News / Nasional
Senin, 15 Juni 2026 | 19:41 WIB
Wakil Kepala BGN, Agustina Arumsari. (Suara.com/Bagaskara)
Baca 10 detik
  • Badan Gizi Nasional merencanakan efisiensi anggaran tahun 2027 sebesar Rp270,2 triliun melalui penataan ulang penerima program makan gratis.
  • Pimpinan baru BGN akan melakukan refocusing dengan mencoret siswa SMA dari daftar penerima manfaat program makan bergizi.
  • BGN memprioritaskan intervensi gizi bagi ibu hamil hingga anak usia 1.000 hari pertama untuk memaksimalkan perkembangan otak.

Suara.com - Wakil Kepala Badan Gizi Nasional (BGN), Agustina Arumsari, memaparkan rencana besar terkait anggaran dan transformasi lembaga untuk tahun 2027.

Dalam rapat kerja perdana bersama Komisi IX DPR RI, BGN mengungkapkan pagu indikatif tahun 2027 mencapai Rp270,2 triliun. Namun, angka tersebut diiringi dengan rencana efisiensi yang ketat melalui refocusing penerima manfaat.

Rapat itu sebelumnya digelar di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (15/6/2026).

Rapat tersebut menjadi ajang perkenalan pimpinan baru BGN sekaligus pembahasan teknokrasi anggaran. Arumsari menyebut, berdasarkan alokasi dari Kementerian Keuangan dan Bappenas, anggaran sebesar Rp270.201.499.678.000 diproyeksikan untuk menjangkau 81,5 juta penerima manfaat.

Namun, jumlah tersebut merupakan pagu anggaran yang disusun pada era kepemimpinan BGN sebelumnya, yakni Dadan Hindayana dan jajaran. Angka tersebut akan ditata ulang atau dilakukan refocusing pada era kepemimpinan BGN yang baru.

"Namun tadi ketika kami sampaikan bahwa di dalam 2026 ini kan bulan Juni ya. Nah, Juli sampai akhir 2026 kami pun akan terus melakukan langkah-langkah perbaikan," kata Arumsari usai rapat.

Arumsari menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan langkah-langkah perbaikan agar intervensi gizi lebih tepat sasaran.

Salah satu kebijakan yang sedang diuji coba (exercise), misalnya, adalah mencoret kategori siswa SMA, terutama dari keluarga mampu, dari daftar penerima program Makan Bergizi Gratis (MBG).

"Tujuannya adalah bagaimana indikator intervensi gizi tercapai tetapi penerima manfaatnya lebih fokus. Contoh gampang, untuk SMA mungkin tidak perlu diberikan lagi MBG. Apalagi SMA yang high class yang uang sakunya sudah Rp100 ribu-Rp200 ribu, itu tidak perlu lagi," ujarnya.

Baca Juga: Alasan Efisiensi, BGN Mau Hapus MBG Untuk Siswa SMA

Langkah efisiensi pada jenjang SMA ini diperkirakan akan mengurangi sekitar 8 juta penerima manfaat.

Petugas menyiapkan menu Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dikelola Jimmy Hantu di SPPG Mutiara Keraton Solo, Tamansari, Bogor, Selasa (16/12/2025). [Suara.com/Alfian Winanto]

Arumsari menekankan bahwa pengurangan tersebut bertujuan agar anggaran negara menjadi lebih efisien, namun tetap efektif.

"Nah, itu beberapa contoh. Itu sudah akan berkurang sekitar 8 juta penerima manfaat. Nah, itu yang terus kami exercise, tapi kami tidak menghilangkan esensi dari intervensi gizi yang dilakukan oleh pemerintah. Jadi sekali lagi, refocusing ini adalah kami perlukan supaya memang pemberian intervensi pemerintah lebih tepat sasaran, kemudian diikuti otomatis dengan angka anggaran yang semakin turun. Itu yang keluar ke penerima manfaat," katanya.

Arumsari menjelaskan bahwa strategi refocusing ini didasarkan pada masukan para pakar dari Kementerian Kesehatan.

BGN akan lebih memprioritaskan intervensi gizi pada masa kehamilan hingga 1.000 hari pertama kehidupan (HPK) untuk memastikan perkembangan volume otak anak berlangsung maksimal.

"Intervensi gizi sebaiknya dilakukan dari usia kandungan sampai 1.000 hari pertama kelahiran agar volume otak maksimal, lalu sampai usia 2 tahun, baru kemudian usia selanjutnya. Hal-hal teknis ini kami dengarkan dari para pakar di Kemenkes," tuturnya.

Load More