- Renie Aryandani dari Trend Asia mengkritik kebijakan transisi energi pusat yang dinilai sentralistik dan merugikan daerah penghasil energi.
- Ketimpangan distribusi listrik terjadi karena daerah penghasil sumber energi justru sering menanggung beban lingkungan serta infrastruktur tidak stabil.
- Pemerintah didesak menerapkan demokratisasi energi dengan melibatkan partisipasi daerah serta menyesuaikan kebijakan berdasarkan potensi sumber daya lokal masing-masing.
Suara.com - Public Interest Lawyer dan Juru Kampanye di Trend Asia, Renie Aryandani, mengkritik kebijakan transisi energi Indonesia yang dinilai masih menerapkan pola sentralistik dan berpotensi mengorbankan daerah penghasil energi demi memenuhi kebutuhan listrik wilayah lain.
Menurut Renie, pemerintah seharusnya tidak memaksakan satu model transisi energi untuk seluruh daerah karena setiap wilayah memiliki karakteristik, potensi sumber daya, dan kondisi sosial yang berbeda.
"Jangan sampai ada wilayah-wilayah yang dikorbankan untuk menerangi wilayah lain, itu satu," kata Renie saat ditemui dalam Festival "Gugur Gunung Tandang Gawe" di Pamitnya Meeting, Jakarta Selatan, Sabtu (30/5/2026).
Ia menilai persoalan mendasar sektor ketenagalistrikan nasional terletak pada belum diterapkannya demokratisasi energi.
Akibatnya, daerah yang menjadi sumber energi justru kerap menanggung dampak lingkungan dan sosial yang lebih besar dibanding manfaat yang diterima.
Renie mencontohkan ketimpangan yang terjadi antara Pulau Jawa dengan Sumatra dan Kalimantan.
Menurutnya, konsumsi listrik terbesar berada di Jawa, sementara sumber energi seperti batu bara banyak diambil dari daerah lain yang justru masih menghadapi persoalan pasokan listrik.
"PLTU paling banyak di Pulau Jawa. Terus konsumsi listrik paling banyak di Pulau Jawa juga. Batu baranya diambil dari mana? Pulau Sumatra dan Pulau Kalimantan yang keduanya itu punya infrastruktur listrik yang nggak stabil," ujarnya.
Ia juga menyinggung peristiwa pemadaman listrik di Sumatra sebagai salah satu gambaran ketimpangan tata kelola energi yang masih terjadi.
Baca Juga: Bahlil Lahadalia Digugat ke PTUN, Kebijakan Listrik Nasional Dinilai Ugal-ugalan dan Abaikan Daerah
Karena itu, Renie menolak pendekatan kebijakan energi yang ditetapkan secara seragam dari pemerintah pusat.
Menurutnya, setiap daerah harus diberi ruang menentukan sumber energi yang paling sesuai berdasarkan potensi lokal dan kajian ilmiah yang memadai.
"Nggak mungkin misal orang bilang harus PLTS, nggak bisa juga kita paksakan dari pusat bahwa semua daerah harus PLTS. Enggak, karena masing-masing daerah punya potensi misal dari hidro mungkin, dari angin mungkin," tuturnya.
Ia menegaskan, perencanaan energi harus berangkat dari kajian lingkungan dan potensi daerah, bukan sekadar target pembangunan nasional.
"Tolong berikan kajian ilmiah potensi di masing-masing wilayah baru direncanakan dan listriknya untuk wilayah itu sendiri," katanya.
Lebih lanjut, Renie mengungkapkan bahwa Trend Asia saat ini masih menggugat Rencana Umum Ketenagalistrikan Nasional (RUKN) dan Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) karena dinilai minim partisipasi daerah serta masih mempertahankan ketergantungan pada batu bara.
Berita Terkait
-
Bahlil Lahadalia Digugat ke PTUN, Kebijakan Listrik Nasional Dinilai Ugal-ugalan dan Abaikan Daerah
-
Mengenal Tiga Tipe iCAR V23 SUV Listrik Modern Bergaya Klasik
-
Sinyal Bahaya dari China Saat Pasar Otomotif Mulai Masuki Tahap Jenuh
-
Belajar dari Blackout Sumatra, Cuaca Kini Jadi Faktor Krusial Sistem Listrik
-
Jangan Salah, Angin Kencang Bisa Sebabkan Kabel Listrik Putus dan Picu Blackout
Terpopuler
- Penjelasan Polda Sulsel Terkait Kabar Penangkapan Basri Kajang
- 5 HP Murah Kamera Bagus Sesuai Review untuk Foto dan Video, Mulai Rp1 Jutaan
- 3 Parfum Mykonos Paling Wangi dengan Aroma Clean dan Tahan Lama Menurut Review Pembeli
- 6 Sepatu Jalan Terbaik yang Nyaman Dipakai Lari dari Brand Luar dan Lokal
- Di Mana Tempat Beli Sepatu Asics Ori di Indonesia? Ini 5 Rekomendasi Toko Tepercaya
Pilihan
-
Tersangka Don Ritto Dikawal Rantis Brimob saat Tiba di Kejagung, Emas hingga Brankas Ikut Dibawa
-
Banggar DPR Dorong Sinkronisasi Belanja Pusat dan Daerah untuk Percepat Pembangunan Jawa Timur
-
Isu Mutasi Besar-besaran di Kementerian PU Buntut Dokumen Menteri Dody Tersebar
-
Gianni Infantino Resmi Digugat! Hubungan Gelap dengan Donald Trump Dibongkar
-
Niat Hindari Ribut dengan Alasan Beli Kuota, Pria Palembang Malah Dikejar dan Ditembak
Terkini
-
Viralnya Liga Aspal Bikin Anak-Anak Menteng Kini Punya Lapangan Bola Sungguhan
-
Temui Mendag China di Shanghai, Airlangga Dorong Kemitraan Ekonomi yang Lebih Seimbang
-
Moisturizer Sariayu untuk Kulit Berminyak yang Mana? Ini Pilihan dan Review Pembelinya
-
3 Review Lipstik Ombre Lips yang Bagus dan Tahan Lama, High-Pigmented dan Transferproof 24 Jam
-
Cocoon Siap Tayang Global, Anime Perang Garapan Eks Animator Studio Ghibli
-
6 Parfum Lokal yang Cocok untuk Zodiak Gemini, Aromanya Fresh dan Ceria
-
Wonwoo SEVENTEEN Abadikan Cinta Tulus di Lagu Spring, Summer, Fall, Winter
-
Tensi Geopolitik Timur Tengah Mereda, ICP Juni 2026 Turun ke 83,45 Dolar AS per Barel
-
Karier Panjang Aiptu EW Anggota Polres Blitar Kota Hancur di Tangan Narkoba
-
Inggris vs Prancis: Konsistensi Penyerangan Prancis Berjumpa dengan Permainan Pragmatis Inggris