- Sosiolog UGM, Arie Sujito, memperingatkan potensi kekacauan sosial akibat tekanan ekonomi dan penurunan kepercayaan publik terhadap pemerintah.
- Pemerintah didesak segera mengambil langkah strategis untuk mengatasi pelemahan rupiah, kenaikan harga kebutuhan, serta masalah layanan publik.
- Kasus korupsi di Badan Gizi Nasional menjadi momentum evaluasi sistemik guna mencegah ketidakstabilan politik dan sosial yang meluas.
Suara.com - Sosiolog Universitas Gadjah Mada (UGM), Arie Sujito, mengingatkan potensi chaos apabila negara tidak cepat dan tepat menangani berbagai persoalan yang kini berkembang di masyarakat.
Ia menilai tekanan ekonomi yang terus terjadi berisiko memicu krisis yang lebih luas bila pemerintah tidak memiliki langkah strategis.
Menurut Arie, situasi saat ini tidak bisa dianggap ringan. Pelemahan nilai rupiah, kenaikan harga kebutuhan, hingga persoalan layanan publik menjadi rangkaian masalah yang perlahan menumpuk dan memengaruhi kepercayaan masyarakat terhadap negara.
"Ya, chaos dan tidak kan sebetulnya tergantung negara memperlakukan masalah ini. Jadi yang paling penting itu krisis ini terjadi harus diatasi," kata Arie, dikutip Jumat (12/6/2026).
"Kalau negara tidak peka atau memiliki langkah-langkah strategis dalam jangka pendek maupun jangka menengah apapun bisa terjadi," imbuhnya.
Negara didesak untuk menunjukkan kredibilitas dalam menjawab keresahan publik. Sebab, kondisi ekonomi yang tidak stabil dapat dengan cepat berkembang menjadi persoalan politik apabila dibiarkan tanpa solusi yang jelas.
Arie menilai tanda-tanda tekanan tersebut mulai terlihat dari berbagai sektor. Mulai dari nilai tukar rupiah terhadap dolar hingga biaya kebutuhan masyarakat yang dinilai diam-diam mengalami kenaikan.
"Tapi saya rasa kalau kita bisa lihat di dalam tren misalnya penurunan nilai rupiah ke dolar. Terus kemudian misalnya soal listrik dan sebagainya diam-diam juga dinilai naik dan seterusnya. Itu PR yang sebenarnya tidak bisa dianggap ringan," ujarnya.
Arie menyebut, pemerintah tidak cukup hanya meredam gejolak di permukaan. Ia mengatakan negara perlu membangun respons yang konkret agar situasi tidak berkembang menjadi ketidakstabilan sosial dan politik.
Baca Juga: Mengapa Krisis Iklim Tak Selesai Saat Dunia Capai Net-Zero Emission? Studi Ungkap Penjelasannya
"Negara harus kredibel untuk menjawab problem ini," tandasnya.
Ia turut menyoroti kasus dugaan korupsi yang ada di Badan Gizi Nasional (BGN). Menurutnya temuan itu perlu dijadikan momentum evaluasi menyeluruh di tubuh pemerintah.
Persoalan yang muncul tidak cukup diselesaikan hanya dengan pergantian pimpinan semata. Apalagi kritik publik terhadap BGN selama ini menunjukkan persoalan sistemik yang sudah lama dirasakan masyarakat.
"Jangan sampai penggantian kepala BGN ini dan pimpinan ini hanya simbolik saja. Tapi yang paling penting itu harus diikuti perombakan-perombakan ke bawah," tegasnya.
Saat disinggung soal potensi gerakan mahasiswa seperti 1998, Arie menilai hal tersebut sangat bergantung pada kondisi krisis yang berkembang.
Ia mengatakan situasi ekonomi yang tidak terkendali dapat memunculkan berbagai spekulasi dan respons sosial di tengah masyarakat.
"Kalau krisis ini tidak terkendali misalnya soal rupiah. Terus kemudian harga-harga naik. Terus kesulitan ini itu, ya orang bisa berspekulasi apapun," ujarnya.
Berita Terkait
-
Mengapa Krisis Iklim Tak Selesai Saat Dunia Capai Net-Zero Emission? Studi Ungkap Penjelasannya
-
Lawan Krisis Iklim, Pemuda Lereng Merapi Boyolali Sulap Peternakan Domba Jadi Nol Limbah
-
Menyelamatkan Bumi Tanpa Menunggu Pahlawan: 'Less Waste' dari Diri Sendiri
-
Chatib Basri, Menkeu Spesialis Krisis Ekonomi, Temui Prabowo di Istana, Luhut Jadi Pendamping
-
Krisis Iklim Bikin Ruang Kelas Makin Panas: Ngaruh ke Konsentrasi Siswa?
Terpopuler
- Guru Besar UII: Publik Tak Cukup Tuntut Maaf, Layak Layangkan Mosi Tidak Percaya pada Prabowo
- Sayembara Rp10 Juta Dedi Mulyadi Dikritik UGM, Dinilai Cermin Gagalnya Negara Jamin Keamanan
- Tak Terima Disita, Pemilik Emas dan Uang Sitaan Kejagung di Kasus Febrie Bakal Ajukan Praperadilan
- Serum Viva untuk Flek Hitam Warna Apa? Ini 2 Varian Terbaiknya
- 5 Rekomendasi Parfum Aroma Vanilla di Alfamart, Wangi Mewah Tahan Lama untuk Harian
Pilihan
-
Bayi 'Putri Duyung' Lahir di OKI, Apa Itu Sirenomelia yang Membuat Kakinya Menyatu?
-
Bukan Sekadar Urusan Nasi Uduk di Matraman, 'Waspada Skenario Kerusuhan Agustus 2026'
-
Penjaga Rumah Febrie Adriansyah Ditemukan Tewas, Mulut dan Hidung Berbusa
-
Febrie Adriansyah Resmi Ditahan Kejagung, Teriak Kriminalisasi Saat Digiring ke Mobil Tahanan
-
Takut Lumpuh, Hotman Paris Pilih Mundur Jadi Pengacara Febrie Usai Pijit di Bojong Gede Tak Mempan
Terkini
-
Bank Sumsel Babel Perkuat Pembiayaan UMKM, Dukung Target 100.000 Sultan Muda Sumsel
-
Intimidasi Satpam MRT Usai Terobos Lampu Merah, 3 Polisi Arogan Polda Jabar Di Patsus 21 Hari
-
Polres Tangsel Buka-bukaan Soal Kasat Narkoba dan 6 Anggotanya Diringkus Bareskrim Polri
-
Cegah Ledakan Sampah Saat Kemarau, DLH dan Damkar Tangsel Kolaborasi Semprot TPA Cipeucang
-
Hattrick Mewah Mitchell Baker Bawa Indonesia Bantai Kamboja 5-1 di Piala AFF 2026
-
Pendaki Gunung Dempo yang Bikin Geger karena Senapan Angin Berhasil Dievakuasi
-
Hasil Akhir: Awal Sempurna Piala AFF 2026, Timnas Indonesia Gasak Kamboja 5-1
-
Akademisi Binus: Dugaan Korupsi Eks Jampidsus Bernilai Besar, Penanganannya Tak Boleh Istimewa
-
Tren Belanja Parfum Berubah, Pengalaman Mencoba Aroma Kini Jadi Daya Tarik
-
Bukan Sekadar Cantik, Makeup Kini Dituntut Praktis dan Nyaman Dipakai Seharian