- Rumah bersejarah milik Pahlawan Nasional Prof. dr. Sardjito di Yogyakarta kini tengah ditawarkan untuk dijual kepada publik.
- Penjaga rumah berharap institusi pendidikan seperti UGM atau UII membeli bangunan tersebut guna melestarikan nilai sejarahnya.
- Upaya penjualan dilakukan untuk mengantisipasi konflik ahli waris serta mencegah alih fungsi menjadi tempat komersial seperti kafe.
Ia merasa lebih baik rumah itu dikembalikan pada fungsi sejarahnya.
"Akhirnya dulu sudah saya beranikan dengan berat hati saya sampaikan pada ahli waris semuanya karena hanya dua, mereka setuju kalau ini dilepas," ujarnya.
Harapan Rumah Dimanfaatkan UGM-UII
Budhi mengaku sejak lama telah mendorong agar rumah tersebut dibeli untuk dimanfaatkan oleh UGM maupun Universitas Islam Indonesia (UII).
Alasannya sederhana, kata dia, rumah ini memiliki nilai sejarah besar. Tak hanya pernah menjadi rumah dinas rektor pertama UGM, tetapi juga berkaitan dengan perjalanan Prof. Sardjito sebagai tokoh pendidikan nasional.
Ia menyebut Soekarno, Mohammad Hatta, Sri Sultan Hamengkubuwono IX, hingga ayah Presiden Prabowo Subianto pernah datang ke rumah tersebut.
"Pak Karno, Sri Sultan Hamengkubuwono, Pak Hatta tuh dan yang lain termasuk ayahnya Bapak Prabowo yang sekarang Presiden pernah ke sini," tuturnya.
Baginya, rumah itu idealnya bisa difungsikan kembali sebagai rumah dinas rektor, museum Prof. dr. Sardjito, atau rumah pelayanan sosial seperti puskesmas. Semua itu, menurutnya, masih selaras dengan semangat pengabdian Prof. Sardjito semasa hidupnya.
"Sayang kalau ngga dibeli UGM sayang sekali," ucapnya.
Sudah Ditawarkan ke Sejumlah Tokoh dan Institusi
Sebelum kabar penjualan rumah itu ramai di media sosial, Budhi mengaku telah lebih dulu berupaya menawarkan rumah peninggalan Prof. dr. Sardjito tersebut kepada sejumlah pihak yang dinilainya mampu menjaga nilai sejarah bangunan itu. Ia menyebut UGM dan UII menjadi pihak pertama yang ia dekati.
Baca Juga: Living Walls: Saat Dinding Hotel di Yogyakarta Berubah Jadi Galeri Seni dengan Sentuhan Naive Art
Menurutnya, rumah itu akan jauh lebih tepat jika kembali dikelola oleh institusi pendidikan yang memiliki kedekatan sejarah dengan Prof. Sardjito. Bahkan, Rektor UGM disebut pernah datang langsung untuk melihat kondisi rumah tersebut.
"Sudah, Bu Rektor (UGM) sudah ke sini kok," ucapnya.
Selain kampus, Budhi juga mencoba menawarkan rumah itu kepada mantan Wali Kota Yogyakarta Herry Zudianto, wali kota saat ini, hingga DPRD Kota Yogyakarta melalui jalur pribadi dan relasi. Ia berharap Pemerintah Kota Yogyakarta dapat mengambil alih rumah itu agar tetap menjadi bagian dari sejarah kota.
Tak hanya itu, ia turut menghubungi dua alumni UGM yang telah menjadi dokter ternama serta sejumlah pejabat di Yogyakarta. Secara keseluruhan, menurutnya sudah ada sekitar 10 pihak yang ia dekati secara personal.
Meski begitu, hingga kini belum ada keputusan final dari ahli waris. Budhi menegaskan dirinya hanya berusaha memastikan rumah tersebut jatuh ke tangan pihak yang tepat, bukan sekadar pembeli dengan penawaran tertinggi.
"Kalau saya tuh sudah berusaha ada sepuluh ya mudah-mudahan dalam waktu dekat yang membeli orang yang terbaik yang tahu rumah ini. Sehingga fungsinya tidak jauh berbeda," tandasnya.
Jangan Sampai Jadi Kafe
Hal yang paling ia khawatirkan adalah jika rumah bersejarah itu justru jatuh ke tangan pihak yang menjadikannya tempat usaha komersial seperti kafe. Baginya, hal itu terasa tidak pantas untuk rumah seorang pahlawan nasional.
