News / Nasional
Selasa, 09 Juni 2026 | 17:30 WIB
Presiden Prabowo Subianto saat bertolak ke Brunei Darussalam, pada Rabu (14/5/2025) pagi. (Biro Pers Sekretariat Presiden)
Baca 10 detik
  • Prof. Ikrar Nusa Bhakti mengkritik frekuensi kunjungan luar negeri Presiden Prabowo karena membebani anggaran serta transparansi penggunaan dana pribadi.
  • Ikrar mendesak lembaga auditor negara segera memeriksa keabsahan penggunaan dana pribadi Presiden dalam biaya perjalanan dinas luar negeri tersebut.
  • Presiden dinilai kurang bijak terkait kebijakan pendidikan bahasa asing dan kondisi ekonomi nasional saat cadangan devisa sedang menurun.

"Buat apa sih dikit-dikit ke Prancis? Dan setiap berhenti di suatu negara, langsung deh meminta Mendikdasmen itu mempersiapkan agar anak Sekolah Dasar itu belajar bahasa Prancis, ketika dia ke Brazil belajar bahasa Portugis misalnya,” ungkapnya.

Ikrar membandingkan hal ini dengan pandangan Akademisi mendiang Dr. Arief Budiman saat Timor Leste merdeka, yang menekankan bahwa bahasa Indonesia jauh lebih strategis bagi masa depan kawasan daripada sekadar mempertahankan bahasa kolonial seperti Portugis.

“Padahal kita tahu ketika Timor Leste itu merdeka apa yang dikatakan oleh Dr. Arif Budiman? Dia mengatakan kepada orang Timor Leste bahwa bahasa Portugis itu sudah bahasa yang masa lalu, dan bahasa yang paling Anda harus tetap tekuni adalah bahasa Indonesia karena biar bagaimanapun masa depan Anda itu tetap akan terkait dengan Indonesia kan begitu," lanjutnya.

Reporter: Tsabita Aulia

Load More