- Sekjen PDIP Hasto menyoroti adanya penekanan terhadap kebebasan berpendapat di Indonesia dalam seminar nasional di Jakarta.
- Hasto mengkritik tindakan pelaporan masyarakat ke aparat penegak hukum akibat menyampaikan kritik terhadap kebijakan pemerintah saat ini.
- Menurutnya perbedaan pendapat dan kritik merupakan instrumen penting untuk memajukan bangsa dan menjaga demokrasi.
Suara.com - Sekretaris Jenderal PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, menyoroti kondisi demokrasi di Indonesia kekinian yang dinilainya mulai diwarnai oleh praktik penekanan terhadap kebebasan berpendapat.
Hal ini disampaikan Hasto saat membuka seminar nasional Peringatan ke-71 Konferensi Asia-Afrika (KAA) di Sekolah Partai DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta Selatan, Sabtu (18/4/2026).
Hasto mengaitkan semangat pembebasan dari Dasasila Bandung hasil KAA 1955 dengan realitas domestik saat ini.
Menurutnya, sebagai "mercusuar keadilan", Indonesia seharusnya sudah bersih dari segala bentuk penindasan, termasuk penindasan terhadap gagasan.
Ia secara khusus mengkritik fenomena di mana masyarakat yang melontarkan kritik terhadap kebijakan negara justru berakhir dengan aduan ke aparat penegak hukum.
“Sekarang ini kritik masalah pangan diadukan ke polisi. Kritik masalah terhadap pemerintah diadukan kepada polisi. Padahal republik ini dibangun dengan suatu dialektika,” ujar Hasto di hadapan para kader dan tokoh nasional yang hadir.
Hasto menegaskan, bahwa perbedaan pemikiran dan kritik terhadap pemerintah jangan dianggap sebagai upaya menjatuhkan.
Sebaliknya, kritik adalah instrumen penting agar pemerintah dapat bekerja lebih baik demi kemajuan bangsa.
“Kalau kita kritik pemerintah, bukan berarti kita tidak ingin pemerintah berhasil. Justru ketika kita kritik pada pemerintah karena kita sayang, cinta tanah air kepada Republik ini, Saudara-saudara sekalian,” tegasnya.
Baca Juga: Megawati Beri Hard Warning ke Kader PDIP: Jangan Korupsi, Turun ke Bawah!
Ia menambahkan bahwa perbedaan ide adalah hal yang lumrah dan penting dalam sebuah sistem demokrasi, asalkan tujuannya adalah untuk kemajuan negara.
Menurutnya, hal tersebut bukan merupakan sesuatu yang dilarang atau "diharamkan".
Lebih lanjut, Hasto menyatakan bahwa PDIP berkomitmen untuk menjadi partai yang progresif dan berani menghadapi berbagai tekanan.
Ia mengingatkan bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia adalah sejarah membebaskan diri dari pengisapan dan tekanan.
Ia menekankan pentingnya menjaga kebebasan dasar serta fungsi pengawasan lembaga legislatif dalam sistem politik Indonesia.
“Maka mengapa PDI Perjuangan harus menjadi partai yang kokoh, partai yang progresif, dan partai yang berdiri tegak di dalam menghadapi berbagai tekanan-tekanan apa pun karena sejarah mengajarkan kita merdeka karena kita ingin membebaskan diri dari berbagai tekanan penghisapan," kata dia.
"The freedom of speech, freedom to organize the people, freedom of press dan sebagainya termasuk berjalannya fungsi-fungsi DPR RI sebagai check and balances di dalam konstruksi sistem politik kita, semua harus kita perjuangkan demi sehatnya Indonesia di dalam mencapai tujuan bernegara,” papar Hasto.
Lebih lanjut, Hasto mengajak seluruh elemen bangsa untuk terus memperjuangkan narasi pembebasan sesuai semangat KAA, agar tidak ada lagi praktik penindasan di bumi Indonesia.
“Jangan pernah lelah berjuang bagi Indonesia kita karena di dalam akhir dari komunike ini dikatakan dengan sangat tegas bahwa Indonesia berdiri di muka di dalam perjuangan pembebasan dan kita harus memberikan suatu pelajaran kepada dunia bahwa tidak ada penindasan-penindasan yang terjadi di bumi Indonesia tercinta,” pungkasnya.
Berita Terkait
-
Sebut Iran Mampu Mempraktikkan Ajaran Trisakti Bung Karno, PDIP: Bagaimana dengan Pemerintah?
-
Bupati Malang Lantik Anak Jadi Kadis, PDIP: Sulit Mengelak Tudingan Nepotisme
-
Megawati Terima Dubes Jerman, Bahas Geopolitik hingga Warisan Konferensi Asia Afrika
-
Megawati Beri Hard Warning ke Kader PDIP: Jangan Korupsi, Turun ke Bawah!
-
RDP DPR-BPIP Diwarnai Candaan, Willy Aditya Singgung Merger NasDem-Gerindra
Terpopuler
- Parfum Paling Wangi Rasa Apa? Ini 5 Rekomendasi Aroma yang Populer
- 5 Rekomendasi Lipstik Wardah untuk Usia 40-an yang Elegan, Nyaman di Bibir dan Awet
- 5 HP Samsung Galaxy A Series Termurah: Layar Super AMOLED, 5G hingga NFC
- Rapor Duo Timnas Indonesia Ole Romeny dan Hubner Saat Fortuna Sittard Hadapi Olympiacos
- Pesaing Vario 125 dari Yamaha, Tampang Bernuansa R1M
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Kerja Secukupnya, Waras Seutuhnya: Membedah Tren Quiet Quitting ala Gen Z
-
Game Ragnarok: The New World Resmi Dirilis, Banyak Hadiah Gratis
-
Stop Romantisasi Pengabdian: Guru dan Nakes Juga Berhak Hidup Layak
-
Residivis Curanmor Bersenpi Rakitan Ambruk Ditembak Polisi di Lampung Timur
-
Krisis Air Mengintai Timur Tengah Setelah Pasukan Iran Sasar Pembangkit Desalinasi Air Kuwait
-
Mengapa Jadi Superhero di The WONDERfools Bukan Jawaban Permasalahan Hidup?
-
5 Rekomendasi Sunscreen Non Comedogenic Terbaik sesuai Review dan Harga
-
2 Moisturizer OMG yang Ampuh Cerahkan Wajah Harga Rp20 Ribuan, Mana yang Lebih Baik?
-
5 Parfum Mykonos Terlaris di Shopee, Wangi Tahan Lama untuk Dipakai Seharian
-
Intip Trailer Film The Uprising, Andrew Garfield Pimpin Pemberontakan Besar