- Prof. Ikrar Nusa Bhakti mengkritik frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo karena membebani anggaran serta transparansi penggunaan dana pribadi.
- Ikrar mendesak lembaga auditor negara segera memeriksa keabsahan penggunaan dana pribadi Presiden dalam biaya perjalanan dinas luar negeri tersebut.
- Presiden dinilai kurang bijak terkait kebijakan pendidikan bahasa asing dan kondisi ekonomi nasional saat cadangan devisa sedang menurun.
Suara.com - Analis politik sekaligus mantan Duta Besar RI untuk Tunisia, Prof. Ikrar Nusa Bhakti, melontarkan kritik keras terkait tingginya frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo Subianto di awal masa jabatannya.
Ikrar menyoroti efisiensi anggaran negara hingga transparansi klaim penggunaan dana pribadi Presiden dalam perjalanan dinas tersebut.
Berdasarkan analisis yang diterima Ikrar, Presiden Prabowo tercatat menghabiskan setidaknya dalam perumpamaan satu dari setiap enam hari masa jabatannya untuk berada di luar negeri. Biaya yang dikeluarkan pun diperkirakan mencapai Rp20 miliar hingga Rp50 miliar per kunjungan.
Satu hal yang menjadi sorotan tajam Ikrar adalah pernyataan dari pihak istana melalui Sekretaris Kabinet, Teddy Indra Wijaya, yang menyebut bahwa kekurangan biaya operasional perjalanan tersebut ditutupi menggunakan kantong pribadi Presiden.
Ikrar menilai, dalam tata kelola administrasi negara, penggunaan dana pribadi untuk kegiatan kedinasan justru menjadi tanda tanya besar.
"Saya ini pernah menjadi Pegawai Negeri Sipil, kalau kemudian saya ke luar negeri ya sudah ada anggaran dari negara. Tiba-tiba kemudian saya menggunakan anggaran sendiri, ya dan itu dimasukkan di dalam pertanggungjawaban saya akan ditanya oleh bagian BPK ataupun BPKP ya, ini uang apa dan ini kok Anda melakukan itu dari kantong Anda sendiri," ujar Ikrar dalam kanal Youtube Bambang Widjojanto, Selasa (9/6/2026).
Ikrar mendesak lembaga auditor negara untuk turun tangan melakukan pengecekan.
"Biayanya dari kantong pribadi Presiden Prabowo Itu wajib hukumnya baik BPK, Inspektorat di Sekretariat Presiden itu harus mengecek ya uang itu benar engga dikeluarkan oleh Presiden Prabowo, dan untuk apa?" tegasnya.
Kondisi Ekonomi dan Devisa Negara
Baca Juga: Perintah Prabowo Bersihkan Program MBG dari Para Pemburu Rente Tanpa Pandang Bulu
Kritik ini disampaikan Ikrar di tengah kekhawatirannya terhadap kondisi ekonomi nasional. Ia menyebut cadangan devisa negara sedang mengalami penurunan yang signifikan jika dibandingkan dengan periode sebelumnya di tahun 2025.
Menurutnya, Presiden seharusnya lebih cermat dalam menghitung ketersediaan anggaran sebelum memutuskan untuk sering melakukan kunjungan internasional.
"Jadi maksud saya Prabowo ini tidak pernah menghitung benar-benar berapa uang yang masih dimiliki oleh negara ya, apakah ini masih bisa untuk kemudian jalan-jalan ke luar negeri," ujar Ikrar.
Kritik Kebijakan Bahasa dan Prioritas Pendidikan
Tak hanya soal anggaran, Ikrar juga menyentil gaya komunikasi kebijakan Presiden saat berada di luar negeri.
Ia mencontohkan instruksi Presiden yang meminta Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) mempersiapkan kurikulum bahasa asing sesuai dengan negara yang dikunjungi, seperti bahasa Prancis saat ke Prancis atau bahasa Portugis saat ke Brazil.
Berita Terkait
-
Prof Ikrar Soroti Dubes Tak Dilibatkan Diplomasi Luar Negeri Prabowo: yang Ikut Malah Teddy
-
Tepis Isu Bottleneck Karier, Kapolri Tegaskan Regenerasi Polri Tetap Berjalan Meski Ada UU Baru
-
Jurus Purbaya Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi 6,5 Persen Sesuai Ambisi Prabowo
-
Perintah Prabowo Bersihkan Program MBG dari Para Pemburu Rente Tanpa Pandang Bulu
-
Prabowo Dinilai Tak Pahami Masalah Rakyat, Istana Langsung Membantah
Terpopuler
- Jakarta Siap Pungut Pajak Mobil Listrik Tahun Ini, Kendaraan Mewah Kena hingga 75% PKB
- Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
- 6 Shio Paling Beruntung pada 23 Juli 2026, Keberuntungan Memihak
- 5 Warna Lipstik Wardah untuk Bibir Hitam dan Kulit Sawo Matang
- Resmi Daftar Kemenkum, Partai Gerakan Rakyat Pastikan Usung Anies Baswedan Capres
Pilihan
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
-
Saraf Terjepit, Hotman Paris Putuskan Mundur Jadi Kuasa Hukum Eks Jampidsus Febrie Adriansyah
-
Dokter Tifa Menang, Sidang Kasus Ijazah Jokowi Resmi Dihentikan
-
Menang Lima Gol, Timnas Putri Indonesia Back to Back Juara AFF Women's Cup 2026
Terkini
-
Gaya Mewah Pelat Palsu: Sopir Alphard yang Cekcok dengan Satpam Kena Tilang
-
Foundation Viva Mana yang Paling Tahan Lama? Ini Pilihan dengan Klaim Waterproof dan Long Lasting
-
Ketika Institusi Publik Menjadi Arena Eksperimen Kebijakan
-
Kasus Debt Collector Kredivo di Purworejo Berakhir Damai, Perusahaan Perkuat Pengawasan Penagihan
-
Viral Diskriminasi WNI di Bali, Imigrasi Larang 2 WNA Penyelenggara Event Lari Masuk Indonesia Lagi
-
Harga Kebutuhan Naik, Gaji Tetap: Realitas Daya Beli yang Kian Menurun
-
Arsenal Siapkan Strategi Khusus Datangkan Julin Alvarez, Viktor Gyokeres Jadi Opsi Tukar?
-
Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
-
Ulasan Novel Kado Terbaik: Potret Haru Perjuangan Anak Jalanan
-
Qualcomm Siapkan Snapdragon 8 Elite Gen 5 Versi Murah, Akhiri Era HP Flagship Mahal?