- WHO mengonfirmasi wabah Hantavirus di kapal pesiar MV Hondius tidak akan berkembang menjadi ancaman pandemi global baru.
- Lima orang terinfeksi dan tiga penumpang meninggal dunia akibat Hantavirus selama pelayaran dari Argentina menuju Spanyol.
- WHO menyatakan risiko penularan antarmanusia masih terkendali dan terus melakukan pelacakan kontak terhadap seluruh penumpang kapal.
Suara.com - World Health Organization (WHO) memastikan wabah hantavirus yang muncul di kapal pesiar bukanlah sinyal awal pandemi baru.
Pernyataan ini muncul setelah sejumlah kasus terdeteksi di kapal ekspedisi yang membawa penumpang lintas negara.
Ahli epidemiologi WHO, Maria van Kerkhove menegaskan bahwa karakter penyebaran virus ini berbeda dengan pandemi sebelumnya.
"Ini bukan Covid, ini bukan influenza, penyebarannya sangat, sangat berbeda," ucap Van Kerkhove dalam konferensi pers dikutip dari laporab BBC.
Menurutnya Hantavirus umumnya menular melalui kontak dekat bahkan sampai taraf intim, berbeda dengan virus yang mudah menyebar lewat udara secara luas.
Kasus ini terdeteksi di kapal pesiar MV Hondius yang dioperasikan oleh Oceanwide Expeditions.
Kapal tersebut memulai perjalanan dari Ushuaia, Argentina, pada awal April dan dijadwalkan tiba di Kepulauan Canary, Spanyol, pada Mei.
Dari delapan kasus yang dicurigai, lima di antaranya telah dikonfirmasi sebagai Hantavirus.
Tiga orang dilaporkan meninggal dunia, termasuk seorang perempuan asal Belanda berusia 69 tahun. Dua korban lainnya, termasuk satu warga Jerman, masih dalam proses penyelidikan.
Baca Juga: The Bride Who Burned The Empire: Kisah Pemberontakan Seorang Putri
Yang menjadi perhatian, WHO menyebut adanya indikasi penularan antarmanusia dalam kasus ini, sesuatu yang jarang terjadi pada hantavirus yang biasanya berasal dari tikus.
Direktur Jenderal WHO, Tedros Adhanom Ghebreyesus menilai situasi ini masih terkendali.
Ia menyatakan bahwa WHO menilai risiko penyebaran penyakit itu masih terkendali dan kecil kemungkinannya berkembang menjadi ancaman besar atau pandemi saat ini.
"Dua orang pertama yang terkonfirmasi terinfeksi virus tersebut telah melakukan perjalanan melalui Argentina, Chili, dan Uruguay dalam pengamatan burung yang mencakup kunjungan ke lokasi di mana spesies tikus yang membawa virus itu berada," ujarnya.
Meski begitu, pelacakan kontak terus dilakukan terhadap puluhan penumpang yang telah turun dari kapal di berbagai lokasi, termasuk St Helena.
Mengingat masa inkubasi virus bisa mencapai enam minggu, potensi munculnya kasus tambahan tetap diwaspadai.
WHO juga merekomendasikan penggunaan masker di dalam kapal serta perlindungan ekstra bagi mereka yang melakukan kontak langsung dengan pasien.
Kasus ini menjadi pengingat bagi kawasan ASEAN dan dunia bahwa ancaman penyakit menular tetap ada, terutama di era mobilitas global tinggi. Namun, otoritas kesehatan menegaskan bahwa situasi ini belum mengarah pada krisis kesehatan global seperti pandemi sebelumnya.
Berita Terkait
-
3 Orang Meninggal Dunia, Kasus Pertama Hantavirus Ditemukan di Israel
-
Hantavirus Masuk Singapura? Dua Penumpang Kapal MV Hondius Diisolasi
-
Berada di MV Hondius, Youtuber Ruhi Cenet Bongkar Fakta Ngeri saat Hantavirus Tewaskan 3 Orang
-
Skenario Jahat Zionis Israel Terkuak! Ciptakan Krisis Malnutrisi di Gaza
-
Hantavirus Tewaskan 3 Orang, Bakal Jadi Pandemi? Ini Penjelasan Resmi WHO
Terpopuler
- 4 Sepatu Jalan Kaki Lokal Terbaik Harga Rp300 Ribuan Sesuai Review, Kualitas Jempolan
- Daripada Nyicil BeAT: Ini 5 Motor Keren Murah Bertenaga untuk Pelajar, Harga Mulai 5 Jutaan Saja
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Beroperasi Bertahun-tahun Tanpa Izin Resmi, Pabrik Pengolahan Oli Bekas di Tangerang Resmi Ditutup
- Suzuki Burgman 15 Sudah Ada di Dealer, Skutik Penantang NMAX dengan Layar TFT dan Traction Control
Pilihan
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
-
Resmi! Roy Suryo dan Dokter Tifa Tak Ditahan Jaksa, Ini Syarat yang Harus Dipenuhi
-
Sudewo Tolak Dakwaan Gabungan Kasus DJKA dan Perangkat Desa, Kuasa Hukum Sebut Langgar KUHAP!
-
Salah Sasaran Evaluasi: Menilai Program MBG Lewat Respons Anak Itu Absurd
Terkini
-
Deddy Sitorus soal Dugaan Suap BEM UBK: Orkestrasi Murahan, Pasti Ada Arahan dari Atas
-
Bantah Anggaran Chromebook Rp9,9 Triliun, Nadiem: Tak Sampai 1 Persen APBN di Kemendikbudristek
-
Iran - AS Sepakat Bikin 4 Kelompok Kerja Khusus Bahas Teknis Perdamaian
-
Nadiem Makarim Akui Cemas Saat Jadi Menteri, Rekrut Tim Inti untuk Bantu Birokrasi
-
Di Sidang Korupsi Chromebook, Nadiem Ungkap Ada Arahan Langsung Jokowi
-
Heboh Dugaan Suap BEM UBK, Guntur Romli Singgung Modus MBG 'Mahasewa diBayar Gibran'
-
Pramono Pastikan HUT Jakarta ke-499 Berlangsung Meriah, Tapi Tak Berlebihan
-
DPR Desak PLN Lindungi UMKM Terdampak Pemadaman Listrik, Minta Ada Kompensasi Kerugian
-
Desain Kawasan Suburban Dinilai Perparah Emisi, Mengapa?
-
Kronologi Munas Jelang Muktamar NU Ricuh, Pejabat Organisasi Pecah Pendapat