- Aliansi Jurnalis Independen mengungkapkan maraknya intimidasi dan serangan digital terhadap jurnalis Indonesia saat meliput isu sensitif di lapangan.
- Peliputan kritis terkait program Makan Bergizi Gratis, Proyek Strategis Nasional, dan isu keadilan sosial memicu ancaman bagi jurnalis.
- Ketua Umum AJI, Nany Afrida, menyatakan bahwa kebebasan pers semakin terancam dengan munculnya tantangan baru seperti Koperasi Merah Putih.
Suara.com - Profesi jurnalis di Indonesia tampaknya sedang tidak baik-baik saja. Aliansi Jurnalis Independen (AJI) membeberkan sejumlah isu krusial yang kini menjadi 'momok' menakutkan bagi para pemburu berita di lapangan.
Ketua Umum AJI, Nany Afrida, mengungkapkan bahwa berdasarkan hasil riset terbaru dari Jurnalis Aman, setidaknya ada tiga plus satu isu sensitif yang kerap berujung pada intimidasi hingga serangan digital (doxing) terhadap jurnalis yang berani menyuarakannya.
Isu pertama yang belakangan ini sangat menyedot perhatian adalah program Makan Bergizi Gratis (MBG). Menurut Nany, setiap kali ada jurnalis yang mencoba melakukan liputan kritis atau mendalam terkait MBG, mereka hampir selalu berhadapan dengan masalah hukum maupun non-hukum.
"Kemarin baru-baru yang lalu itu, Suara Surabaya, kemudian juga disambung dari satu media alternatif, itu juga mengalami doxing karena mereka menulis tentang 200 anak-anak terkena keracunan MBG. Langsung di-doxx," ujar Nany saat konferrnsi pers dengan Amnesty Internasional, di Jakarta, Selasa (19/5/2026).
Tak berhenti di serangan digital, Pemimpin Redaksi (Pemred) dari media yang bersangkutan bahkan mengaku mengalami intimidasi nyata setelah berita tersebut mencuat ke publik.
Kemudian isu kedua, mengenai Proyek Strategis Nasional (PSN). Nany mengatakan, jurnalis yang meliput ketimpangan atau konflik agraria di area PSN menjadi investasi ancaman yang besar.
Nany menyebutkan, jurnalis yang berani vokal meliput borok di balik pembangunan PSN kerap mendapatkan stempel negatif yang menyerang personal maupun profesionalisme mereka.
"Jurnalis yang berani meliput itu pasti akan diembel-embeli antek asing, pengkhianat, tidak nasionalis, hingga dituduh tidak mendukung pembangunan dan yang lain-lain," ujarnya.
Momok ketiga yang tidak kalah ngeri merupakan isu keadilan sosial atau social justice. Nany menyoroti bagaimana fakta di lapangan kerap dikaburkan oleh pihak-pihak tertentu demi menggiring opini publik, salah satunya berkaca pada kasus penyiraman air keras yang menimpa Andrie Yunus.
Baca Juga: Israel Bajak Global Sumud Flotila di Laut Internasional, Netanyahu Bangga Tangkap Aktivis Gaza
Dalam pusaran isu ini, narasi di media sosial sering kali dibolak-balik sedemikian rupa hingga mengaburkan kebenaran yang hakiki.
"Kasus Andrie Yunus ini bisa lihat kan, bagaimana dibolak-balik, bolak-balik sampai orang tidak tahu mana yang benar sebenarnya," tambah Nany.
Selain tiga isu utama di atas, AJI juga memberikan catatan merah pada satu isu baru yang diprediksi akan memukul mundur kebebasan pers di Indonesia, yakni terkait Koperasi Merah Putih.
Nany mewanti-wanti bahwa skema atau dinamika seputar Koperasi Merah Putih berpotensi besar menjadi ujian berat selanjutnya bagi integritas dan keamanan para jurnalis ke depan.
"Koperasi Merah Putih, itu juga bakalan jadi momok berat buat jurnalis," tutupnya mengingatkan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 4 Moisturizer di Alfamart untuk Hempas Flek Hitam Berdasarkan Review Pengguna
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Dalam Open House, Gubernur DKI Jakarta Janji Carikan Lahan Tambahan untuk Sekolah Rakyat
-
Teringat Masa Lalu, Gubernur DKI Jakarta Terharu Saat Hadiri Open House Sekolah Rakyat
-
Jelang MPLS, Gus Ipul Ingatkan Kepala Sekolah Rakyat Siap Hadapi Fase Krusial
-
Teheran Tutup Wilayah Udara Selama Prosesi Pemakaman Ali Khamenei
-
Pakar UGM: Wajar Publik Curiga Pengangkatan Komisaris BUMN karena Balas Jasa Politik
-
Kronologi Pertemuan Menhut dan Bupati Kuansing, Dari Amplop Sampai Alih Fungsi Hutan
-
Penguatan Fiskal hingga Digitalisasi Layanan Masuk 10 Rekomendasi untuk Kota di Indonesia
-
Bukan Provokasi, Boikot Pajak Dinilai jadi Hak Pembangkangan Sipil
-
Minta Bantuan Dana Parpol Naik, ICW Tantang Partai Buka Laporan Keuangan
-
Perludem Usul Sistem e-Banpol, Publik Bisa Pantau Penggunaan Dana Partai Secara Real-Time