News / Nasional
Kamis, 11 Juni 2026 | 16:02 WIB
Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), M. Herindra. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • BEM SI Jawa Tengah menuntut pemerintah memperbaiki nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi dalam waktu 18 hari.
  • Mahasiswa mengancam akan melakukan aksi demonstrasi besar-besaran jika tuntutan perbaikan ekonomi tersebut tidak segera dipenuhi pemerintah.
  • Kepala BIN M. Herindra mengimbau masyarakat menjaga stabilitas dan persatuan nasional demi menghindari dampak negatif bagi negara.

Suara.com - Kepala Badan Intelijen Negara (BIN), M. Herindra, memberikan tanggapan terkait ultimatum yang dilayangkan oleh Badan Eksekutif Mahasiswa Seluruh Indonesia (BEM SI) wilayah Jawa Tengah kepada pemerintah.

Mahasiswa sebelumnya mendesak pemerintah untuk segera memperbaiki nilai tukar rupiah dan kondisi ekonomi nasional dalam waktu 18 hari.

Menanggapi ancaman pergerakan massa besar-besaran atau "Reformasi Jilid II" jika tuntutan tersebut tidak dipenuhi, Herindra mengimbau semua pihak untuk tetap mengedepankan stabilitas nasional.

"Ah yang penting kita semua harus menjaga ya, persatuan kesatuan," kata Herindra ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Rabu (11/6/2026).

Ia menekankan bahwa menjaga kondusivitas negara adalah kepentingan bersama.

"Jangan sampai ada hal yang tidak menguntungkan bagi kita semua ya," katanya.

Sebelumnya, aliansi BEM SI Jateng menyampaikan tuntutan mereka melalui unggahan di akun Instagram @bem_si dan @storyrakyat_ pada Minggu (7/6).

Tuntutan ini merupakan kelanjutan dari aksi demonstrasi yang digelar di depan kantor perwakilan Bank Indonesia Jawa Tengah, Semarang, pada Jumat (5/6).

Mahasiswa mengancam akan melakukan pergerakan massa yang lebih besar jika dalam 18 hari tidak ada perbaikan signifikan pada nilai tukar rupiah.

Baca Juga: Akhiri Kontrak dengan Agensi, Kwon Eun-bin Pilih Tinggalkan Dunia Hiburan

Load More