- Mahasiswa Sastra UI bernama Kale menghidupkan kembali fungsi wayang sebagai media kritik sosial dan lingkungan dalam Festival Gugur Gunung.
- Instalasi seni wayang di Jakarta Selatan tersebut merepresentasikan konflik antar kelas serta dampak kerusakan lingkungan terhadap masyarakat akar rumput.
- Komunitas Terbit dari Barat bertujuan menggabungkan isu lingkungan dan budaya melalui berbagai media kreatif untuk menyampaikan keresahan sosial masyarakat.
Suara.com - Di tengah maraknya kampanye lingkungan yang disampaikan melalui diskusi, film, atau media sosial, sekelompok anak muda mencoba pendekatan berbeda.
Mereka menghidupkan kembali wayang bukan sebagai hiburan semata, melainkan sebagai medium untuk menyampaikan kritik terhadap kerusakan lingkungan dan konflik sosial yang terjadi di masyarakat.
Gagasan tersebut muncul dalam Festival Gugur Gunung Tandang Gawe di Yogyakarta. Salah satu penggagasnya, Kale, mahasiswa Sastra Jawa Universitas Indonesia, menilai fungsi wayang selama ini telah bergeser menjadi sekadar tontonan dan atraksi wisata.
"Kalau Kakaknya lihat sekarang, pagelaran wayang bakal nemu di mana? Di Solo, di Sriwedari. Itu kan tujuannya udah bukan untuk berpikir lebih jauh tentang bagaimana pagelaran wayang dan apa itu wayang, tapi cukup buat pariwisata, buat tontonan aja," kata Kale saat ditemui di sela acara Festival Gugur Gunung Tandang Gawe di Pamitnya Meeting, Jakarta Selatan, Sabtu (31/5/2026).
Menurutnya, wayang pada mulanya merupakan sarana komunikasi antara masyarakat dan dalang. Penonton bahkan bisa berinteraksi langsung untuk membahas persoalan yang mereka hadapi.
"Nah, sebenarnya dulu penonton itu bisa nanya ke dalang, bisa interaktif. Dalang harus tahu ruangnya itu seperti apa," ujarnya.
Berangkat dari pemahaman tersebut, Kale mencoba memaknai ulang wayang melalui instalasi seni yang dapat diakses publik tanpa harus menyaksikan pertunjukan semalam suntuk.
"Aku memaknai ulang sebenarnya pagelaran wayang itu bisa nggak sih tanpa dalang? Sebenarnya bisa. Yang penting dari pagelaran wayang kan narasinya dapat, informasi yang disampaikan dapat," katanya.
Melalui instalasi yang dipamerkan dalam festival itu, Kale mengangkat isu kerusakan lingkungan dan ketimpangan sosial.
Baca Juga: Investasi Asing dan Dampak Lingkungan: Apa yang Terjadi di Balik Pertumbuhan Industri?
Ia menampilkan gunung, potongan kayu, hingga figur wayang sebagai simbol relasi antara masyarakat akar rumput, kalangan intelektual, dan kelompok yang memiliki kekuasaan.
"Sebenarnya yang pengen aku highlight lebih dalam itu konflik antar kelas sih tepatnya," ujarnya.
Ia menjelaskan, figur wayang rumput yang ditampilkan merepresentasikan masyarakat akar rumput yang semakin terdesak oleh berbagai persoalan lingkungan dan pembangunan.
"Aku merepresentasikan wayang rumput sebagai masyarakat grassroot, masyarakat akar rumput yang sekarang itu udah nggak bisa apa-apa nih, istilahnya maju kena mundur kena," kata Kale.
Sementara itu, kelompok intelektual digambarkan sebagai pihak yang memiliki peran untuk menopang masyarakat melalui data dan pengetahuan.
"Yang bisa mem-balancing kelas-kelas kayak gitu, kelas-kelas pejabat dan segala macamnya ya intelektual nih karena dia megang data-datanya," tuturnya.
Berita Terkait
-
Investasi Asing dan Dampak Lingkungan: Apa yang Terjadi di Balik Pertumbuhan Industri?
-
Keterlibatan Perempuan di Energi Terbarukan Masih di Bawah 15 Persen, Apa Sebabnya?
-
Prabowo Dorong Percepatan Program Perumahan untuk Atasi Ketimpangan Sosial
-
Krisis Ekologi yang Terabaikan di Balik Rudal Perang AS-Israel dan Iran
-
Kerumunan Terakhir: Ketika Harga Diri Runtuh di Hadapan Penghakiman Netizen
Terpopuler
- 3 Sepatu New Balance Tanpa Tali, Bantalan Nyaman untuk Jalan Kaki Jauh
- Warga Kayumanis Bogor Tolak PSEL
- 5 Sepatu Adidas Tanpa Tali yang Serbaguna, Anti Pegal Dipakai Jalan Seharian
- Deretan Tokoh Top Bakal Turun Gunung ke UGM Besok, Bahas Nasib Bangsa Lewat Konferensi Republik
- 5 HP Baru 2026 Memori Besar dan Baterai Badak untuk Multitasking, Harga Rp2 Jutaan
Pilihan
-
Strategi Berani John Herdman: Mengapa Piala AFF 2026 Jadi Panggung Khusus Pemain Domestik?
-
Insiden Noni Madueke Tanpa Penalti, Eks Wasit Liga Inggris Buka Suara
-
Drama Final Liga Champions: Sakitnya Arsenal, PSG Back to Back Juara
-
Kesehatan Donald Trump Bermasalah? Gedung Putih Dituding Tutupi Hasil Medical Check-up
-
Kebakaran RSUD Syekh Yusuf Gowa, Begini Kondisi Terkini Pasien
Terkini
-
Jokowi Dijadwalkan Kunjungi Lampung Akhir Juni, PSI Sebut Antusiasme Warga Tinggi
-
Buntut Aksi Anarkis Viral di Tol JORR, Sopir Taksi Online Diciduk Polisi di Ciputat
-
Skandal WO Marwah: 58 Calon Pengantin Tertipu, Total Kerugian Tembus Rp2,6 Miliar
-
Tak Perlu Tunggu 32 Tahun, Ray Rangkuti Ungkap Alasan Rezim Sekarang Lebih Cepat Digoyang
-
Gagal 'Pelaminan', Pasutri Pemilik WO Marwah Kini Berakhir di Sel Tahanan
-
Prabowo Diminta 'Pensiun' Keliling Dunia, Saatnya Oper Misi Diplomatik ke Menlu Sugiono
-
Dinasti Politik Tak Lagi Vulgar Ala Orba, Kini Lebih Licin dan 'Main Cantik'
-
Pakar Sebut Hakim PN Jakpus Bisa Kabulkan Gugatan LCC Empat Pilar MPR, Jadi Terapi Kejut
-
KPK Didesak Segera Periksa Dirjen Bea Cukai Djaka Terkait Kasus Suap Blueray Cargo
-
Ray Rangkuti Sentil Mentalitas '5D' DPR: Datang, Duduk, Duit, dan Jadi Jubir Pemerintah