-
Tiga orang meninggal akibat dugaan wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius di Atlantik.
-
WHO sedang melakukan investigasi laboratorium dan evakuasi penumpang yang menunjukkan gejala klinis infeksi.
-
Penularan Hantavirus diduga berasal dari hewan pengerat dan dapat menyebabkan gangguan pernapasan parah.
Suara.com - Kematian tiga penumpang kapal pesiar di Samudra Atlantik diduga kuat akibat serangan wabah Hantavirus yang mematikan.
Organisasi Kesehatan Dunia atau WHO kini tengah menyelidiki penularan virus yang menyerang sistem pernapasan para pelancong tersebut.
Dikutip dari ABC Australia, insiden medis ini menjadi alarm serius bagi industri pariwisata laut karena melibatkan risiko penularan antarmanusia yang jarang terjadi.
Hantavirus umumnya berpindah ke manusia melalui sisa kotoran atau urine hewan pengerat yang terkontaminasi di area tertutup.
Hingga saat ini belum ditemukan obat spesifik untuk menyembuhkan infeksi virus yang memiliki tingkat fatalitas tinggi tersebut.
Satu pasien kini dilaporkan sedang berjuang melewati masa kritis di ruang perawatan intensif rumah sakit Afrika Selatan.
Otoritas kesehatan bergerak cepat mengevakuasi dua penumpang lainnya yang mulai menunjukkan gejala klinis serupa di atas kapal.
“Investigasi mendetail sedang berlangsung, termasuk pengujian laboratorium lebih lanjut dan investigasi epidemiologi,” kata WHO, dikutip dari CNN.
Langkah medis darurat terus diupayakan untuk mencegah penyebaran virus lebih luas di antara kru dan penumpang lain.
Baca Juga: Libur Lebaran, Tren Liburan Kapal Pesiar Mewah Jadi Primadona Baru
“Perawatan dan dukungan medis diberikan kepada penumpang dan awak pesawat. Pengurutan virus juga sedang berlangsung,” sambungnya.
Kapal pesiar MV Hondius berbendera Belanda tersebut terpantau sedang menepi di pelabuhan Praia, ibu kota Tanjung Verde.
Perjalanan yang semula direncanakan dari Argentina menuju Cape Verde berubah menjadi misi penyelamatan medis yang menegangkan.
Kematian pertama dialami oleh seorang pria lanjut usia yang mengembuskan napas terakhirnya di atas dek kapal.
Tak lama berselang istrinya juga dinyatakan meninggal dunia setelah sempat mendapatkan penanganan medis di Afrika Selatan.
Tim ahli laboratorium kini berfokus melakukan pengurutan virus guna memahami karakteristik genetik dari wabah yang muncul tersebut.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 HP Terbaru 2026 Baterai Jumbo 10.000 mAh: Tahan 3 Hari, Performa Kencang
- 5 Rekomendasi Serum Malam untuk Hempas Flek Hitam Usia 50 Tahun ke Atas
- Promo Alfamart Hari Ini 2 Mei 2026, Menang Banyak Diskon hingga 60 Persen Kebutuhan Harian
- Promo Indomaret Hari Ini 1 Mei 2026, Dapatkan Produk Hemat 30 Persen
- 5 Cushion Waterproof dan Tahan Lama, Makeup Awet Seharian di Cuaca Panas
Pilihan
-
Teror di London: Penembakan Brutal dari Dalam Mobil, 4 Orang Jadi Korban
-
RESMI! Klub Milik Prabowo Subianto Promosi ke Super League
-
Dibayar Rp50 Ribu Sebulan, Guru Ngaji di Kampung Tak Terjamah Sistem Pendidikan
-
10 Spot Wisata Paling Hits di Solo 2026: Paduan Sempurna Budaya, Estetika, dan Gaya Hidup Modern!
-
7 Sabun Mandi Cair Wangi Mewah yang Bikin Rileks Setelah Pulang Kerja, Ada yang Mirip Aroma Spa
Terkini
-
CSIS Soroti 5 Kali Reshuffle Kabinet Prabowo-Gibran, Dinilai Tanda Ketidakstabilan
-
Pergerakan Pesawat Militer AS Meningkat ke Timur Tengah, Sinyal Eskalasi Konflik?
-
Ancaman Keras Parlemen Iran ke Donald Trump, Intervensi Selat Hormuz Pelanggaran Gencatan Senjata
-
KPK Panggil Lagi Eks Staf Ahli Budi Karya Sumadi dalam Kasus DJKA
-
Siswa SMKN Samarinda Meninggal Diduga karena Sepatu Kekecilan, Menteri PPPA Minta Evaluasi Bansos
-
AS Luncurkan Operasi Project Freedom di Selat Hormuz, Klaim Jamin Stabilitas Pasokan Minyak Mentah
-
KPK Siap Hadapi Praperadilan Eks Wakil Ketua PN Depok di Kasus Suap Lahan
-
Anggota DPR Kecam Dugaan Pelecehan Seksual di Ponpes Pati, Desak Pelaku Segera Ditangkap
-
Wakil Ketua Komisi X DPR Desak Presiden Prabowo Hapus Cluster Guru, Minta Status Disatukan Jadi PNS
-
Proposal Iran Desak Penarikan Pasukan AS dan Pencabutan Blokade Selat Hormuz