News / Internasional
Minggu, 12 April 2026 | 06:26 WIB
Serangan Israel ke Lebanon (Antara)
Baca 10 detik
  • Korban tewas akibat serangan Israel di Lebanon telah melampaui angka dua ribu orang.

  • Hezbollah dan warga Beirut menolak keras rencana negosiasi damai langsung dengan pihak Israel.

  • Ketegangan militer terus berlanjut di Lebanon Selatan meski ada upaya diplomasi global.

Suara.com - Agresi militer Israel di wilayah selatan Lebanon kini telah merenggut lebih dari 2.000 nyawa warga sipil.

Data terbaru dari otoritas kesehatan Lebanon mengonfirmasi lonjakan dramatis jumlah korban jiwa dalam kurun waktu singkat.

Serangan udara yang menghantam sebuah desa di dekat kota Sidon menjadi salah satu titik paling berdarah.

Israel serang Lebanon (Antara)

Dikutip dari Al Jazaara, Kementerian Kesehatan Lebanon melaporkan sedikitnya delapan orang tewas dan sembilan lainnya luka-luka dalam insiden tersebut.

Operasi militer ini mempertegas ketegangan yang kian tak terkendali antara pasukan Israel dan kelompok Hezbollah.

Selain di Sidon, kehancuran besar juga dilaporkan terjadi di wilayah strategis Distrik Nabatieh.

Sepuluh orang dikabarkan kehilangan nyawa akibat serangan udara yang menyasar kawasan pemukiman di sana.

Ironisnya, tiga orang di antara para korban merupakan petugas darurat yang sedang menjalankan tugas kemanusiaan.

Hingga saat ini, total korban tewas di seluruh negeri telah mencapai angka 2.020 jiwa sejak awal Maret.

Baca Juga: Aksi Jumat untuk Palestina di depan Kedubes AS

Selain korban meninggal, tercatat sebanyak 6.436 orang mengalami luka-luka akibat rangkaian ledakan dan tembakan.

Perlawanan Hezbollah dan Luka di Pihak Militer

Situasi di medan perang darat juga menunjukkan intensitas bentrokan yang sangat tinggi antara kedua belah pihak.

Media Israel melaporkan adanya tentara mereka yang menjadi korban dalam kontak senjata di Lebanon Selatan.

Saluran TV Channel 13 menyebutkan bahwa dua prajurit dari Brigade Pasukan Payung mengalami luka-luka serius.

Kedua tentara tersebut dilaporkan terkena pecahan peluru saat terlibat konfrontasi fisik dengan pejuang Hezbollah.

Insiden ini membuktikan bahwa perlawanan di wilayah perbatasan masih sangat kuat meskipun gempuran udara terus masif.

Di tengah dentuman meriam, isu mengenai perundingan damai justru memicu gelombang penolakan di dalam negeri.

Hezbollah secara tegas menyatakan keberatan mereka terhadap rencana dialog langsung antara Lebanon dan pihak Israel.

Kantor Presiden Joseph Aoun sebelumnya sempat mengisyaratkan adanya pertemuan trilateral di Washington minggu depan.

Namun, anggota parlemen dari Hezbollah, Hassan Fadlallah, mengecam keras langkah diplomasi yang direncanakan tersebut.

Hassan Fadlallah mengatakan "keputusan untuk mengadakan pembicaraan langsung dengan Israel adalah pelanggaran nyata terhadap pakta nasional, konstitusi, dan hukum Lebanon."

Protes Massa di Beirut Menolak Normalisasi

Ratusan warga sipil turun ke jalanan ibu kota Beirut untuk menyuarakan protes terhadap wacana perdamaian tersebut.

Mereka berkumpul di pusat kota dengan membawa atribut perlawanan sebagai bentuk dukungan penuh bagi Hezbollah.

Ruqaya Msheik, salah satu demonstran, menegaskan bahwa rakyat Lebanon tidak akan pernah tunduk pada kepentingan zionis.

Ruqaya Msheik mengatakan protes itu adalah pesan bahwa Lebanon "tidak akan menjadi milik Israel."

Lebih lanjut, ia menyatakan "siapa pun yang menginginkan perdamaian dengan Israel bukanlah orang Lebanon," seraya menambahkan "mereka yang bersalaman dengan musuh adalah Zionis."

Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, juga memberikan syarat yang sangat berat bagi terwujudnya kesepakatan damai.

Ia menuntut adanya pelucutan senjata total dari kelompok Hezbollah sebagai jaminan keamanan bagi negaranya.

Benjamin Netanyahu mengatakan bahwa setiap perjanjian damai yang dicapai dengan Lebanon harus "bertahan selama beberapa generasi" dan juga menyerukan pelucutan senjata Hezbollah.

Di sisi lain, ketidakpastian mengenai cakupan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran masih menjadi perdebatan.

Washington dan Teheran berselisih pendapat apakah kesepakatan mereka juga mencakup penghentian pemboman di Lebanon.

Latar Belakang Konflik dan Dinamika Regional

Konflik terbuka ini dipicu oleh aksi saling serang di perbatasan yang dimulai sejak awal Maret 2024.

Hezbollah meluncurkan roket ke wilayah Israel sebagai bentuk solidaritas terhadap perjuangan Iran di kawasan tersebut.

Israel membalas aksi tersebut dengan operasi militer skala besar yang mencakup serangan udara dan invasi darat.

Laporan dari Islamabad menyebutkan bahwa Iran mengklaim telah mendapatkan jaminan dari AS untuk menekan agresi Israel.

Namun, kenyataan di lapangan menunjukkan serangan tetap berlanjut meski intensitas di wilayah Beirut sedikit berkurang.

Load More