings" ketiga melanda berbagai kota besar AS sebagai protes terhadap kebijakan otoriter Presiden Trump.
  • Para pengunjuk rasa menolak kebijakan perang AS, penegakan imigrasi agresif, dan kenaikan biaya hidup di seluruh negeri.
  • Aksi protes ini dipicu oleh kematian dua warga oleh agen imigrasi federal di Minnesota pada Januari lalu.

Suara.com - Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali melanda berbagai penjuru Amerika Serikat dalam aksi bertajuk "No Kings" (Tanpa Raja) edisi ketiga.

Jutaan orang dilaporkan memadati jalan-jalan utama di kota-kota besar untuk memprotes kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter dan mengancam demokrasi.

Demonstrasi ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa yang sebelumnya berhasil menarik perhatian hingga tujuh juta orang di seluruh negeri.

Para pengunjuk rasa menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan AS dalam perang di Iran, penegakan hukum imigrasi federal yang agresif, serta lonjakan biaya hidup yang kian mencekik.

"Kekuasaan Milik Rakyat, Bukan Calon Raja"

Dilansir via BBC, di Washington DC, massa memadati Lincoln Memorial dan National Mall hingga meluap ke wilayah Arlington, Virginia. Para orator dalam aksi tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dibangun untuk dipimpin oleh seorang tiran.

"Trump ingin memerintah kita seperti seorang diktator. Namun ini adalah Amerika, dan kekuasaan ada di tangan rakyat—bukan di tangan mereka yang haus kekuasaan atau kroni-kroni miliardernya," tegas salah satu penyelenggara aksi dalam orasinya di pusat ibu kota.

Menanggapi hal tersebut, juru bicara Gedung Putih meremehkan aksi ini dengan menyebutnya sebagai "Sesi Terapi Gangguan Trump" (Trump Derangement Therapy Sessions) dan menuding bahwa aksi ini hanya dipedulikan oleh media yang dibayar untuk meliputnya.

Pusat perhatian aksi hari Sabtu ini tertuju pada Minnesota. Negara bagian ini menjadi titik didih kemarahan publik setelah dua warga negara AS, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, tewas di tangan agen imigrasi federal pada Januari lalu.

Baca Juga: Kapal Pertamina Terjebak di Tengah Perang Iran, Ini Nasib Pasokan BBM Indonesia

Tragedi tersebut memicu kemarahan nasional atas taktik penegakan imigrasi yang dijalankan pemerintahan Trump sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025.

Di hadapan ribuan orang yang memadati State Capitol di St. Paul, musisi legendaris Bruce Springsteen turut turun ke panggung.

Ia membawakan lagu bertema anti-kekerasan imigrasi berjudul "Streets of Minneapolis" sebagai bentuk solidaritas bagi para korban.

Demo "No Kings" tuntut Donald Trump Mundur pada Minggu (29/3/2026) [X/Ben Alvarez]

Meluas dari New York hingga Kota Kecil

Di New York City, polisi terpaksa menutup Times Square dan kawasan Midtown Manhattan setelah lebih dari 100.000 orang tumpah ruah ke jalanan.

Pemandangan serupa terlihat di Los Angeles, Chicago, Houston, hingga Hartford, di mana para demonstran membawa berbagai atribut kreatif, termasuk boneka burung raksasa setinggi 12 kaki.

Load More