- Aliansi mahasiswa SRP-IPMADO menggelar aksi di depan Kantor Kementerian HAM pada 11 Mei 2026 menuntut pertanggungjawaban hukum.
- Massa menuntut transparansi atas kematian lima warga sipil serta anak-anak akibat tindak kekerasan militer di Kabupaten Dogiyai, Papua.
- Demonstran menyampaikan 19 tuntutan, termasuk penarikan seluruh aparat militer serta penghentian proyek strategis nasional di wilayah Tanah Papua.
Suara.com - Gelombang protes terkait situasi keamanan di Tanah Papua kembali memuncak. Aliansi mahasiswa yang tergabung dalam SRP-IPMADO Se-Jawa Bali menggelar aksi massa di depan Kantor Kementerian Hak Asasi Manusia (HAM), menuntut pertanggungjawaban atas rentetan kekerasan yang menewaskan warga sipil, termasuk anak-anak di Kabupaten Dogiyai.
Dalam orasi yang berlangsung emosional, orator aksi menegaskan bahwa kehadiran militer di Bumi Cendrawasih bukan membawa kesejahteraan, melainkan ancaman bagi nyawa orang asli Papua (OAP).
“Bagaimana militer yang datang ke tanah Papua adalah pembunuh kita semua, masyarakat Papua. Dengan dalih kesejahteraan, keadilan, dan lain-lain sebagainya, mereka merampas harta kita, merampas kekayaan kita, lalu menuduh kita sebagai kelompok separatis," teriak salah satu orator di atas mobil komando, Senin (11/5/2026).
Fokus utama aksi ini adalah menuntut transparansi hukum atas tewasnya lima warga sipil di Dogiyai. Dalam pernyataan sikapnya, massa menyoroti gugurnya remaja dan anak di bawah umur yang dianggap sebagai kelompok rentan.
"Mendesak pertanggungjawaban hukum yang transparan atas meninggalnya lima orang warga sipil termasuk remaja berusia 19 tahun seperti Septianus ST, Tibakoto, Angki Ngadowai, dan Ferdinand Auwe di Kabupaten Dogiyai," ujar Oktowimelek Gobay membacakan poin pernyataan sikap di depan Kantor Kementerian HAM, Senin (11/5/2026).
Mereka juga mengutuk keras penembakan terhadap Martinus Yobee, seorang anak berusia 11 tahun, serta Michael Waine (11) dan seorang lansia, Mama Yulita Pigai (70), yang tewas di tempat.
19 Tuntutan: Dari Tarik Militer Hingga Tolak PSN
Tak hanya soal kekerasan fisik, massa juga menyoroti ancaman “genosida perlahan” melalui proyek-proyek investasi skala besar. Dalam dokumen tertulisnya, mereka menyebut Papua sedang mengalami ekosida dan etnosida akibat hutan yang dirusak oleh tambang dan Proyek Strategis Nasional (PSN).
Setidaknya ada 19 poin tuntutan yang dibawa, di antaranya:
- Menarik militer organik dan non-organik dari seluruh Tanah Papua.
- Menghentikan operasi militer di Puncak Jaya dan Mimika.
- Menutup perusahaan asing seperti PT Freeport Indonesia dan BP LNG Tangguh.
- Menghentikan proyek PSN di seluruh Indonesia, termasuk Merauke.
- Memberikan hak penentuan nasib sendiri (self-determination) bagi bangsa Papua.
"Hidup rakyat yang dikorbankan! Hidup bangsa Papua! Hidup kawan-kawan Indonesia yang melawan!" seru massa sembari mengepalkan tangan kiri ke udara.
Baca Juga: Andrie Yunus Tolak Hadiri Sidang Kasus Penyiraman Air Keras
Desakan kepada Komnas HAM
Massa juga menuntut Komnas HAM RI untuk segera mengungkap fakta jujur mengenai pembunuhan aparat yang kerap dijadikan dalih untuk melakukan “Operasi Balas Dendam” atau operasi represif terhadap warga sipil yang tidak bersalah.
Aksi yang berlangsung di bawah pengawalan ketat aparat keamanan ini ditutup dengan pekikan tegas mengenai status politik Papua.
"Papua? MERDEKA! Papua? MERDEKA!” tutup mereka sebelum membubarkan diri.
Hingga berita ini diturunkan, pihak Kementerian HAM maupun perwakilan pemerintah belum memberikan tanggapan resmi terkait 19 poin tuntutan yang diajukan oleh massa SRP-IPMADO Se-Jawa Bali tersebut.
Reporter: Dinda Pramesti K
Berita Terkait
-
Andrie Yunus Tolak Hadiri Sidang Kasus Penyiraman Air Keras
-
Musamus, Arsitektur Alam Papua yang Terancam Ekspansi Proyek Besar
-
Andrie Yunus Tolak Bersaksi di Sidang Militer, KontraS: Kasus Air Keras Itu Pidana Umum!
-
KontraS Kritik Hakim Pengadilan Militer yang Ancam Pidanakan Saksi Korban Andrie Yunus
-
Yusril Ingatkan Hakim Militer di Kasus Andrie Yunus: Jangan Sekadar Formalitas
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Karhutla Sumsel Mencapai 1.926 Hektare, Ancaman Besarnya Justru Setelah Api Padam
-
Karhutla Sumsel Tembus 664,97 Hektare, 1.077 Kejadian Tercatat hingga Agustus
-
Bank Sumsel Babel dan Kodam II/Sriwijaya Perkuat Akses Layanan Keuangan Prajurit
-
Menteri Kebudayaan Fadli Zon Beberkan Alasan Geser Konser GBN dari Kota Tua ke Kabupaten Bogor
-
Polrestabes Bandung: Sopir Truk Jadi Tersangka Tabrak Lari yang Tewaskan Polisi
-
Cara Dapat Diskon Tiket Gaia Music Festival 2026 Pakai BRImo
-
Beli Produk Nespresso Pakai BRI Bisa Hemat Rp750 Ribu
-
InJourney & Garuda Indonesia Kolaborasi: Gratiskan 170.845 Tiket Domestik Bagi Wisatawan Mancanegara
-
InJourney & Garuda Indonesia Perkuat Konektivitas dan Kunjungan Wisatawan Mancanegara ke Indonesia
-
Kasus PETI Kuansing, Polisi Sita Ratusan Gram Perhiasan di Toko Emas Kampar