News / Metropolitan
Jum'at, 03 April 2026 | 14:55 WIB
Kepala Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta Denny Wahyu. (tangkap layar)
Baca 10 detik
  • Dinas Dukcapil DKI Jakarta mencatat mayoritas pendatang didominasi usia produktif yang mencari pekerjaan pasca libur Lebaran.
  • Kemudahan akses layanan publik dan fasilitas kota menjadi magnet utama bagi pendatang untuk bermukim di Jakarta.
  • Pemerintah menggunakan data kependudukan untuk menyusun program pembinaan UMKM serta penguatan sektor informal bagi warga pendatang.

Suara.com - Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) DKI Jakarta mengungkap mayoritas pendatang ke Ibu Kota masih didorong oleh kebutuhan mencari pekerjaan. Data menunjukkan sekitar 34,97 persen pendatang, khususnya pascalibur Lebaran tahun lalu, datang dengan tujuan utama mencari nafkah.

Kepala Dinas Dukcapil DKI Jakarta Denny Wahyu Haryanto menyebut tingginya angka tersebut sejalan dengan dominasi usia produktif di kalangan pendatang. Tercatat sebanyak 77,84 persen pendatang berada dalam rentang usia 15–64 tahun.

“Kalau datang ke Jakarta itu pasti untuk mencari kerja. Faktor itu juga didukung karena usia produktif mendominasi,” ujar Denny, dikutip dari ANTARA.

Jika dibandingkan dengan alasan lain, faktor pekerjaan masih menjadi yang tertinggi. Disusul alasan keluarga sebesar 32,58 persen, kemudian alasan pekerjaan lanjutan 15,59 persen, perumahan 13,04 persen, pendidikan 3,49 persen, kesehatan 0,29 persen, dan keamanan 0,03 persen.

Dari sisi pendidikan, mayoritas pendatang memiliki latar belakang pendidikan SMA atau sederajat ke bawah, yakni mencapai 78,71 persen. Sementara itu, sekitar 58,96 persen di antaranya diperkirakan masuk kategori berpenghasilan rendah dan banyak bekerja di sektor informal.

Denny menilai kemudahan akses layanan publik menjadi salah satu daya tarik utama Jakarta. Mulai dari layanan administrasi kependudukan, fasilitas kesehatan, hingga pendidikan dinilai lebih mudah diakses dibanding daerah lain.

“Layanan publik yang relatif mudah diakses menjadi magnet tersendiri bagi pendatang,” jelasnya.

Namun, tidak sedikit pendatang yang tinggal di kawasan padat. Sekitar 21,05 persen tercatat bermukim di wilayah RW kumuh, padat, serta daerah perbatasan Jakarta.

Data ini, menurut Denny, bisa menjadi dasar bagi pemerintah dalam merancang program pembinaan, termasuk penguatan UMKM dan transformasi sektor informal menjadi lebih terstruktur.

Baca Juga: Perayaan HUT ke-27, JICT Dorong Kinerja dan Daya Saing Terminal

Saat ini, Dukcapil DKI Jakarta masih melakukan pendataan pendatang melalui layanan jemput bola hingga 30 April 2026. Per 1 April 2026, tercatat sebanyak 1.776 pendatang baru masuk ke Jakarta, dengan komposisi relatif seimbang antara laki-laki (50,17 persen) dan perempuan (49,83 persen).

Menariknya, tren jumlah pendatang pascalibur Lebaran dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan penurunan. Dari 27.478 orang pada 2022, turun menjadi 25.918 pada 2023, kemudian 16.207 pada 2024, dan 16.049 pada 2025.

Meski demikian, kualitas persiapan pendatang dinilai semakin baik. Dalam dua tahun terakhir, banyak pendatang yang sudah datang dengan bekal keterampilan, kepastian pekerjaan, hingga tempat tinggal yang jelas sebelum tiba di Jakarta.

Load More