- Peneliti internasional menganalisis 5.300 survei sampah di 112 negara dan menemukan kemasan makanan serta minuman mendominasi polusi pesisir.
- Plastik makanan dan minuman menjadi sumber pencemar utama di 93 persen negara yang diteliti dalam studi global tersebut.
- Para ahli menyarankan intervensi dari hulu melalui pengurangan produksi serta desain ulang kemasan guna mengatasi krisis plastik global.
Suara.com - Setiap tahun, jutaan ton plastik masuk ke laut. Selama ini, diskusi publik sering berfokus pada sedotan atau kantong plastik. Namun, penelitian global terbaru menunjukkan sumber terbesar masalah ini mungkin jauh lebih dekat dengan keseharian: kemasan makanan dan minuman.
Studi berjudul Food and beverage plastics dominate global shorelines: A harmonized rank-based assessment of usage types to guide interventions yang dipublikasikan oleh peneliti internasional menganalisis lebih dari 5.300 survei sampah pesisir di 112 negara, mewakili sekitar 86 persen populasi dunia, untuk mencari tahu jenis sampah apa yang paling sering ditemukan di garis pantai.
Hasilnya menunjukkan pola yang konsisten di hampir seluruh dunia: plastik dari sektor makanan dan minuman menjadi jenis sampah paling dominan.
Kemasan makanan, tutup botol, dan botol plastik tercatat sebagai tiga jenis sampah yang paling sering muncul di banyak negara. Secara agregat, plastik makanan dan minuman masuk tiga besar sumber pencemar di 93 persen negara yang diteliti. Temuan ini menunjukkan bahwa masalah polusi plastik bukan hanya soal pengelolaan sampah setelah dibuang, tetapi juga berkaitan dengan bagaimana produk diproduksi dan dikonsumsi.
Penelitian tersebut juga menemukan kantong plastik berada di posisi berikutnya dan menjadi salah satu jenis sampah dominan di 39 persen negara, disusul puntung rokok sebesar 38 persen, serta perlengkapan perikanan dan pelayaran sebesar 34 persen.
Yang menarik, pola ini relatif seragam meski ditemukan variasi antarwilayah. Di kawasan Asia, misalnya, kantong plastik tetap menjadi salah satu pencemar yang menonjol. Sementara di wilayah kutub, sampah yang banyak ditemukan justru terkait aktivitas pelayaran dan perikanan. Meski berbeda-beda, sektor makanan dan minuman tetap muncul sebagai kontributor utama hampir di semua kawasan.
Temuan ini memperkuat pandangan bahwa krisis plastik tidak bisa diselesaikan hanya dengan memperbaiki sistem pengelolaan sampah di hilir. Peneliti menilai intervensi perlu dimulai dari hulu: mengurangi produksi plastik sekali pakai, mendesain ulang kemasan, hingga mendorong penggunaan ulang.
Pendekatan ini juga dinilai relevan untuk pembahasan perjanjian plastik global yang saat ini terus didorong di tingkat internasional. Dengan mengetahui produk mana yang paling banyak bocor ke lingkungan, kebijakan dapat dibuat lebih spesifik dan tidak lagi menggunakan pendekatan “semua plastik adalah masalah yang sama”.
Bagi Indonesia—yang termasuk lima negara dengan populasi terbesar dan masuk dalam cakupan studi—temuan ini menjadi pengingat bahwa kebiasaan konsumsi sehari-hari memiliki kaitan langsung dengan kondisi laut. Artinya, pengurangan sampah plastik mungkin perlu dimulai bukan dari pantai, melainkan dari apa yang kita beli, konsumsi, dan buang setiap hari.
Baca Juga: Laut Bercerita Akhirnya Difilmkan: Sebuah Pengingat Akan Luka yang Belum Usai
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular
-
Sudaryono Geram MBG Disebut Habiskan Uang Negara: Tanpa Program Ini Sekolah Rusak Tetap Banyak
-
Unai Emery Senang Kembali ke Indonesia, Aston Villa Siap Suguhkan Permainan Terbaik di GBK