-
Warga Teheran mengalami trauma ganda akibat agresi militer asing dan tekanan rezim domestik.
-
Kelangkaan obat penenang dan lonjakan harga pangan memicu krisis kemanusiaan di ibu kota Iran.
-
Gencatan senjata dianggap sangat rapuh sementara kelompok disabilitas rentan kehilangan sumber bantuan dana.
Interaksi sosial di ruang publik kini dipenuhi oleh rasa curiga dan kebencian antar kelompok masyarakat yang berbeda pandangan.
"Saya melihat ke langit dengan cara yang berbeda, dan saya hanya melihat orang-orang, dan mereka tertawa dan berjalan satu sama lain. Bagi saya, tawa ini berarti, 'Saya masih hidup' dan 'Saya masih di sini'."
"Teheran sangat mengerikan selama 40 hari itu. Mereka mengebom di mana-mana tetapi kami tidak bisa membicarakan perang atau pengeboman di Teheran. Kami harus menyimpannya di dalam. Pemerintah Iran menjadikannya sebagai (pelanggaran) pidana."
"Kebanyakan orang sangat khawatir tentang masa depan. Jika Anda ingin buktinya, pergilah ke mal besar, hipermarket, toko-toko di kota. Orang-orang berbelanja barang-barang penting, seperti beras."
"Tidak ada yang lebih penting bagi sebuah keluarga selain beras, dan mereka melakukannya karena mereka pikir itu akan terjadi lagi."
Ketakutan akan kembalinya pesawat pengebom memicu aksi borong bahan pangan sebagai persiapan menghadapi situasi darurat yang lebih panjang.
Masyarakat tidak lagi mempercayai narasi kemenangan yang disiarkan oleh media-media milik pemerintah di tengah pemutusan akses internet.
Nasib Kelompok Rentan yang Terlupakan
"Mereka tidak memiliki perasaan tentang perang, tetapi karena suara-suara, ledakan-ledakan, mereka tidak bisa mengendalikan diri. Mereka tidak bisa buang air kecil. Mereka hanya berteriak, mereka bersembunyi, (dan) mereka telah melukai diri mereka sendiri."
Baca Juga: Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
"Mereka memiliki masalah yang sangat serius, masalah uang, karena sebagian besar orang yang membantu telah melarikan diri dari Teheran. Segalanya sangat mahal dan orang-orang berpikir bahwa keluarga mereka harus didahulukan, dan orang lain menyusul kemudian."
Fasilitas rehabilitasi bagi anak-anak dan orang dewasa dengan disabilitas kini berada di ambang kolaps karena terhentinya aliran donasi.
Para dermawan yang biasanya menyokong kehidupan mereka kini lebih memilih menyelamatkan diri atau fokus pada kebutuhan domestik sendiri.
Kondisi ini menciptakan lapisan penderitaan baru bagi mereka yang tidak memiliki suara dalam percaturan politik internasional.
Konflik ini memuncak setelah koalisi militer pimpinan Amerika Serikat dan Israel meluncurkan kampanye serangan udara selama 40 hari di wilayah Iran.
Operasi tersebut berhasil menewaskan pemimpin tertinggi Ali Khamenei serta sejumlah pejabat teras, namun meninggalkan luka mendalam bagi 10 juta penduduk Teheran.
Berita Terkait
Terpopuler
- Sepeda Dewasa Merek Apa yang Murah dan Awet? Ini 5 Pilihan Terbaik untuk Harian
- 7 Pilihan Lipstik yang Awet 12 Jam, Anti Pudar Terkena Air dan Minyak
- Begini Respons Kopassus Usai Beredar Isu Orang Istana Digampar Pangkopassus
- 5 Parfum Indomaret dengan Wangi Segar Tahan Lama, Cocok Dipakai saat Cuaca Panas
- 12 Promo Makanan Hari Kartini 2026, Diskon Melimpah untuk Rayakan Momen Spesial
Pilihan
-
Sebagai Ayah, Saya Takut Biaya Siluman Terus Menghantui Pendidikan Anak di Masa Depan
-
Rugikan Negara Rp285 T, Eks Dirut Pertamina Patra Niaga Alfian Nasution Dituntut 14 Tahun Bui
-
Terungkap Jalur Gelap 10 Ton Pupuk Subsidi di Sumsel, Dijual ke Pihak Tak Berhak
-
Garap Kasus Haji, KPK Panggil Ustaz Khalid Basalamah Hari Ini
-
Merantau ke Kota Kecil, Danu Tetap Sulit Cari Kerja: Sampai Melamar Pawang Satwa
Terkini
-
AS Sebar Informasi Wajah Mojtaba Khamenei Terbakar hingga Sulit Bicara, Benarkah?
-
Heboh Usulan Purbaya Pungut Tarif di Selat Malaka, Malaysia Singgung 'Titipan' AS
-
Tragis! Bayi Kembar Jadi Korban Kekejaman Pemukim Israel di Tepi Barat Palestina
-
PKB: Usul KPK Soal Capres-Cawapres Wajib Kader Partai 'Pikiran Menarik'
-
Mengenal Amal Khalil, Jurnalis Pemberani yang Dibunuh Israel di Lebanon
-
Pungli Berjamaah di Dinas ESDM Jatim: 19 Pegawai Kembalikan Duit 'Panas' Rp707 Juta ke Jaksa
-
Pria Yahudi Ditangkap karena Pakai Kippah Bergambar Bendera Israel dan Palestina
-
Berlabel Pupuk! Polisi Sita 1,9 Ton Sianida Asal Filipina dari Kapal yang Kandas di Gorontalo
-
Tentara Khusus AS Ditangkap Usai Skandal Tahuran Rp 6,9 Miliar dalam Penangkapan Presiden Maduro
-
Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026