-
Warga Teheran mengalami trauma ganda akibat agresi militer asing dan tekanan rezim domestik.
-
Kelangkaan obat penenang dan lonjakan harga pangan memicu krisis kemanusiaan di ibu kota Iran.
-
Gencatan senjata dianggap sangat rapuh sementara kelompok disabilitas rentan kehilangan sumber bantuan dana.
Suara.com - Perang antara koalisi AS-Israel melawan Iran telah menciptakan paradoks emosional yang menghancurkan mentalitas penduduk sipil.
Meskipun otoritas tertinggi telah tumbang, masyarakat kini menghadapi kecemasan ganda antara trauma ledakan dan ketidakpastian masa depan.
Dikutip dari Skynews, banyak warga kini berjuang bertahan hidup di tengah kelangkaan kebutuhan pokok dan obat-obatan medis yang harganya melonjak drastis.
Kondisi ini diperparah dengan suasana kota yang mencekam meskipun secara formal sedang berada dalam masa gencatan senjata.
Rasa benci terhadap pemerintah lokal kini bersinggungan dengan ketakutan akan hancurnya kedaulatan negara oleh kekuatan militer asing.
"Saya perlu menggunakan pil saya (tetapi) obat-obatan dan pil di Iran sangat, sangat mahal saat ini dan itu menunjukkan sebagian besar orang berpikir persis seperti saya."
"Anda tidak dapat menemukan fluoxetine, Asentra, citalopram, dan obat-obatan (anti-kecemasan) lainnya di apotek. Itulah sebabnya saya pikir kebanyakan orang berada dalam situasi saya."
Masyarakat Teheran terpaksa menyimpan ketakutan mereka secara mandiri karena kontrol informasi yang sangat ketat dari pemerintah.
Hukum setempat bahkan mengkategorikan pembicaraan mengenai dampak pengeboman sebagai tindakan kriminal yang bisa berujung pidana.
Baca Juga: Italia Respon Usulan Gantikan Iran di Piala Dunia 2026
Hal ini menciptakan tekanan psikologis luar biasa bagi jutaan orang yang menyaksikan kehancuran bangunan di sekitar mereka.
Kehancuran Simbol Kekuasaan dan Memori Kelam
"Dari balkon saya di Teheran, saya melihat mereka mengebom rumah (pemimpin tertinggi) Ali Khamenei. Saya, yah, senang ketika dia meninggal karena dia membunuh begitu banyak dari kita selama kepemimpinannya. Saya berharap dia melihat putra-putranya meninggal karena dia telah membunuh begitu banyak putra orang lain."
"Saya pikir mereka harus berhenti (pemboman) karena begitu banyak orang yang meninggal. Kami tidak ingin mereka menghancurkan lebih banyak tempat. Tapi kemudian mereka mengebom gedung pengadilan tempat mereka menangkap saya. Itu adalah tempat di mana mereka memberi tahu ibu saya, 'kami ingin mengeksekusi putri Anda'."
"Saya sedang mengemudi ketika mengetahui bahwa tempat itu telah dibom. Bangunan itu hancur total dan semua orang di dalamnya tewas. Saya berhenti di jalan raya dan menangis sangat keras karena semua kenangan saya sebagai orang berusia 25 tahun, sebagai orang berusia 30 tahun."
Perasaan lega atas hancurnya institusi yang menindas mereka bercampur aduk dengan duka mendalam atas kehilangan identitas kota.
Berita Terkait
Terpopuler
- Tak Lagi Disamping Prabowo, Kursi Wapres Gibran Geser Sejajar Menteri di Sidang Kabinet
- Media Italia Bongkar Ada Kontrak Lebih dari Rp25 T di Balik Hibah Kapal Induk Giuseppe Garibaldi
- John Herdman Coret 27 Pemain Jelang Timnas Indonesia vs Kamboja di Piala AFF 2026
- Apa Sunscreen Terbaik untuk Flek Hitam pada Usia 50 Tahun? Ini 5 Rekomendasi sesuai Review
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
Pilihan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
-
Sudaryono Jabat Kepala BGN, Sudah Diworo-woro Istana Sejak Selasa Malam
Terkini
-
DPRD DKI Minta Pemprov Kebut Penataan Kabel Semrawut Jakarta, Jangan Tunggu Korban Lagi
-
Oknum Dokter RSUD dr Mohammad Zyn Sampang Ditangkap karena Nyabu
-
Pre Order di Blibli Tanggal 22 Juli Hingga 13 Agustus, Lihat Kelebihan Samsung Galaxy Z Flip 8
-
Misteri di Kamar Kos Metro: Menguak Tabir Kepergian Mendadak Dokter Muda Zulfikar
-
Museum Bank Indonesia Simpan Uang Antik Hampir 200 Tahun, BI Siapkan Transformasi ke Era Digital
-
Cek Toko On Flagship Store di Blibli Tersedia Banyak Model Terbaru
-
CLIK Kenalkan Skor Prediktif, Bank Kini Bisa Deteksi Calon Peminjam 3 Bulan Lebih Awal
-
Mengenal Universitas Republik Indonesia, Ambisi Pendidikan atau Beban Baru APBN?
-
Pre Order Samsung Galaxy Z Fold 8 di Blibli Tanggal 22 Juli hingga 13 Agustus, Cek Promo & Harganya!
-
Samsung Galaxy Watch Ultra2 vs Galaxy Watch9: Mana Smartwatch AI yang Paling Layak Anda Miliki?