- Mohamad Ikhsan mengingatkan pemerintah waspada ancaman El Nino yang berpotensi memicu krisis ekonomi serta krisis pangan nasional.
- Fenomena El Nino diprediksi berpeluang tinggi menyebabkan gagal panen dan lonjakan kemiskinan seperti peristiwa tahun 1997 silam.
- Pemerintah perlu menerapkan manajemen risiko strategis dalam mengantisipasi gangguan pasokan pangan serta meningkatkan kapasitas ketahanan listrik nasional.
Suara.com - Guru Besar Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI) Mohamad Ikhsan mengingatkan pemerintah untuk mewaspadai ancaman El Nino yang berpotensi memicu krisis ekonomi, seperti yang pernah terjadi pada 1997.
Menurut Ikhsan, peluang terjadinya El Nino saat ini sangat tinggi sehingga pemerintah perlu menyiapkan langkah mitigasi sejak dini guna mengurangi dampaknya terhadap perekonomian nasional.
"Satu yang sudah hampir pasti terjadi, 90 persen, itu adalah El Nino. Pertanyaannya apa kita siap?" kata Ikhsan dalam diskusi Kondisi Ekonomi dan Demokrasi Indonesia yang digelar Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) di Jakarta, Rabu (17/6/2026).
Ia menjelaskan, El Nino berpotensi menyebabkan tanah menjadi lebih kering sehingga mengganggu produksi pangan nasional. Kondisi tersebut juga meningkatkan risiko kebakaran hutan akibat cuaca yang lebih kering.
Ikhsan mengingatkan bahwa El Nino menjadi salah satu faktor yang memperburuk kondisi ekonomi Indonesia pada 1997–1998. Menurutnya, lonjakan angka kemiskinan saat itu tidak semata-mata disebabkan oleh krisis moneter.
"Jangan lupa, tahun 97-98, kemiskinan itu 90 persen bukan karena krisis tapi karena El Nino yang menghancurkan produksi pertanian dan harga pangan yang melonjak tinggi."
Ia menambahkan, situasi tersebut semakin diperparah oleh pelemahan nilai tukar rupiah yang menyebabkan harga kebutuhan pokok, terutama beras, melonjak tajam.
"Kemudian ditambah dengan kurs yang melemah yang kemudian menyebabkan harga beras pokok itu menjadi sangat mahal. Tapi root persoalannya itu ada di El Nino tahun 1997," ungkapnya.
Karena itu, Ikhsan menilai pemerintah perlu membuka berbagai opsi kebijakan untuk mengantisipasi dampak El Nino.
Baca Juga: Chatib Basri, Menkeu Spesialis Krisis Ekonomi, Temui Prabowo di Istana, Luhut Jadi Pendamping
Menurutnya, pendekatan manajemen risiko harus menjadi prioritas agar gejolak harga pangan dan peningkatan angka kemiskinan dapat dicegah.
"Dari sisi risk management harusnya buka opsi selebar-lebarnya untuk memitigasi risiko itu," katanya.
Ia juga mengkritik munculnya retorika penolakan impor yang dinilai dapat mempersempit ruang gerak pemerintah dalam menghadapi potensi gangguan pasokan pangan.
Selain ancaman El Nino, Ikhsan turut menyoroti persoalan ketahanan listrik nasional. Menurutnya, kebutuhan listrik akan terus meningkat seiring berkembangnya teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI), pusat data (data center), dan digitalisasi ekonomi.
"Nah kalau listrik itu enggak kebangun, jangankan 8 persen, 3 persen aja tumbuhnya susah," ujarnya.
Ikhsan mempertanyakan kesiapan pemerintah dalam mengantisipasi berbagai tantangan tersebut. Ia menilai, sering kali persoalan yang mendesak justru tidak dijawab dengan kebijakan yang sesuai dengan prioritas.
"Apakah dari segi teknokrasi pemerintah itu sudah prepare enggak terhadap ini? Jadi kadang-kadang prioritasnya apa yang harus dilakukan, yang dijawab apa, jadi enggak nyambung," kata Ikhsan.
Berita Terkait
Terpopuler
- Bawa Kasus Penebangan Pohon ke Jalur Hukum, Farhan Siap Lapor Gubernur Jabar dan KLH
- Putusan MK soal Kuota Internet Hangus Ubah Peta Bisnis Operator, Pakar: Paket Data Bakal Berubah
- Harta Kekayaan Iptu Setya Budi Dias, Oknum KPK Pemeras Bupati Pemalang
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- 5 Sepatu Kasual Nyaman untuk Jalan Kaki di Kota, Ringan dan Empuk Dipakai Seharian
Pilihan
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
Terkini
-
Anak Kembali Aktif Bersekolah, Jangan Lupakan Perlindungan dari Demam Berdarah Dengue
-
Bypass Jantung Kini Tak Perlu Belah Tulang Dada, Teknik Minimal Invasif Percepat Pemulihan
-
Polisi Ungkap Plot Twist Kasus Jesslyn Wijaya, Dugaan Penculikan Terpatahkan
-
IHSG Diproyeksi Menguat Besok, Ini Saham yang Bisa Dipantau
-
Produk RI Makin Dilirik Asing, UMKM Perak Lokal Tembus Tiga Negara
-
Lowongan 94 Nakes di RSUD Arifin Achmad Pekanbaru, Rekrutmen Dibuka Agustus
-
BNI Wujudkan Mimpi Pasangan Miliki Rumah Pertama Setelah 14 Tahun Menikah
-
Kevin Hardino dan Rachel Kesyah Aurellia Terpilih Jadi Bujang Gadis Palembang 2026
-
BNI Perkuat Akses Hunian Masyarakat Lewat Akad Massal 62.710 KPR Rumah Subsidi
-
Leo/Daniel Jadikan Gelar Juara Taipei Open 2026 Sebagai Kado Ultah