-
Amerika Serikat dan Iran menyepakati perjanjian damai untuk membuka kembali blokade pelabuhan dagang internasional.
-
Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu menolak menghentikan operasi militer terhadap kelompok Hezbollah di Lebanon.
-
Perjanjian baru ini memuat klausul krusial mengenai pembatasan ketat terhadap program nuklir Iran.
Suara.com - Kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran akhirnya resmi tercapai setelah melewati rangkaian negosiasi yang panjang. Namun, perjanjian besar ini diprediksi belum kuat untuk meredam eskalasi pertempuran yang melanda Lebanon.
"Kesepakatan Besar ini akan membawa Perdamaian dan Keamanan ke seluruh Kawasan," kata Presiden AS Donald Trump dikutip dari BBC, Senin (15/6/2026).
Di pihak lain, Kazem Gharibabadi selaku Wakil Menteri Luar Negeri Iran langsung memuji pencapaian militer negaranya pascapenandatanganan nota kesepahaman tersebut.
Pakistan yang bertindak sebagai mediator utama mengonfirmasi bahwa kesepakatan ini mencakup pembukaan kembali rute perdagangan yang sempat lumpuh. Washington bakal menyudahi blokade pelabuhan Iran, sementara Teheran berjanji menyetop penutupan Selat Hormuz.
Langkah taktis ini diproyeksikan mampu menyelamatkan perekonomian global dan memulihkan kondisi finansial Iran yang sedang kolaps. Keterbukaan jalur maritim ini juga mengurangi tekanan politik domestik yang selama ini menghimpit posisi Donald Trump.
Perdana Menteri Pakistan, Shehbaz Sharif, menegaskan kesepakatan tersebut menuntut penghentian segera dan permanen operasi militer di semua lini, termasuk di Lebanon.
Rencana penghentian senjata tersebut tampaknya akan menghadapi jalan buntu yang sangat terjal di lapangan. Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu hingga kini belum menunjukkan iktikad untuk menghentikan agresi militernya terhadap Hezbollah.
Bahkan dalam sepekan terakhir, jet tempur Israel terus membombardir wilayah pinggiran selatan Beirut secara membabi buta. Serangan brutal itu merupakan respons atas hujan roket rakitan kelompok Hezbollah yang mengarah ke wilayah Israel utara.
Teheran sendiri sempat menahan diri untuk tidak meluncurkan rudal balistik balasan demi menjaga momentum penandatanganan kerja sama ini. Situasi yang sangat rapuh ini membuat masa depan gencatan senjata di Lebanon menjadi kian buram.
Baca Juga: Militer Iran Klaim Mempermalukan Pasukan Amerika Serikat dan Israel Usai Damai
Di tengah ketidakpastian itu, negara-negara Arab di kawasan Teluk justru mulai bernapas lega. Uni Emirat Arab, Qatar, dan Arab Saudi merasa ancaman serangan rudal Iran ke wilayah mereka kini jauh menurun.
Selama ini, ketakutan akan serangan udara Teheran mendistorsi model ekonomi dan iklim investasi di semenanjung Arab. Kini, fokus utama Washington adalah memastikan komitmen jangka panjang Teheran terkait pembatasan program senjata nuklir mereka.
Media pemerintah Iran memberi sinyal adanya klausul pengawasan baru yang ketat terkait aktivitas pengayaan nuklir tersebut. Meski demikian, detail mekanisme pengawasan ketat ini masih memerlukan negosiasi lanjutan yang sangat alot.
Sebelum kesepakatan ini tercapai, ketegangan antara poros Washington-Tel Aviv dan Teheran telah menyeret Timur Tengah ke ambang perang terbuka. Blokade ekonomi yang saling balas sempat memicu lonjakan harga energi dunia akibat ancaman penutupan Selat Hormuz.
Di sisi lain, Lebanon menjadi medan pertempuran paling berdarah akibat proksi militer yang tidak kunjung usai. Dua upaya gencatan senjata yang diinisiasi internasional sebelumnya selalu berakhir dengan kegagalan total di medan perang.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengapa Pertalite Mau Dihapus?
- Tak Ikut Aksi Bareng Mahasiswa di Bundaran HI Hari Ini, Said Iqbal Ungkap Alasan Buruh
- Apa Itu Sepatu Hybrid? Ini 5 Rekomendasi Buatan Lokal Terbaik dan Serbaguna
- Kaki Masih Pegal Setelah Lari? Ini 5 Sepatu Recovery Run Lokal dengan Review Terbaik
- Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Pilihan
-
Anggaran Kunjungan Luar Negeri Prabowo Tembus Rp1,1 T! Lebih Besar dari TKD Satu Kabupaten di NTB
-
Prabowo Bukan Negarawan, Tapi Wisatawan!
-
Aliansi Rakyat Memanggil Kritik Sederet Program Pemerintah, Tuntut Prabowo-Gibran Lengser
-
Hasil Piala Dunia 2026: Hajar Paraguay, Start Sempurna Amerika Serikat
-
Neymar Dipastikan Absen di Piala Dunia 2026, Kesalahan Pertama Ancelotti
Terkini
-
Sentilan Megawati dari Blitar: Kita Belum Benar-Benar Merdeka Jika Tidak Waspada!
-
Sikat Pendemo Berbenda Bahaya! Kapolda Metro: Personel Jangan Gerak Sendiri dan Dilarang Bawa Senpi
-
Tiyo Ardianto Ungkap Kronologi Dugaan Pemasangan Alat Pelacak, Sebut Sudah Diintai Sejak di Semarang
-
Asmara Tak Direstui! Lansia 70 Tahun di Penjaringan Nyaris Diculik dan Dianiaya
-
Torehkan Prestasi Nasional, Tiga Sekolah Rakyat Raih Top 100 Excellence Award 2026
-
Kejagung Tak Ampuni Tersangka Korupsi BGN, Pasal TPPU Menanti untuk Pulihkan Kerugian Negara
-
Veronica Tan: Perempuan yang Berdaya Secara Ekonomi Lebih Kuat Hadapi Kekerasan
-
Ada Apa? Rapat Perdana Anggaran BGN di DPR Mendadak Digelar Tertutup
-
Mendagri Teken SEB dengan Kepala BPS, Minta Pemda Dukung Sensus Ekonomi 2026
-
Kritik Keras DPR Soal Anggaran Pendidikan 2027: Jangan Cuma Fokus Fisik, Guru Juga Butuh Sejahtera!