-
Militer Israel resmi melancarkan serangan udara balasan ke wilayah barat dan tengah Iran.
-
Ledakan besar mengguncang tiga kota utama Iran, merusak stabilitas gencatan senjata April lalu.
-
Donald Trump mencoba mengintervensi Benjamin Netanyahu untuk menghentikan serangan demi menyelamatkan negosiasi.
Suara.com - Militer Israel secara resmi meluncurkan agresi udara balasan yang menyasar sejumlah pos logistik dan markas pertahanan strategis di wilayah Iran.
Operasi ofensif ini langsung memicu rentetan ledakan hebat yang bergemuruh di zona barat hingga wilayah tengah teritorial Iran.
Dikutip dari Al Jazeera, kepanikan global kembali mencuat setelah jaringan komunikasi lokal melaporkan adanya guncangan hebat di pusat-pusat kota pertahanan musuh.
Kondisi darurat ini dikonfirmasi langsung oleh otoritas penyiaran setempat melalui pesan kilat di saluran digital mereka.
"Beberapa ledakan terdengar di Teheran, Tabriz dan Isfahan," tulis TV pemerintah.
Hingga saat ini, otoritas terkait masih melakukan investigasi mendalam terkait tingkat kerusakan infrastruktur di lapangan.
Pemerintah Iran juga belum merilis pernyataan resmi mengenai jumlah korban jiwa akibat penetrasi udara tersebut.
Langkah agresif Tel Aviv ini merupakan respons spontan setelah wilayahnya dihujani proyektil jarak jauh pada hari sebelumnya.
Pihak Teheran sendiri menegaskan bahwa tindakan defensif mereka merupakan balasan atas manuver provokatif di garis depan perbatasan.
Baca Juga: Tetap Bertolak ke Piala Dunia 2026, Masalah Visa AS Masih Bayangi Timnas Iran
"IDF (militer Israel) akan menyerang musuh dengan kekuatan penuh, segera setelah lampu hijau diberikan," kata Panglima militer Israel, Letnan Jenderal Eyal Zamir, seperti dikutip AFP.
Konfrontasi terbuka ini menandai runtuhnya komitmen perdamaian yang sempat disepakati oleh kedua belah pihak beberapa bulan lalu.
Situasi sengketa yang semakin tidak terkendali ini mengancam stabilitas geopolitik dan ekonomi di seluruh kawasan Timur Tengah.
Ketegangan yang meningkat tajam ini memicu respons cepat dari pemimpin global yang mengkhawatirkan dampak buruk perang terbuka.
Upaya komunikasi intensif terus diusahakan demi meredam ambisi militer dari masing-masing negara yang bertikai.
"Saya akan menelepon Bibi (Netanyahu) sekarang and memberitahunya untuk tidak membalas," kata Trump kepada Axios.
Berita Terkait
Terpopuler
- Prabowo Timbang Chatib Basri Gantikan Purbaya, Senin Disebut Bakal Ada Reshuflle Kabinet
- Purbaya Disebut Bakal Jadi Gubernur BI, Prabowo Sedang Timbang Chatib Basri Jadi Menkeu
- 5 Bedak Padat Mengandung SPF, Praktis untuk Touch Up Sekaligus Lindungi Kulit dari Matahari
- Mathew Baker Masih Dianggap Milik Australia meski Dipanggil Timnas Indonesia Senior
- Sinyal Penggulingan '98 Jilid 2' Menguat, Cuma PDIP dan Habib Rizieq yang Bisa Selamatkan Prabowo?
Pilihan
-
Perang Baru! Iran Hujani Israel dengan Rudal
-
Rupiah Tak Kunjung Kuat, Kinerja Perry dan Purbaya Jadi Sorotan
-
Investor Terus Timbun Dolar, Rupiah Keok ke Rp18.126
-
Purbaya Tegaskan Masih Jabat Menkeu dan Tidak Ada Pembahasan Reshuffle, Ini Buktinya
-
Lucky Hakim Dinobatkan Sebagai Bupati Terbaik, Wakilnya Malah Jadi Tersangka
Terkini
-
3.200 Laporan Parkir Liar Menumpuk, DKI Gelar Razia Besar-besaran
-
Iran Serang Target Militer di Palestina Utara, Kedubes di Jakarta Tegaskan Hak Bela Diri
-
Perang Baru! Iran Hujani Israel dengan Rudal
-
Dapur MBG di Palembang Hentikan Operasional, Sebut Anggaran Belum Cair
-
KPK Jadwalkan Pemeriksaan 2 Tersangka Swasta Kasus Kuota Haji Hari Ini
-
Kejar Deadline Oktober! Dasco Ungkap Kunci Percepatan UU Ketenagakerjaan Baru Ada di Tangan Buruh
-
Pengamat: Seskab Teddy Terlalu Sering Tampil, Komunikasi Istana Seharusnya Satu Pintu
-
Bupati Nonaktif Cilacap Gugat Status Tersangka, KPK Siap Hadapi
-
Tsunami Filipina Terjang Sulawesi Utara dan Maluku Utara
-
Penembakan Massal Dekat Markas Inggris, Piala Dunia 2026 Diselimuti Ketakutan