- Dosen Universitas Indonesia menekankan pentingnya mengubah pengetahuan literasi kebencanaan menjadi tindakan nyata bagi masyarakat di Indonesia.
- Universitas Indonesia dan TOA Indonesia meluncurkan program edukasi siaga bencana bagi 5.000 siswa sekolah dasar rawan bencana.
- Program ini menyediakan materi animasi dan sistem komunikasi darurat untuk membentuk kebiasaan evakuasi yang cepat serta tepat.
Suara.com - Literasi kebencanaan di Indonesia dinilai masih menghadapi tantangan besar, terutama dalam mendorong masyarakat untuk tidak hanya memahami informasi, tetapi juga mampu bertindak saat situasi darurat terjadi.
Dosen Geologi & Geofisika FMIPA Universitas Indonesia (UI), Asri Oktavioni Indraswari, menegaskan bahwa kesenjangan antara pengetahuan dan aksi masih menjadi pekerjaan rumah dalam upaya mitigasi bencana di Tanah Air.
“Tantangan terbesar dalam literasi kebencanaan bukan hanya pada penyampaian informasi, tetapi pada bagaimana masyarakat mampu menerjemahkannya menjadi tindakan,” ujarnya dalam acara peluncuran program edukasi siaga bencana di FMIPA UI, Depok.
Menurut Asri, pendekatan edukasi perlu dirancang lebih aplikatif dan kontekstual agar mudah dipahami oleh berbagai lapisan masyarakat, termasuk anak-anak. Karena itu, UI mengembangkan materi berbasis riset dan praktik lapangan, dengan merujuk pada berbagai studi internasional, termasuk dari Research Institute of Disaster Science (IRIDES) Tohoku University, Jepang.
Upaya ini diwujudkan melalui kolaborasi antara UI dan TOA Indonesia dalam program “When Knowledge Meets Readiness”, yang menyasar 5.000 siswa sekolah dasar di wilayah rawan bencana. Salah satu inisiatif utamanya adalah peluncuran dua video animasi edukasi berjudul “Aku Harus Apa?” yang mengangkat skenario kebakaran, gempa bumi, dan tsunami.
Melalui pendekatan visual yang sederhana, materi tersebut diharapkan dapat membantu anak-anak memahami langkah-langkah respons yang tepat saat terjadi bencana. Dengan begitu, edukasi tidak berhenti pada teori, tetapi juga membentuk kebiasaan bertindak cepat dan tepat sejak dini.
Selain edukasi, program ini juga mendorong penerapan sistem komunikasi darurat di lingkungan sekolah. Dukungan teknologi dari TOA Indonesia diharapkan dapat memperkuat sistem peringatan dini serta mempercepat penyampaian instruksi evakuasi saat kondisi darurat.
Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat lebih dari 4.700 kejadian bencana sepanjang 2025. Angka tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan masyarakat harus terus diperkuat, tidak hanya melalui informasi, tetapi juga melalui latihan dan pemahaman yang aplikatif.
Ke depan, kolaborasi antara UI dan TOA Indonesia diharapkan dapat menjangkau lebih banyak daerah dan memperluas dampak edukasi, sehingga budaya siaga bencana dapat terbentuk secara lebih kuat di tengah masyarakat.
Baca Juga: Solidaritas Sumut dan Sumbar Hibahkan Rp287 Miliar untuk Pemulihan Aceh
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan