News / Internasional
Kamis, 18 Juni 2026 | 09:01 WIB
Pemerintah Amerika Serikat dan Iran menyepakati nota kesepahaman baru demi memulihkan stabilitas ekonomi global. (AI)
Baca 10 detik
  • Amerika Serikat dan Iran menandatangani nota kesepahaman untuk menghentikan operasi militer secara permanen.

  • Kesepakatan mencakup pembukaan blokade Selat Hormuz dan bantuan rekonstruksi ekonomi Iran.

  • Teheran mendapat akses pencairan aset serta izin ekspor minyak mentah ke pasar dunia.

11. Amerika Serikat berjanji untuk menyediakan sepenuhnya dana dan aset Republik Islam Iran yang dibekukan atau dibatasi agar dapat digunakan setelah pelaksanaan MOU ini. Amerika Serikat dan Republik Islam Iran akan saling menyepakati prosedur terkait pelepasan dana ini selama negosiasi. Dana tersebut, baik dipertahankan di rekening asli atau ditransfer, harus dapat digunakan sepenuhnya untuk pembayaran kepada penerima akhir yang ditunjuk oleh Bank Sentral Republik Islam Iran. Amerika Serikat berjanji untuk mengeluarkan semua lisensi dan otorisasi yang diperlukan.

12. Amerika Serikat dan Republik Islam Iran sepakat bahwa mekanisme eksekutif akan dibentuk untuk memantau keberhasilan implementasi MOU ini dan kepatuhan masa depan terhadap kesepakatan akhir.

13. Setelah menandatangani MOU ini, dan tunduk pada dimulainya implementasi paragraf 1, 4, 5, 10, dan 11 dari MOU ini, serta kelanjutan implementasi langkah-langkah ini, Amerika Serikat dan Republik Islam Iran akan memulai negosiasi mengenai kesepakatan akhir secara eksklusif pada paragraf lainnya.

14. Kesepakatan akhir akan didukung oleh resolusi DK PBB yang mengikat.

Meskipun kesepakatan ini membuka peluang besar, draf ringkas di bawah 800 kata tersebut dinilai masih menyisakan banyak detail teknis. Beberapa pengamat menekankan bahwa pengaturan konkret terkait pengayaan nuklir Iran akan menjadi ujian berat dalam negosiasi lanjutan selama 60 hari ke depan.

Langkah pemerintahan Trump ini mengulang pola diplomasi berbasis target angka yang masif seperti yang pernah diterapkan pada konflik regional sebelumnya. Metode serupa berupa rencana 20 poin sempat diajukan untuk meredam konflik di Jalur Gaza, serta rencana 28 poin untuk menyelesaikan krisis Ukraina.

Melalui MOU terbaru ini, pembukaan blokade maritim dan pembersihan ranjau di Selat Hormuz menjadi prioritas mendesak demi memulihkan kepercayaan pasar global. Keberhasilan implementasi poin-poin awal ini akan menjadi penentu utama apakah kesepakatan final yang mengikat secara internasional dapat tercapai.

Load More