- Wakil Menteri PPPA Veronica Tan menggagas program Kebun Pangan Perempuan untuk memberdayakan ekonomi perempuan di tingkat desa.
- Program ini diluncurkan untuk meningkatkan ketahanan pangan, kesejahteraan keluarga, serta mencegah kekerasan terhadap perempuan dan anak.
- Inisiatif ini mendorong perempuan memanfaatkan lahan melalui pertanian berkelanjutan sebagai sumber pendapatan sekaligus ruang edukasi ketahanan keluarga.
Suara.com - Perempuan yang berdaya secara ekonomi dinilai memiliki peluang lebih besar untuk keluar dari lingkaran kekerasan sekaligus menjadi penggerak kesejahteraan keluarga. Keyakinan inilah yang mendorong Wakil Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Veronica Tan menggagas pendekatan baru dalam program pemberdayaan perempuan melalui Kebun Pangan Perempuan.
Menurut Veronica, pengalaman selama bertugas di Kementerian PPPA mengubah cara pandangnya terhadap persoalan perempuan dan anak di Indonesia. Berbeda dengan latar belakangnya sebagai arsitek yang terbiasa merancang ruang dan solusi fisik, kini ia justru berhadapan dengan berbagai persoalan kekerasan yang menimpa perempuan dan anak.
"Saya jujur memang kaget. Sampai terhentak-hentak karena ternyata urusannya banyak sekali soal kekerasan terhadap perempuan dan anak. Anak-anak yang seharusnya punya mimpi, justru menjadi korban," kata Veronica dalam pameran "Weaving Wonders: Dari Benang Tenun dan Lahan Semai Menuju Kekuatan Ekonomi, Ketahanan Pangan, dan Pemberdayaan Perempuan di Nusa Tenggara Timur" yang digelar di Tugu Kunstkring, Jakarta, pada 13–27 Juni 2026.
Pengalaman itu membuatnya mencari akar persoalan sekaligus solusi yang lebih berkelanjutan. Menurutnya, perempuan sebenarnya memiliki potensi besar untuk berkembang apabila diberi akses dan kesempatan.
"Perempuan itu kalau diberi sedikit akses saja, saya yakin mereka bisa menjadi entrepreneur atau orang-orang hebat," ujarnya.
Gagasan tersebut kemudian diperkuat setelah melihat berbagai praktik pemberdayaan masyarakat di Nusa Tenggara Timur (NTT), wilayah yang juga masih menghadapi tingginya angka kekerasan terhadap perempuan dan anak serta tindak pidana perdagangan orang (TPPO).
Veronica menilai pembangunan desa tidak cukup hanya mengandalkan pendekatan fisik atau budaya, tetapi juga harus memberi ruang yang lebih besar bagi perempuan sebagai pelaku utama pembangunan ekonomi.
Ia mencontohkan penggunaan istilah "kampung tenun" yang dinilai lebih merepresentasikan kontribusi perempuan dibandingkan sekadar menyebut "kampung adat".
"Kalau kita bicara kampung adat, itu identiknya patriarki. Tapi ketika kita menyebut kampung tenun, kita sedang mengangkat potensi perempuan. Perempuan menjadi representasi ekonomi di dalam kampung itu," katanya.
Baca Juga: Veronica Tan Soroti Pemberdayaan Perempuan di NTT: Kunci Putus Rantai Kemiskinan dan Kekerasan
Kebun Pangan Perempuan Jadi Pintu Masuk
Dari pemikiran tersebut lahirlah program Kebun Pangan Perempuan yang menjadi bagian dari inisiatif Ruang Bersama Indonesia.
Veronica menjelaskan, program ini dirancang agar lebih mudah dipahami masyarakat sekaligus menjadi pintu masuk berbagai program pemberdayaan perempuan di tingkat desa.
Menurutnya, konsep tersebut juga selaras dengan berbagai program prioritas pemerintah, mulai dari pengentasan stunting, ketahanan pangan, hingga penguatan ekonomi lokal.
"Kami mencoba menjahit semua program itu menjadi satu gerakan yang sederhana dan mudah dimengerti masyarakat," ujarnya.
Melalui program ini, perempuan didorong memanfaatkan lahan yang tersedia dengan pendekatan pertanian berkelanjutan atau permakultur yang tidak merusak lingkungan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Prabowo Bukan Negarawan, Tapi Wisatawan!
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Terkini
-
Ada Apa? Rapat Perdana Anggaran BGN di DPR Mendadak Digelar Tertutup
-
Mendagri Teken SEB dengan Kepala BPS, Minta Pemda Dukung Sensus Ekonomi 2026
-
Kritik Keras DPR Soal Anggaran Pendidikan 2027: Jangan Cuma Fokus Fisik, Guru Juga Butuh Sejahtera!
-
Eks Bupati Pati Sudewo Didakwa Peras Perangkat Desa Rp2,4 M! Libatkan 3 Kades Demi Kumpulkan Upeti
-
Pengamat Soroti Dominasi 'Geng Solo' di Kabinet Prabowo, Singgung Risiko Vacuum of Power
-
Soal Peluang Kerja WNI di Jerman hingga Perdamaian, Ini Obrolan Prabowo dan Presiden Steinmeier
-
Ilmuwan Temukan Cara Baru Daur Ulang Plastik Tanpa Pelarut, Bisakah Jadi Jawaban Krisis Sampah?
-
Tak Perlu Dapur Baru! DPR: Libatkan Kantin untuk Makan Gratis Sudah Kami Sarankan Lama
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Gempar! 326 Kepala Sekolah di Sulsel Mundur Serentak, DPR Cium Adanya Tekanan