- Pakar UGM Agustinus Subarsono menilai pemerintah pusat perlu memperkuat komitmen politik dalam membenahi kelembagaan Program Makan Bergizi Gratis.
- Badan Gizi Nasional didorong melakukan desentralisasi program kepada pemerintah kabupaten atau kota guna meningkatkan efektivitas pelaksanaan di lapangan.
- Pembentukan Dewan Pengawas dan pelibatan masyarakat sipil diperlukan untuk menjamin transparansi serta kualitas menu dalam program tersebut.
Suara.com - Pakar Kebijakan Publik Universitas Gadjah Mada (UGM), Agustinus Subarsono, menilai pembenahan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sangat bergantung pada kemauan politik pemerintah pusat.
Menurut dia, berbagai revisi regulasi hingga perubahan model pelaksanaan program sebenarnya bisa dilakukan apabila ada komitmen kuat dari pemerintah. Namun, sayangnya hingga kini belum terlihat adanya pembenahan kelembagaan yang serius dalam program MBG.
"Betul (semuanya tergantung kemauan politik pemerintah pusat tapi) sampai sekarang belum terlihat adanya regulasi kelembagaan, yang terlihat sekedar pergantian personel untuk mengisi jabatan yang kosong," kata Subarsono kepada Suara.com, Senin (15/6/2026).
Ia merekomendasikan pembentukan Dewan Pengawas Program MBG untuk menjaga quality control, terutama terkait kualitas menu dan pengawasan terhadap kinerja Badan Gizi Nasional (BGN).
Selain itu, Subarsono mendorong desentralisasi program MBG hingga level kabupaten/kota. Tujuannya agar pelaksanaannya tidak sepenuhnya terpusat.
"BGN sebagai institusi pusat akan habis energinya atau mungkin tidak akan mampu menangani program ini dari Sabang sampai Merauke sendirian, namun perlu share kekuasaan pada kabupaten/kota," ujarnya.
Menurutnya, dalam skema desentralisasi tersebut, BGN tetap memegang fungsi utama sebagai regulator, promotor, dan fasilitator program MBG.
BGN dapat bertugas menyusun aturan main, standar operasional, hingga pembagian kewenangan antara pemerintah pusat dan daerah, sehingga tidak terjadi tumpang tindih anggaran maupun saling lempar tanggung jawab.
Sebagai promotor, BGN melakukan promosi dan sosialisasi program MBG kepada berbagai pemangku kepentingan agar terlibat dalam program tersebut. Misalnya, menjalin kerja sama dengan berbagai perusahaan atau lembaga internasional agar berkontribusi pada pembiayaan MBG.
Baca Juga: Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya Belum Diputus, Kejagung Masih Lakukan Kajian
"Sebagai fasilitator, BGN perlu memfasilitasi berbagai peralatan yang tidak dimiliki oleh SPPG model baru di daerah," ujarnya.
Ia menjelaskan, pemerintah pusat tetap memiliki peran penting dalam pendanaan, khususnya untuk daerah dengan kapasitas fiskal rendah atau wilayah terpencil.
Skema anggaran dapat dihitung berdasarkan jumlah murid dengan nominal Rp15 ribu per siswa, lalu ditransfer melalui BGN maupun mekanisme Dana Alokasi Khusus (DAK).
"Kalau mau difilter, maka bisa dipilih jumlah murid yang berasal dari keluarga miskin," imbuhnya.
Selain pengawasan dari pemerintah, Subarsono menilai masyarakat sipil dan NGO di daerah perlu dilibatkan dalam monitoring dan evaluasi program MBG. Dengan demikian, kualitas menu serta tata kelola program dapat terus diawasi secara terbuka.
Di sisi lain, ia mengakui integrasi program MBG ke dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RPJMD) saat ini cukup sulit dilakukan secara formal, mengingat sebagian besar RPJMD daerah sudah disahkan maksimal enam bulan setelah kepala daerah dilantik.
Berita Terkait
-
Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya Belum Diputus, Kejagung Masih Lakukan Kajian
-
Kejagung Belum Berencana Geledah Rumah Kepala BGN Nanik S. Deyang dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG
-
Buntut Dugaan Korupsi MBG, Kejagung Gandeng BPKP Audit Pengadaan di BGN
-
Ironi Efisiensi: APBN Dipakai Self Reward, Rakyat Dipaksa Self Control
-
Bapanas Ultimatum Pedagang Beras, Stok Tembus Rekor 5,3 Juta Ton: Jangan Mainkan Harga!
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
-
Thamrin Lumpuh Total, Massa Aksi Mengular hingga Dukuh Atas Hingga Jumat Malam
-
Ngotot Mau Demo di Bundaran HI Meski Dihadang Aparat, Mahasiswa: Istana dan DPR Tak Mendengar Kami!
Terkini
-
BPIP Minta Tambahan Anggaran Rp343 M ke DPR, Bangun Pusat Diklat untuk Pejabat hingga Paskibraka
-
Resmi Dibuka! Pendaftaran SPMB Jakarta 2026, 245 Ribu Kursi Gratis Tanpa Biaya
-
Militer Iran Klaim Mempermalukan Pasukan Amerika Serikat dan Israel Usai Damai
-
Iring-Iringan Presiden Jerman Tembus Jantung Jakarta, Jalur Protokol Steril Sempurna
-
Tiba di Istana Merdeka, Dua Kali Mata Presiden Jerman Frank-Walter Terpukau Tarian Tradisional
-
Kunjungan Presiden Jerman dan Demo Mahasiswa Digelar Bersamaan, 6.675 Personel Gabungan Disiagakan
-
Anggaran Jumbo Tapi Kalah dari Aplikasi Ojol, Pakar UGM Kritik Sistem Administrasi Demo Polri
-
Kenapa Dana Pribadi Presiden Prabowo Langgar UU? Ini Penjelasan Peneliti CELIOS
-
Permohonan Justice Collaborator Sony Sonjaya Belum Diputus, Kejagung Masih Lakukan Kajian
-
Kejagung Belum Berencana Geledah Rumah Kepala BGN Nanik S. Deyang dalam Kasus Dugaan Korupsi MBG