- Rumah bersejarah milik Pahlawan Nasional Prof. dr. Sardjito di Yogyakarta kini tengah ditawarkan untuk dijual kepada publik.
- Penjaga rumah berharap institusi pendidikan seperti UGM atau UII membeli bangunan tersebut guna melestarikan nilai sejarahnya.
- Upaya penjualan dilakukan untuk mengantisipasi konflik ahli waris serta mencegah alih fungsi menjadi tempat komersial seperti kafe.
Suara.com - Rumah peninggalan Pahlawan Nasional Sardjito di Jl. Cik Di Tiro No. 16, Terban, Yogyakarta, tengah menjadi perhatian publik. Hal itu menyusul kabar penjualannya yang beredar luas melalui media sosial.
Di balik informasi itu, rumah yang pernah menjadi kediaman rektor pertama Universitas Gadjah Mada (UGM) tersebut bukan sekadar bangunan tua, melainkan jejak sejarah panjang pendidikan dan kesehatan di Indonesia.
Menjaga Rumah Sejak 1980
Bagi Budhi Santoso, kerabat sekaligus orang yang sudah puluhan tahun menjaga rumah tersebut, tersimpan memori panjang tentang diskusi kebangsaan hingga pelestarian obat tradisional peluruh batu urin, Calcusol.
Pria berusia 70 tahun itu menceritakan bagaimana takdir mempertemukannya dengan keluarga sang profesor. Ia menjelaskan bahwa kakak kandungnya, Hani, merupakan istri dari Pek Poedjioetomo, putra tunggal Prof. dr. Sardjito.
Dari situlah ia kemudian dipercaya mendampingi keluarga besar tersebut. Kepercayaan itu pula yang membuat Budhi menjaga rumah tersebut sejak 1980, saat usianya masih 24 tahun.
Ketika itu, putra tunggal Prof. Sardjito sedang berada di luar negeri dan rumah tersebut kosong. Karena itu, ia diminta menemani Ibu Sardjito sekaligus menjaga berbagai usaha keluarga.
"Akhirnya saya diberi tugas suruh menemani Ibu Sardjito. Waktu itu saya usianya 24 (tahun) mungkin," kata Budhi saat ditemui di rumah Prof. dr. Sardjito, Rabu (13/5/2026).
Selama lebih dari 45 tahun, ia merasa rumah itu bukan hanya tempat tinggal, tetapi juga amanah sejarah yang harus dijaga.
Tak hanya menjaga rumah, ia juga dipercaya melanjutkan usaha obat tradisional warisan Prof. Sardjito bernama Calcusol, jamu peluruh batu urin yang sudah dikenal sejak lama. Dari usaha itu, ia membangun PT Perusahaan Jamu Tradisional (PJT) Dr. Sardjito-Yogyakarta.
Baca Juga: Living Walls: Saat Dinding Hotel di Yogyakarta Berubah Jadi Galeri Seni dengan Sentuhan Naive Art
Ia merintis semuanya dari nol hingga pernah mencapai masa kejayaan sekitar 2005 dengan jumlah karyawan mencapai 43 orang. Kini, seiring perubahan zaman dan regenerasi keluarga, jumlah pegawai tersisa sekitar 14 orang.
"Gelombang regenerasi sekarang tinggal 14 orang. Ya itu kita syukuri aja ya," ucapnya.
Regenerasi dan Kekhawatiran Soal Warisan
Budhi menyebut dirinya telah melewati empat generasi keluarga Prof. Sardjito, mulai dari istri Prof. Sardjito, putranya, cucunya, hingga kini buyutnya.
Menurutnya, persoalan warisan sering kali menjadi titik rawan ketika usaha keluarga sudah masuk generasi ketiga dan keempat.
Ia menilai banyak usaha keluarga besar yang runtuh karena persoalan tersebut. Oleh karena itu, sejak usia 50 tahun, ia mengaku sudah membagi aset pribadinya kepada anak-anaknya agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.
Menurutnya, rumah Prof. Sardjito pun menghadapi tantangan serupa, apalagi jika ahli waris tidak mampu merawatnya dengan baik karena tidak tinggal di rumah tersebut.
Berita Terkait
-
Living Walls: Saat Dinding Hotel di Yogyakarta Berubah Jadi Galeri Seni dengan Sentuhan Naive Art
-
Banjir Air Mata, Nonton Duluan Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Sukses Mengharu Biru
-
Harga Plastik Naik? Simple Cycle Jogja Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai
-
Jadi Peternak Kambing tapi Berizin Direktur, WNA Myanmar Terancam Deportasi dari Yogyakarta
-
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
Terpopuler
- Siapa Ginka Febriyanti yang Kini jadi Komisaris Pertamina Retail
- 4 Sepatu Lari Ardiles Terbaik Paling Laris di Shopee, Lengkap Review dan Harganya
- 5 HP Memori 256 GB Harga di Bawah Rp2 Juta, Bisa Simpan Ribuan File dan Gaming
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
Pilihan
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
-
Lagi! Peserta Latsarmil Kopdes Merah Putih Meninggal, Rifki Renaldi Jadi Korban Ke-4
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
Terkini
-
Kepercayaan Rakyat ke Polri Meroket, Rudianto Lallo: Modal Besar Tingkatkan Pelayanan
-
Kepercayaan Publik ke Polri Tembus 82,4 Persen, Sari Yuliati: Hasil Kerja Nyata dan Konsistensi
-
Pilih Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta, Zulhas: Artis Itu Kreatif dan Kerjanya Produktif
-
HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
-
Malam Minggu Spesial di Bundaran HI: Warga Rayakan HUT Jakarta ke-499 Sambil Nonton Konser
-
Soroti Ketimpangan Distribusi MBG, Garuda Institute Dorong BGN Perkuat Akurasi Sasaran
-
Taruna Akmil Masuk Sekolah Rakyat, Amnesty Khawatir Siswa Jadi Korban Militerisasi Pendidikan
-
Resmi! Zulhas Lantik Uya Kuya Pimpin PAN Jakarta Gantikan Eko Patrio
-
GMNI Desak Pemerintah Hentikan Total Program Kopdes Merah Putih: Jangan Boroskan APBN
-
Kemenhan Akui 32 Peserta Hamil Sempat Ikut Latsarmil SPPI, Akhirnya Dipulangkan