- MGBKI menyoroti kematian dokter muda Myta Aprilia Azmy di RS K.H. Daud Arif, Jambi, sebagai indikasi kegagalan sistemik.
- Kegagalan tata kelola pendidikan kedokteran mencakup beban kerja berlebihan, jam kerja tidak manusiawi, serta minimnya supervisi klinis yang memadai.
- MGBKI menegaskan penghentian praktik intimidasi dan perlindungan terhadap peserta pendidikan agar keselamatan kerja dokter tetap menjadi prioritas utama.
Suara.com - Kematian dokter muda di Jambi, Myta Aprilia Azmy, memicu sorotan serius dari Majelis Guru Besar Kedokteran Indonesia (MGBKI). Mereka menilai peristiwa tersebut tidak bisa dipandang sebagai kasus individu semata.
Ketua MGBKI Budi Iman Santoso menyatakan, kasus yang menimpa dokter magang di Rumah Sakit K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi, itu harus dilihat sebagai indikasi persoalan sistemik.
“Peristiwa meninggalnya dokter ini tidak boleh dipandang semata sebagai kejadian individual, melainkan harus ditempatkan sebagai alarm keras terhadap kemungkinan adanya kegagalan sistem dalam tata kelola pendidikan kedokteran, supervisi klinis, keselamatan kerja, dan perlindungan peserta pendidikan," kata Budi dalam konferensi pers virtual, Minggu (3/5/2026).
Budi menegaskan bahwa peserta pendidikan kedokteran bukan tenaga kerja yang bisa dibebani tanpa perlindungan memadai.
"Peserta pendidikan kedokteran, termasuk dokter internsip, residen, dan peserta program pendidikan klinik lainnya, bukan tenaga kerja murah yang dapat dibebani tanggung jawab pelayanan tanpa perlindungan, supervisi, dan jaminan keselamatan yang memadai," tegasnya.
Lebih jauh, MGBKI menekankan setiap kejadian kritis harus diasumsikan sebagai kegagalan sistem hingga terbukti sebaliknya. Karena itu, tidak boleh ada victim blaming, intimidasi, atau penutupan informasi mengenai kejadian tersebut.
MGBKI juga secara tegas menyoroti praktik yang dinilai bermasalah dalam pendidikan klinik, mulai dari beban kerja hingga supervisi.
“Beban kerja berlebihan, jam kerja tidak manusiawi, penugasan tanpa supervisi adekuat, serta pembiaran terhadap kondisi sakit peserta pendidikan merupakan bentuk kegagalan tata kelola yang tidak dapat dibenarkan," tutur Budi.
Ia menegaskan bahwa MGBKI menolak segala bentuk tekanan terhadap peserta pendidikan yang menyuarakan keselamatan kerja.
Baca Juga: dr. Myta Aprilia Azmi Meninggal Diduga Overwork Saat Internsip, Ini Tuntutan Keras Alumni FK Unsri
“Setiap upaya menyalahkan korban, membungkam informasi, mengancam peserta pendidikan, atau memberikan sanksi administratif seperti perpanjangan masa pendidikan karena menyuarakan keselamatan kerja harus dihentikan.”
Myta Aprilia Azmy diketahui sedang menjalani Program Internship Dokter Indonesia di Rumah Sakit K.H. Daud Arif, Jambi. Dalam periode penugasannya, ia diduga tetap menjalankan jadwal jaga dengan intensitas tinggi, termasuk saat kondisi kesehatannya mulai menurun.
Ia dilaporkan sempat mengalami gejala seperti demam dan sesak napas, namun tetap bertugas di tengah keterbatasan istirahat dan beban kerja yang padat.
Kondisinya kemudian memburuk hingga akhirnya dirujuk ke RSUP Dr. Mohammad Hoesin untuk mendapatkan penanganan intensif. Meski sempat dirawat di unit perawatan intensif (ICU), nyawanya tidak tertolong dan dinyatakan meninggal dunia pada 1 Mei 2026.
Berita Terkait
-
dr. Myta Aprilia Azmi Meninggal Diduga Overwork Saat Internsip, Ini Tuntutan Keras Alumni FK Unsri
-
Misteri Kematian Dokter Internship dr. Myta, Kemenkes Didesak Lakukan Investigasi Menyeluruh
-
Jangan Asal Cuci! Begini Cara Merawat Sepatu Lari ala dr. Tirta Biar Tak Bau dan Lebih Awet
-
Nikmatnya Lumpia Bu Haji Jambi, Resep Legendaris Kini Tampil Modern
-
Ketika Sains Mengambil Ranah Tuhan: Eksistensi Kloning di Novel Frea
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Kecelakaan Beruntun di Pasaman, Dua Penumpang Luka-luka dan Sejumlah Kendaraan Rusak
-
Tragedi Proyek Sekolah Rakyat, 3 Pekerja Hanyut di Sungai Ogan Saat Menyeberang
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026