- Dinas Dukcapil DKI Jakarta mencatat mayoritas pendatang didominasi usia produktif yang mencari pekerjaan pasca libur Lebaran.
- Kemudahan akses layanan publik dan fasilitas kota menjadi magnet utama bagi pendatang untuk bermukim di Jakarta.
- Pemerintah menggunakan data kependudukan untuk menyusun program pembinaan UMKM serta penguatan sektor informal bagi warga pendatang.
Suara.com - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mengungkap mayoritas pendatang ke Ibu Kota masih didorong oleh kebutuhan mencari pekerjaan. Data menunjukkan sekitar 34,97 persen pendatang, khususnya pascalibur Lebaran tahun lalu, datang dengan tujuan utama mencari nafkah.
Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta Denny Wahyu Haryanto menyebut tingginya angka tersebut sejalan dengan dominasi usia produktif di kalangan pendatang. Tercatat sebanyak 77,84 persen pendatang berada dalam rentang usia 15–64 tahun.
“Kalau datang ke Jakarta itu pasti untuk mencari kerja. Faktor itu juga didukung karena usia produktif mendominasi,” ujar Denny, dikutip dari ANTARA.
Jika dibandingkan dengan alasan lain, faktor pekerjaan masih menjadi yang tertinggi. Disusul alasan keluarga sebesar 32,58 persen, kemudian alasan pekerjaan lanjutan 15,59 persen, perumahan 13,04 persen, pendidikan 3,49 persen, kesehatan 0,29 persen, dan keamanan 0,03 persen.
Dari sisi pendidikan, mayoritas pendatang memiliki latar belakang pendidikan SMA atau sederajat ke bawah, yakni mencapai 78,71 persen. Sementara itu, sekitar 58,96 persen di antaranya diperkirakan masuk kategori berpenghasilan rendah dan banyak bekerja di sektor informal.
Denny menilai kemudahan akses layanan publik menjadi salah satu daya tarik utama Jakarta. Mulai dari layanan administrasi kependudukan, fasilitas kesehatan, hingga pendidikan dinilai lebih mudah diakses dibanding daerah lain.
“Layanan publik yang relatif mudah diakses menjadi magnet tersendiri bagi pendatang,” jelasnya.
Namun, tidak sedikit pendatang yang tinggal di kawasan padat. Sekitar 21,05 persen tercatat bermukim di wilayah RW kumuh, padat, serta daerah perbatasan Jakarta.
Data ini, menurut Denny, bisa menjadi dasar bagi pemerintah dalam merancang program pembinaan, termasuk penguatan UMKM dan transformasi sektor informal menjadi lebih terstruktur.
Baca Juga: Perayaan HUT ke-27, JICT Dorong Kinerja dan Daya Saing Terminal
Saat ini, Dukcapil DKI Jakarta masih melakukan pendataan pendatang melalui layanan jemput bola hingga 30 April 2026. Per 1 April 2026, tercatat sebanyak 1.776 pendatang baru masuk ke Jakarta, dengan komposisi relatif seimbang antara laki-laki (50,17 persen) dan perempuan (49,83 persen).
Menariknya, tren jumlah pendatang pascalibur Lebaran dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan. Dari 27.478 orang pada 2022, turun menjadi 25.918 pada 2023, kemudian 16.207 pada 2024, dan 16.049 pada 2025.
Meski demikian, kualitas persiapan pendatang dinilai semakin baik. Dalam dua tahun terakhir, banyak pendatang yang sudah datang dengan bekal keterampilan, kepastian pekerjaan, hingga tempat tinggal yang jelas sebelum tiba di Jakarta.
Berita Terkait
Terpopuler
- 30 Wakil Menteri Rangkap Jabatan Jadi Komisaris BUMN, Ini Daftar Namanya
- Petinggi FPI Novel Bamukmin Ditunjuk Jadi Komisaris Hotel Indonesia Natour
- 'Daripada Liburan Mending Melawan', Ibu-ibu di Jogja Geruduk Bundaran UGM Gugat Kebijakan Korup
- Kacamata Cat Eye Cocok untuk Bentuk Wajah Apa? Ini 3 Pilihan dengan Harga Ramah di Kantong
- 5 Sepatu Running Asics Diskon di Sports Station, Potongan Harga hingga 64 Persen
Pilihan
-
Cristiano Ronaldo Umumkan Perpisahan! Piala Dunia 2026 Jadi Panggung Terakhir
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
Terkini
-
Gagal Ngumpet! Maling Motor Sembunyi di Plafon Rumah Pacar Jatuh Terjerembab Usai Didobrak
-
Misteri Amplop di Meja Menhut, Kenapa Raja Juli Baru Lapor KPK Setelah Bupati Kuansing Ditangkap?
-
Polri Paling Banyak Diadukan ke Komnas HAM Sepanjang 2025, Capai 805 Laporan
-
Baru Lapor Tolak Suap Usai OTT Bupati Kuansing, Menhut Raja Juli Tetap Berpeluang Diperiksa KPK!
-
Kebakaran TPA Jatiwaringin Belum Usai, Asap Beracun Bikin Puluhan Warga Tak Berani Pulang
-
Polisi Bongkar Pabrik Vape THC Milik WNA di Bali, Transaksi Pakai Kripto
-
Soroti Proyek Satelit Rusia di Biak, Pansus Papua DPD RI Mulai Inventarisasi Masalah
-
Bongkar Siasat Aplikator: Kenapa Potongan Ojol Turun 8 Persen Tapi Dompet Driver Tetap Kering?
-
Tragis! Tak Sempat Lari, Kakek 81 Tahun Tewas Terjebak Kebakaran di Palmerah
-
Keras! Guru Besar UNJ Sebut Program Makan Bergizi Gratis Jadi 'Proyek Berbagi Keuntungan'