Budhi mengaku akan sangat berat menerima jika rumah itu berubah fungsi menjadi ruang hiburan yang kehilangan ruh sejarahnya. Oleh sebab itu, ia lebih memilih rumah tersebut tetap menjadi hunian pribadi atau dikelola institusi yang mampu menjaga nilai sejarahnya.
"Tapi maaf kalau ini dibeli sama orang asing ya entah siapapun nek dinggo (kalau dipakai) kafe saya tuh susah (menerima), ngelus dada," ujarnya.
Beberapa waktu lalu, Budhi bahkan sempat menegaskan kepada seorang broker agar tidak memasang spanduk penjualan di depan rumah. Sebagai Ketua RW di lingkungan tersebut, ia merasa tidak nyaman jika rumah Prof. Sardjito dipasarkan secara vulgar.
Rumah Warisan Budaya
Secara status, rumah tersebut merupakan bangunan warisan budaya. Artinya, bangunan induk tidak boleh diubah bentuknya, sementara renovasi hanya diperbolehkan pada bagian tambahan.
"Jadi gini rumah induk yang gini itu tidak boleh diubah. Ketika pemiliknya ubah dendanya Rp500 juta," tandasnya.
Menurut Budhi, sekitar 60 persen kondisi rumah masih asli sejak masa Prof. Sardjito, termasuk genteng, kayu-kayu utama, mebel, hingga beberapa lemari tua.
Selain itu, masih ada pula keris peninggalan Prof. Sardjito yang disimpan rapi di dalam lemari sudut ruangan.
"Aslinya ya kira-kira masih 60 persen masih ada, ngga pernah diubah ini hanya belakang yang diubah, kalau induknya belum pernah. Genteng zaman dulu itu, kayu-kayu juga," tuturnya.
Dengan luas tanah mencapai 1.206 meter persegi dan bangunan sekitar 800 meter persegi, rumah itu berdiri sebagai saksi sejarah panjang Yogyakarta.
Bagi Budhi, rumah itu bukan sekadar aset yang kini ditawarkan dengan nilai mencapai miliaran rupiah, melainkan simbol warisan yang seharusnya dijaga dengan hormat.
Berita Terkait
-
Living Walls: Saat Dinding Hotel di Yogyakarta Berubah Jadi Galeri Seni dengan Sentuhan Naive Art
-
Banjir Air Mata, Nonton Duluan Film Yang Lain Boleh Hilang, Asal Kau Jangan, Sukses Mengharu Biru
-
Harga Plastik Naik? Simple Cycle Jogja Ubah Sampah Jadi Produk Bernilai
-
Jadi Peternak Kambing tapi Berizin Direktur, WNA Myanmar Terancam Deportasi dari Yogyakarta
-
Jogja yang Romantis bagi Pelajar, tapi Terasa Pedih bagi Pekerja
Terpopuler
- 4 Rekomendasi Merk Rice Cooker yang Awet dan Bagus untuk Pemakaian Jangka Panjang
- Feng Shui Rumah Menghadap Utara, Lakukan 4 Tips Ini agar Energi Seimbang dan Bawa Hoki
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Warga Teror Pekerja Stadion Sudiang, Pembangunan Tribun Selatan Terpaksa Ditinggalkan
- 5 Pilihan HP Samsung RAM 12 GB Agustus 2026, Performa Ngebut Anti Lag
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Bukan Tambang, Ini Sektor yang Diam-Diam Dorong Ekonomi Sumsel 5,20 Persen
-
Indonesia Punya Potensi Besar Kembangkan Kripto Syariah
-
5 Rekomendasi Bedak Ringan untuk Remaja Sekolah yang Hasilnya Natural dan Tidak Dempul sesuai Review
-
Rekam Jejak Jebolan Liga India yang Jadi Pelatih Anyar Bhayangkara FC Gantikan Paul Munster
-
Kata BMKG, Penurunan Kualitas Udara Pekanbaru Bukan karena Karhutla
-
KMP Putri Yasmin Terbakar, 212 Orang Dievakuasi, SAR Masih Cari Korban
-
Bos BI Berganti, Grace Natalie PSI Tegaskan Independensi Institusi Tak Boleh Goyah
-
DPRD DKI Soroti Izin Penjualan Miras di Festival Musik, Buntut Kasus Viral The Sounds Project
-
Bosan Lari Gitu-Gitu Aja? Coba 5 Spot Jogging di Jogja Ini, Suasananya Asri Banget!
-
Luas Karhutla Riau Capai 15 Ribu Hektare Selama Januari-Juli 2026