- Empat dokter internship meninggal dunia sejak Februari 2026 di berbagai wilayah, memicu sorotan terhadap sistem pendidikan kedokteran nasional.
- Beban kerja tinggi, jam jaga malam, dan tekanan karier menyebabkan kelelahan ekstrem serta gangguan kesehatan bagi para dokter muda.
- Direktur Pascasarjana Universitas YARSI mendesak pemerintah mengevaluasi sistem internship demi menjamin perlindungan, kesejahteraan, dan kualitas hidup tenaga medis.
Suara.com - Kematian empat dokter yang tengah menjalani program internship dalam beberapa bulan terakhir memicu sorotan terhadap sistem pendidikan kedokteran di Indonesia.
Direktur Pascasarjana Universitas YARSI, Tjandra Yoga Aditama, menilai kondisi ini tidak bisa dilepaskan dari tekanan kerja dan lemahnya perlindungan terhadap dokter muda.
Sejak Februari 2026, tercatat sudah empat dokter internship meninggal dunia, terbaru Myta Aprilia Azmy, dokter magang di Rumah Sakit K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi.
Tjandra menjelaskan bahwa pemagangan tersebut merupakan program wajib bagi lulusan baru yang sedang menjalani Program Internship Dokter Indonesia sebagai tahap transisi menuju praktik profesional.
Dari peristiwa tersebut, Guru Besar Ilmu Kedokteran sejak 2008 itu juga menyoroti ironi di tengah narasi kekurangan dokter di Indonesia. Menurutnya, kehilangan tenaga medis di fase awal karier justru memperparah persoalan layanan kesehatan.
“Kita tentu jadi amat bersedih karena di awal kariernya keempat dokter internship ini harus kehilangan nyawa mereka, padahal kalau mereka dilindungi dengan baik maka akan memberi peran dalam pelayanan kesehatan di negara kita," kata Tjandra dalam keterangannya, Senin (4/5/2026).
Menurutnya, kematian para dokter tersebut tidak bisa dilepaskan dari konteks pekerjaan selama menjalani internship.
Ia kemudian mengaitkan kondisi tersebut dengan temuan dalam jurnal internasional Medscape yang terbit 24 April 2026 berjudul “The Health Worker Paradox: When Caregivers Become Patients”. Artikel tersebut menggambarkan beratnya beban kerja dokter, mulai dari jam kerja panjang, tugas jaga malam, hingga tekanan pekerjaan yang berdampak pada kesehatan.
Menurutnya, tekanan tersebut berpotensi memicu stres tinggi, kelelahan berkepanjangan (burnout), hingga gangguan kesehatan fisik dan mental, terutama jika sistem kerja tidak mendukung.
Baca Juga: Ribuan Anak Jadi Korban, Pakar Ungkap Sejumlah Titik Kritis Penyebab Keracunan Massal MBG
Selain itu, ia menekankan posisi dokter internship yang masih junior membuat mereka rentan. Di sisi lain, ada tekanan untuk menyelesaikan program sebagai syarat melanjutkan karier profesional.
“Mereka jelas punya beban untuk menyelesaikan program internship sebagai salah satu syarat untuk kemudian dapat berprofesi selanjutnya sebagai dokter di masyarakat, jadi mereka jelas memerlukan selesainya program internshipnya walau apapun tantangan yang dihadapi," tuturnya.
Dalam konteks tersebut, Tjandra meminta pembuat kebijakan memberi perhatian pada tiga aspek utama dalam pelaksanaan program internship.
Pertama program untuk penjaminan mutu dan kesiapan dokter sebelum praktik mandiri. Kedua, penentu kebijakan harus memberikan perlindungan agar pada dokter internship dapat melakukan tugasnya dengan baik, tanpa tekanan fisik dan mental yang tidak perlu.
Ketiga, selama menjalankan tugas internship para dokter muda juga perlu terjamin kehidupannya.
Ia menegaskan, kematian para dokter muda tersebut harus menjadi titik evaluasi serius dalam sistem pendidikan kedokteran nasional.
Berita Terkait
-
Apa yang Harus Dilakukan jika Terkena Campak? Ini 8 Langkah Penting agar Tidak Menular
-
Indonesia Diminta Tiru Thailand Dalam Antisipasi Virus Nipah
-
Ribuan Anak Jadi Korban, Pakar Ungkap Sejumlah Titik Kritis Penyebab Keracunan Massal MBG
-
'Perang Terbuka' Menkes Vs Akademisi Kedokteran, Pakar: Amat Menyedihkan
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
Viral Lafaz Allah di Tokong, Polisi Tangkap Pemilik Toko Bangunan
-
Donald Trump Kerahkan Militer AS Kawal Kapal Sipil di Selat Hormuz Mulai Senin Pagi Ini
-
Abaikan Korban 72 Ribu Jiwa, Militer Israel Berencana Kembali Invasi Jalur Gaza
-
Mukjizat di Perkebunan Rambunan: 5 Hari Hilang di Hutan, Nenek 79 Tahun Ditemukan Selamat!
-
Iran Klaim AS Respons Proposal Perdamaian 14 Poin via Pakistan
-
Gunung Mayon Meletus, Ribuan Warga Filipina Dievakuasi dan 52 Desa Terdampak Abu
-
Banjir Rob Intai Pesisir Jakarta hingga 8 Mei, BPBD Minta Warga Siaga Tengah Malam
-
Usut Tragedi KRL Bekasi: Polisi Periksa Bos Taksi Green SM hingga Ditjen Perkeretaapian Hari Ini
-
Mahasiswa Kepung Jakarta Hari Ini: 3.225 Polisi Siaga di Titik Demo DPR, Kemendikti, hingga Gambir
-
Anggaran Pendidikan Tembus Rp19,75 Triliun, DPRD: Tak Boleh Ada Lagi Anak Putus Sekolah di Jakarta!