- Demonstrasi "No Kings" ketiga melanda berbagai kota besar AS sebagai protes terhadap kebijakan otoriter Presiden Trump.
- Para pengunjuk rasa menolak kebijakan perang AS, penegakan imigrasi agresif, dan kenaikan biaya hidup di seluruh negeri.
- Aksi protes ini dipicu oleh kematian dua warga oleh agen imigrasi federal di Minnesota pada Januari lalu.
Suara.com - Gelombang demonstrasi besar-besaran kembali melanda berbagai penjuru Amerika Serikat dalam aksi bertajuk "No Kings" (Tanpa Raja) edisi ketiga.
Jutaan orang dilaporkan memadati jalan-jalan utama di kota-kota besar untuk memprotes kebijakan pemerintahan Presiden Donald Trump yang dinilai otoriter dan mengancam demokrasi.
Demonstrasi ini merupakan kelanjutan dari aksi serupa yang sebelumnya berhasil menarik perhatian hingga tujuh juta orang di seluruh negeri.
Para pengunjuk rasa menyuarakan penolakan keras terhadap keterlibatan AS dalam perang di Iran, penegakan hukum imigrasi federal yang agresif, serta lonjakan biaya hidup yang kian mencekik.
"Kekuasaan Milik Rakyat, Bukan Calon Raja"
Dilansir via BBC, di Washington DC, massa memadati Lincoln Memorial dan National Mall hingga meluap ke wilayah Arlington, Virginia. Para orator dalam aksi tersebut menegaskan bahwa Amerika Serikat tidak dibangun untuk dipimpin oleh seorang tiran.
"Trump ingin memerintah kita seperti seorang diktator. Namun ini adalah Amerika, dan kekuasaan ada di tangan rakyat—bukan di tangan mereka yang haus kekuasaan atau kroni-kroni miliardernya," tegas salah satu penyelenggara aksi dalam orasinya di pusat ibu kota.
Menanggapi hal tersebut, juru bicara Gedung Putih meremehkan aksi ini dengan menyebutnya sebagai "Sesi Terapi Gangguan Trump" (Trump Derangement Therapy Sessions) dan menuding bahwa aksi ini hanya dipedulikan oleh media yang dibayar untuk meliputnya.
Pusat perhatian aksi hari Sabtu ini tertuju pada Minnesota. Negara bagian ini menjadi titik didih kemarahan publik setelah dua warga negara AS, Renee Nicole Good dan Alex Pretti, tewas di tangan agen imigrasi federal pada Januari lalu.
Baca Juga: Kapal Pertamina Terjebak di Tengah Perang Iran, Ini Nasib Pasokan BBM Indonesia
Tragedi tersebut memicu kemarahan nasional atas taktik penegakan imigrasi yang dijalankan pemerintahan Trump sejak kembali ke Gedung Putih pada 2025.
Di hadapan ribuan orang yang memadati State Capitol di St. Paul, musisi legendaris Bruce Springsteen turut turun ke panggung.
Ia membawakan lagu bertema anti-kekerasan imigrasi berjudul "Streets of Minneapolis" sebagai bentuk solidaritas bagi para korban.
Meluas dari New York hingga Kota Kecil
Di New York City, polisi terpaksa menutup Times Square dan kawasan Midtown Manhattan setelah lebih dari 100.000 orang tumpah ruah ke jalanan.
Pemandangan serupa terlihat di Los Angeles, Chicago, Houston, hingga Hartford, di mana para demonstran membawa berbagai atribut kreatif, termasuk boneka burung raksasa setinggi 12 kaki.
Berita Terkait
-
Houthi Resmi Gabung Perang Iran, Tembakkan Rudal Balistik ke Israel
-
Tak Ada yang Kebal Hukum: Mantan PM Nepal Sharma Oli Ditangkap Terkait Tewasnya Demonstran
-
Donald Trump: Pangeran MBS Kini Mencium Pantat Saya
-
Update Terbaru, Dua Kapal Tanker PIS Usai Iran Berikan Respons Positif
-
Perang Klaim AS-Iran: Teheran Tepis Kabar Damai yang Digagas Trump
Terpopuler
- Berapa Harga Sewa Pendopo Soimah? Ini Fasilitas Pendopo Tulungo
- 7 Lipstik Lokal Murah dan Awet, Transferproof Meski Dipakai Makan dan Minum
- 7 Cushion Anti Oksidasi untuk Usia 50 Tahun, Ringan di Wajah dan Bikin Tampak Lebih Muda
- 5 HP Android dengan Kualitas Kamera Setara iPhone 15
- Apakah Produk Viva Memiliki Sunscreen? Segini Harga dan Cara Pakainya
Pilihan
-
Jauh di Bawah Tuntutan Jaksa, Eks Konsultan Kemendikbud Kasus Chromebook Hanya Divonis 4 Tahun
-
Tok! Eks Konsultan Kemendikbudristek Ibam Divonis 4 Tahun Penjara dalam Kasus Chromebook
-
Fenomena Tim Musafir Masih Hiasi Super League, Ketegasan PSSI dan I.League Dipertanyakan
-
Nyanyi Bareng Jakarta: Melodi Penenang bagi Jiwa yang Terpapar Debu Ibu Kota
-
Salah Satu Korban Dikunci dari Luar, Dengar Kiai Ashari Lakukan Aksi Bejat di Kamar Sebelah
Terkini
-
Biar Nggak Merasa Ketipu, Ini Alasan Hukum Kenapa Kuota Internet Kamu Hangus Saat Masa Aktif Habis
-
Bukan 18 Tahun, Nadiem Makarim Bongkar Hitungan Jaksa: Total Saya Dituntut 27 Tahun Penjara!
-
Prabowo Bangga, Gaji Hakim RI Naik 280 Persen dan Kini di Atas Malaysia
-
Prabowo Tantang Satgas PKH: Takut Bandit atau Berani Bela Rakyat?
-
Budisatrio Djiwandono Siap Hadirkan Para Dubes untuk Simak Sinergi Karang Taruna - Sekolah Rakyat
-
Dituding Lamban oleh DPR, KNKT Bongkar Alasan Investigasi Kereta Bekasi Tak Kunjung Usai
-
Staf Ahli TP PKK Yane Ardian Minta Pemda Perkuat UP2K dan Berdayakan Lansia
-
Jakarta-Kelantan Sepakat Perkuat Kerja Sama, Penerbangan Langsung Dimulai 16 Juni
-
Jaksa Tuntut Nadiem Bayar Uang Pengganti Rp 5,6 Triliun
-
Bongkar Modus Birokrat 'Kickback' Perizinan, Prabowo Mau Efisiensi Izin 2 Tahun jadi 2 Minggu