News / Nasional
Senin, 04 Mei 2026 | 15:25 WIB
Ketua Badan Anggaran (Banggar) DPR RI Said Abdullah di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (1/9/2025). (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Said Abdullah mengkritik Amien Rais karena menyinggung hubungan pribadi Presiden Prabowo dengan Teddy Wijaya di ruang publik.
  • Pernyataan tersebut disampaikan Said di Kompleks Parlemen, Jakarta, pada Senin (4/5/2026) karena dianggap melanggar etika berpendapat.
  • Said menyarankan Amien Rais meminta maaf sebagai bentuk sikap negarawan agar informasi pribadi tidak menjadi sampah publik.

Suara.com - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Said Abdullah, mengkritik pernyataan Amien Rais yang menyinggung hubungan Presiden Prabowo Subianto dengan Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya. Ia menilai, membawa isu pribadi ke ruang publik melanggar etika.

Said bahkan mengaku terkejut dengan narasi yang disampaikan Amien Rais. Menurutnya, ranah privat tidak semestinya dijadikan bahan diskursus publik.

"Saya kaget juga pernyataan Pak Amien Rais, sebagai bagian dari tokoh yang kita kenang. Dari sisi etik, kita ini kan sebenarnya kan tidak boleh," ujar Said di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (4/5/2026).

Terkait kemungkinan adanya laporan hukum atas pernyataan Amien Rais  tersebut, Said menilai hal itu bisa menjadi pembelajaran agar para tokoh lebih berhati-hati saat menyampaikan pendapat yang menyasar pribadi.

"Kalau gua, lebih elegan ya seperti itu, supaya ini bagian dari katakanlah contoh agar di antara kita itu tidak mudah memberikan statement, judgment, kepada pribadi-pribadi. Kami, kami sangat menjaga kalau urusan ruang-ruang private," katanya..

Said juga mendukung langkah penurunan video yang memuat pernyataan tersebut. Ia menegaskan, konten yang mengeksploitasi ranah pribadi pejabat publik tidak memberikan manfaat.

"Karena itu, apa ya, ya menjadi sampah informasi publik saja," tegasnya.

Lebih lanjut, Said menyarankan agar Amien Rais tidak ragu menyampaikan permohonan maaf apabila terdapat kekeliruan. Menurutnya, langkah tersebut justru mencerminkan sikap seorang negarawan.

"Sebagai tokoh bangsa, benar dan salah, menyampaikan hal-hal yang baik, atau tiba-tiba slip lidah atau katakanlah alpa, kemudian meminta maaf, itu tidak akan menurunkan derajat ketokohan seseorang," pungkasnya.

Baca Juga: PDIP Dorong Dialog Terbuka Tentukan Ambang Batas Parlemen di RUU Pemilu

Load More