News / Internasional
Senin, 15 Juni 2026 | 15:17 WIB
Serangan ke Lebanon (Istimewa)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian damai untuk membuka kembali blokade pelabuhan dagang internasional.

  • Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak menghentikan operasi militer terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.

  • Perjanjian baru ini memuat klausul krusial mengenai pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran.

Suara.com - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya resmi tercapai setelah melewati rangkaian negosiasi yang panjang. Namun, perjanjian besar ini diprediksi belum kuat untuk meredam eskalasi pertempuran yang melanda Lebanon.

"Kesepakatan Besar ini akan membawa Perdamaian dan Keamanan ke seluruh Kawasan," kata Presiden AS Donald Trump dikutip dari BBC, Senin (15/6/2026).

Di pihak lain, Kazem Gharibabadi selaku Wakil Menteri Luar Negeri Iran langsung memuji pencapaian militer negaranya pascapenandatanganan nota kesepahaman tersebut.

Serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon. Kali ini, jet tempur Israel membombardir kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat pasukan Hizbullah. [istimewa]

Pakistan yang bertindak sebagai mediator utama mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali rute perdagangan yang sempat lumpuh. Washington bakal menyudahi blokade pelabuhan Iran, sementara Teheran berjanji menyetop penutupan Selat Hormuz.

Langkah taktis ini diproyeksikan mampu menyelamatkan perekonomian global dan memulihkan kondisi finansial Iran yang sedang kolaps. Keterbukaan jalur maritim ini juga mengurangi tekanan politik domestik yang selama ini menghimpit posisi Donald Trump.

Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan kesepakatan tersebut menuntut penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.

Presiden Amerika Serikat, Donald Trump mendapat sambutan megah saat tiba di Beijing, Rabu malam waktu setempat, untuk menghadiri pertemuan penting dengan Presiden China, Xi Jinping. [Tangkap layar x]

Rencana penghentian senjata tersebut tampaknya akan menghadapi jalan buntu yang sangat terjal di lapangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hingga kini belum menunjukkan iktikad untuk menghentikan agresi militernya terhadap Hezbollah.

Bahkan dalam sepekan terakhir, jet tempur Israel terus membombardir wilayah pinggiran selatan Beirut secara membabi buta. Serangan brutal itu merupakan respons atas hujan roket rakitan kelompok Hezbollah yang mengarah ke wilayah Israel utara.

Teheran sendiri sempat menahan diri untuk tidak meluncurkan rudal balistik balasan demi menjaga momentum penandatanganan kerja sama ini. Situasi yang sangat rapuh ini membuat masa depan gencatan senjata di Lebanon menjadi kian buram.

Baca Juga: Militer Iran Klaim Mempermalukan Pasukan Amerika Serikat dan Israel Usai Damai

Di tengah ketidakpastian itu, negara-negara Arab di kawasan Teluk justru mulai bernapas lega. Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi merasa ancaman serangan rudal Iran ke wilayah mereka kini jauh menurun.

Selama ini, ketakutan akan serangan udara Teheran mendistorsi model ekonomi dan iklim investasi di semenanjung Arab. Kini, fokus utama Washington adalah memastikan komitmen jangka panjang Teheran terkait pembatasan program senjata nuklir mereka.

Media pemerintah Iran memberi sinyal adanya klausul pengawasan baru yang ketat terkait aktivitas pengayaan nuklir tersebut. Meski demikian, detail mekanisme pengawasan ketat ini masih memerlukan negosiasi lanjutan yang sangat alot.

Sebelum kesepakatan ini tercapai, ketegangan antara poros Washington-Tel Aviv dan Teheran telah menyeret Timur Tengah ke ambang perang terbuka. Blokade ekonomi yang saling balas sempat memicu lonjakan harga energi dunia akibat ancaman penutupan Selat Hormuz.

Di sisi lain, Lebanon menjadi medan pertempuran paling berdarah akibat proksi militer yang tidak kunjung usai. Dua upaya gencatan senjata yang diinisiasi internasional sebelumnya selalu berakhir dengan kegagalan total di medan perang.

Load More