-
Peluang gencatan senjata Rusia-Ukraina 2026 diprediksi mencapai lebih dari 50 persen tahun ini.
-
Ukraina berhasil memproduksi 70 persen kebutuhan militer secara mandiri di tengah krisis suplai Barat.
-
Tekanan ekonomi dan instabilitas domestik memaksa Kremlin mulai mempertimbangkan opsi penghentian perang.
Suara.com - Peluang berakhirnya kontak senjata antara Rusia dan Ukraina diprediksi semakin menguat menjelang paruh kedua tahun 2026. Kombinasi antara kemandirian militer Kyiv dan krisis internal di Kremlin menjadi faktor penentu penghentian perang ini.
Kebuntuan di garis depan pertempuran memaksa kedua belah pihak mempertimbangkan opsi diplomasi untuk mencegah kerugian lebih lanjut. Rusia mulai kehilangan momentum serangan meski diuntungkan oleh lonjakan harga komoditas energi global saat ini.
Ukraina justru menunjukkan taji dengan menghancurkan jalur logistik minyak di wilayah kedaulatan Rusia, termasuk pelabuhan Tuapse.
Langkah berani ini memicu penurunan stabilitas domestik Rusia hingga memaksa pemerintah membatasi akses internet seluler.
Mantan utusan AS, Kurt Volker, menyebut bahwa militer Ukraina kini berada dalam posisi yang jauh lebih tangguh.
Ketergantungan Kyiv terhadap pasokan senjata dari negara-negara Barat dilaporkan telah menurun secara signifikan secara sistematis.
"Ukraina kini mampu memenuhi sekitar 60 hingga 70% kebutuhan militernya sendiri," ujar Volker terkait ketahanan pertahanan Ukraina, dikutip dari DW Jerman.
Angka ini menjadi jaminan bagi Kyiv untuk tetap bertahan meskipun perhatian Amerika Serikat terpecah ke wilayah Teluk.
Pengalihan fokus Gedung Putih terhadap konflik Iran dan Israel memang sempat memicu kekhawatiran serius di internal Ukraina. Namun, transformasi industri pertahanan dalam negeri memungkinkan mereka beroperasi meski tanpa bantuan rudal Patriot yang mulai terbatas.
Baca Juga: Dokumen UFO AS Bongkar Dugaan Kebohongan Rusia 25 Tahun Lalu, Apa Itu?
Ketidakpastian politik di Amerika Serikat menjelang pemilu sela menjadi variabel yang sangat memengaruhi durasi perang ini. Kebijakan Donald Trump yang lebih memprioritaskan isu Iran dan Kuba mulai menekan posisi tawar Ukraina secara politik.
Zelenskyy mengakui adanya tekanan dari Washington agar pasukannya mundur dari wilayah Donbass sebagai syarat damai sementara.
Evelyn Farkas dari McCain Institute menilai desakan tersebut adalah bentuk manuver politik yang akan diuji pasca-pemilu November.
"Hal itu bisa cukup untuk menekan pemerintah AS agar tetap melanjutkan dukungan kepada Ukraina dan NATO," tegas Farkas.
Jika dominasi Republik melunak setelah pemilihan, aliran bantuan untuk membendung pengaruh Rusia diprediksi akan kembali stabil.
Pakar militer melihat bahwa mengakhiri perang melalui kemenangan total di medan tempur adalah hal yang mustahil dilakukan.
Berita Terkait
Terpopuler
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- HBL Mantiri Dikukuhkan jadi Ketua BPP PPAD Gantikan Try Sutrisno
- 5 Motor Teririt untuk Buruh dan Pelajar, Dompet Tetap Aman Meski Pakai Pertamax
- 10 Promo Sepatu Lari di Sports Station: Adidas, Reebok, dan New Balance Mulai Rp299 Ribuan
Pilihan
-
Takut PHK, Prabowo Putuskan Harga LNG untuk Industri USD 13/MMBTU
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
Terkini
-
Bertemu Dony Oskaria, KPK Minta Pejabat BUMN Bandel Tak Lapor LHKPN Disanksi
-
Gelar Budaya Jokowi Disorot, Dinilai Jadi 'Senjata' Politik Incar Masyarakat Paternalistik
-
Satu Tahun Menuju 5 Abad, Apakah Jakarta Sudah Layak Kota Global?
-
Sekjen Golkar: Pasar Tak akan Goyang Hanya Karena Gaya Pidato Prabowo
-
Rp1,1 Triliun Anggaran Pendidikan Jakarta Tak Terserap, DPRD: Harusnya Bisa untuk Sekolah Gratis
-
Kisah Yunita Bangun Dear June Official, Dari Satu Penjahit Hingga Tembus Pasar Singapura
-
Rantai Hingga Alat Bor Jadi Bukti, Ini Sederet Alat Siksa Penyekapan di Percetakan Senen
-
Kasus Lagu 'Di Antara Kata' Memanas, Syahravi Balik Laporkan Fariz RM ke Polisi
-
Syahravi Bantah Langgar Hak Cipta Lagu Fariz RM, Tunjukkan Video Dipuji Sang Musisi
-
Balita Tewas Terperosok Lubang Proyek di Manggarai, Pramono: Jika Ingin Menuntut, Kami Persilakan