News / Internasional
Jum'at, 24 April 2026 | 09:30 WIB
Konflik bersenjata antara koalisi AS-Israel melawan Iran telah menciptakan paradoks emosional yang menghancurkan mentalitas penduduk sipil. (Skynews)
Baca 10 detik
  • Warga Teheran mengalami trauma ganda akibat agresi militer asing dan tekanan rezim domestik.

  • Kelangkaan obat penenang dan lonjakan harga pangan memicu krisis kemanusiaan di ibu kota Iran.

  • Gencatan senjata dianggap sangat rapuh sementara kelompok disabilitas rentan kehilangan sumber bantuan dana.

Interaksi sosial di ruang publik kini dipenuhi oleh rasa curiga dan kebencian antar kelompok masyarakat yang berbeda pandangan.

"Saya melihat ke langit dengan cara yang berbeda, dan saya hanya melihat orang-orang, dan mereka tertawa dan berjalan satu sama lain. Bagi saya, tawa ini berarti, 'Saya masih hidup' dan 'Saya masih di sini'."

"Teheran sangat mengerikan selama 40 hari itu. Mereka mengebom di mana-mana tetapi kami tidak bisa membicarakan perang atau pengeboman di Teheran. Kami harus menyimpannya di dalam. Pemerintah Iran menjadikannya sebagai (pelanggaran) pidana."

"Kebanyakan orang sangat khawatir tentang masa depan. Jika Anda ingin buktinya, pergilah ke mal besar, hipermarket, toko-toko di kota. Orang-orang berbelanja barang-barang penting, seperti beras."

"Tidak ada yang lebih penting bagi sebuah keluarga selain beras, dan mereka melakukannya karena mereka pikir itu akan terjadi lagi."

Ketakutan akan kembalinya pesawat pengebom memicu aksi borong bahan pangan sebagai persiapan menghadapi situasi darurat yang lebih panjang.

Masyarakat tidak lagi mempercayai narasi kemenangan yang disiarkan oleh media-media milik pemerintah di tengah pemutusan akses internet.

Nasib Kelompok Rentan yang Terlupakan

"Mereka tidak memiliki perasaan tentang perang, tetapi karena suara-suara, ledakan-ledakan, mereka tidak bisa mengendalikan diri. Mereka tidak bisa buang air kecil. Mereka hanya berteriak, mereka bersembunyi, (dan) mereka telah melukai diri mereka sendiri."

Baca Juga: Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026

"Mereka memiliki masalah yang sangat serius, masalah uang, karena sebagian besar orang yang membantu telah melarikan diri dari Teheran. Segalanya sangat mahal dan orang-orang berpikir bahwa keluarga mereka harus didahulukan, dan orang lain menyusul kemudian."

Fasilitas rehabilitasi bagi anak-anak dan orang dewasa dengan disabilitas kini berada di ambang kolaps karena terhentinya aliran donasi.

Para dermawan yang biasanya menyokong kehidupan mereka kini lebih memilih menyelamatkan diri atau fokus pada kebutuhan domestik sendiri.

Kondisi ini menciptakan lapisan penderitaan baru bagi mereka yang tidak memiliki suara dalam percaturan politik internasional.

Konflik ini memuncak setelah koalisi militer pimpinan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye serangan udara selama 40 hari di wilayah Iran.

Operasi tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei serta sejumlah pejabat teras, namun meninggalkan luka mendalam bagi 10 juta penduduk Teheran.

Load More