News / Internasional
Kamis, 30 April 2026 | 08:51 WIB
Raja Inggris Charles III mencuri perhatian dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih setelah melontarkan serangkaian candaan yang membuat Presiden AS Donald Trump terbahak-bahak. [Istimewa]
Baca 10 detik
  • Donald Trump mengklaim Raja Charles III bakal mendukung Amerika Serikat dalam perang melawan Iran.

  • Presiden AS mengkritik Perdana Menteri Keir Starmer yang enggan membantu operasi militer di Iran.

  • Trump mengancam keluar dari NATO karena minimnya dukungan Eropa dalam konflik dengan pihak Iran.

Suara.com - Donald Trump meyakini Raja Charles III memiliki kecenderungan untuk menyokong langkah militer Amerika Serikat dalam menghadapi agresi Iran.

Keyakinan ini muncul di tengah keraguan sang Presiden terhadap komitmen politik pemerintahan sipil Inggris saat ini.

Trump memproyeksikan bahwa arah kebijakan luar negeri London akan lebih sejalan dengan Washington jika dipengaruhi oleh visi sang Raja.

Donald Trump [The White House]

Potensi keselarasan ini tidak hanya mencakup ketegangan di Timur Tengah, namun juga menyentuh strategi pertahanan di Ukraina.

Sinyal dukungan dari takhta Inggris dianggap menjadi angin segar bagi diplomasi militer Amerika yang sedang bergejolak.

"Jika itu terserah Raja Charles, dia mungkin akan membantu kami melawan Iran," kata Trump kepada wartawan pada Rabu (29/4).

Raja Inggris Charles III mencuri perhatian dalam jamuan kenegaraan di Gedung Putih setelah melontarkan serangkaian candaan yang membuat Presiden AS Donald Trump terbahak-bahak. [Istimewa]

Pernyataan tersebut secara implisit mengkritik ketidakhadiran dukungan nyata dari Perdana Menteri Inggris, Keir Starmer.

Trump merasa kecewa karena London sempat menolak untuk terlibat lebih jauh dalam eskalasi konflik antara AS dan Iran.

Perbedaan visi ini memicu perbandingan tajam yang dilakukan Trump terhadap figur kepemimpinan Inggris di masa lalu.

Baca Juga: Donald Trump Bersumpah Pertahankan Blokade, Iran Ancam Balasan Mengerikan

"Ini bukan Winston Churchill yang sedang kita hadapi," kata Trump.

Ketegangan antara Trump dan Starmer tidak hanya terbatas pada urusan keamanan internasional atau perang Iran.

Presiden AS tersebut turut melontarkan kritik pedas terhadap manajemen migrasi yang diterapkan oleh pemerintahan Starmer.

Selain masalah perbatasan, sektor kebijakan energi Inggris juga menjadi sasaran ketidaksenangan pihak Gedung Putih.

Trump menilai langkah-langkah yang diambil Inggris saat ini justru menjauhkan mereka dari status mitra strategis utama.

Ketidakpuasan ini semakin memperlebar jarak komunikasi politik antara kedua negara di kancah global.

Load More