-
Pete Hegseth membela biaya perang Iran senilai 25 miliar dolar di hadapan Kongres Amerika.
-
Menhan AS menyebut kritik dari politisi Demokrat sebagai hambatan terbesar bagi keberhasilan misi.
-
Anggota Kongres mengkritik lonjakan anggaran militer dan dampak ekonomi akibat blokade laut Iran.
Suara.com - Menteri Pertahanan Amerika Serikat Pete Hegseth secara tegas menampik tuduhan bahwa keterlibatan militer di Iran telah menjadi rawa kegagalan.
Ia menyampaikan pembelaan tersebut di hadapan Komite Angkatan Bersenjata DPR AS saat memaparkan rincian biaya operasi yang sudah mencapai angka 25 miliar dolar.
Dikutip dari Guardian, Hegseth justru melemparkan kritik tajam kepada para politisi di Washington yang mempertanyakan arah kebijakan luar negeri pemerintah saat ini.
Pihak Pentagon kini tengah mengupayakan persetujuan anggaran militer total sebesar 1,5 triliun dolar untuk memperkuat posisi global mereka.
“Lawan terbesar yang kita hadapi saat ini adalah kata-kata ceroboh, lemah, dan menyerah dari Partai Demokrat di Kongres dan beberapa dari Partai Republik,” ujar Hegseth.
Kepala Pejabat Keuangan Pentagon, Jules Hurst III, mengonfirmasi bahwa pengeluaran senilai 25 miliar dolar tersebut bersifat akumulatif dan terus bertambah.
Alokasi dana terbesar digunakan untuk penyediaan amunisi, pemeliharaan peralatan tempur, serta penggantian alutsista yang rusak di medan laga.
Meskipun biaya terus membengkak, Hegseth menilai operasi ini sebagai langkah krusial demi menjamin keamanan nasional warga Amerika Serikat.
Ia membandingkan ketahanan pasukan saat ini dengan sejarah panjang pengerahan militer di Vietnam, Irak, hingga wilayah Afghanistan.
Baca Juga: China Luncurkan Hiu Biru, Jet Tempur Siluman Penantang Pesawat F-35 Amerika Serikat
Hegseth tetap bangga dengan misi ini walaupun durasi konflik telah melampaui prediksi awal Donald Trump yang berkisar empat hingga enam minggu.
“Siapa yang Anda dukung di sini? Siapa yang Anda bela?” sergah Hegseth saat menanggapi kritik keras mengenai kompetensi kepemimpinan.
Anggota Kongres John Garamendi menyerang balik dengan menyebut kebijakan pemerintah sebagai bencana politik dan ekonomi di berbagai level.
Garamendi menilai Amerika Serikat kini terjebak dalam rawa peperangan baru di kawasan Timur Tengah akibat kesalahan langkah strategis.
“Presiden telah menjebak dirinya sendiri dan Amerika dalam quagmire perang lain di Timur Tengah,” kata Garamendi di ruang sidang.
Hegseth merespons dengan menyebut kritik tersebut sebagai materi propaganda yang menguntungkan musuh serta bentuk kebencian terhadap figur Trump.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
Henri Curiga Kasus Roy Suryo Dikebut, Sebut Ada Upaya Cegah Ijazah Jokowi Diuji di Pengadilan
-
Di Tengah Sorotan Ekonomi, Prabowo Minta Rosan Buka Data Masuknya Investasi Asing ke Indonesia
-
Sentil Polri di Kasus Roy Suryo, Henri Subiakto Sebut UU ITE Dipakai Tutupi Isu Ijazah Jokowi
-
Di Tengah Gelombang Kritik, Prabowo Sebut Investasi Asing ke Indonesia Terus Mengalir
-
Henri Subiakto Sebut Pasal yang Menjerat Roy Suryo Tak Masuk Akal, Status P21 Dipertanyakan
-
Trump Klaim Kesepakatan Damai AS-Iran Segera Ditandatangani, Teheran Beri Sinyal Berbeda
-
Apa Itu Restitusi? Wamen PPPA Tegaskan Korban Bullying Berhak Dapat Ganti Rugi
-
Bangun Spiritualitas Warga Jawa Barat, KDM Prioritaskan Bangun Tajuk di Lingkungan
-
Kejahatan Digital Kian Mengintai, Pemerintah Minta Anak Muda Hati-hati di Internet
-
Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan