News / Internasional
Jum'at, 19 Juni 2026 | 10:46 WIB
Serangan udara Israel kembali mengguncang Lebanon. Kali ini, jet tempur Israel membombardir kawasan pinggiran selatan Beirut yang dikenal sebagai basis kuat pasukan Hizbullah. [istimewa]
Baca 10 detik
  • Sersan Israel Alexander Filin tewas akibat ledakan bom rakitan Hizbullah di Lebanon selatan.

  • Dua perwira tinggi militer berpangkat Kolonel dan Letnan Kolonel ikut terluka dalam insiden Sungai Litani.

  • Serangan ganda drone peledak terpisah melukai lima tentara Israel saat fajar membara di perbatasan.

Suara.com - Pasukan militer Israel kehilangan 1 personel dan menghadapi luka parah pada belasan tentara lainnya di wilayah Lebanon selatan. Sederet ledakan hantaman bom rakitan serta pesawat tanpa awak milik perlawanan Hizbullah menjadi pemicu utama jatuhnya korban tersebut.

Insiden mematikan ini berawal saat unit infanteri dari Divisi 36 dan Brigade Givati menggelar operasi darat di sekitar Sungai Litani. Sebuah bom rakitan tersembunyi mendadak meledak di tengah pergerakan mereka pada Rabu sore waktu setempat.

Sersan Kepala Alexander Filin yang berusia 29 tahun terkonfirmasi mengembuskan napas terakhir dalam penugasan tempur tersebut. Pemuda asal Haifa ini merupakan anggota aktif yang ditempatkan pada pos komando Divisi 36 militer Israel.

Wilayah penyerbuan Hizbullah di Israel utara. (ANTARA/Anadolu/py/am.)

Gelombang ledakan hebat itu tidak hanya merenggut nyawa Filin, tetapi juga melukai 7 rekan 1 timnya. Tiga di antara korban luka merupakan perwira dan prajurit cadangan yang kini menderita cedera kategori sedang.

Korban yang mengalami luka tingkat menengah diidentifikasi sebagai Wakil Komandan Divisi 36 berpangkat Kolonel. Selain itu, Komandan Batalyon 556 yang memegang pangkat Letnan Kolonel turut menjadi korban dalam peristiwa ini.

Empat personel militer lainnya juga dilaporkan menderita luka ringan akibat sebaran serpihan material bom rakitan tersebut. Kelompok korban luka ringan ini terdiri atas 1 bintara tempur serta 3 tentara dari unit cadangan.

Satu di antara barisan tentara cadangan yang mengalami cedera ringan tersebut dipastikan merupakan seorang prajurit wanita. Pasukan Pertahanan Israel langsung meluncurkan tembakan artileri berat ke arah fasilitas yang dituduh sebagai sarang teror.

Serangan militer Israel kembali mengguncang Lebanon dan menewaskan sedikitnya sembilan orang, termasuk tenaga medis, dalam eskalasi terbaru yang juga menjangkau pinggiran ibu kota Beirut. [Istimewa]

Pihak berwenang militer saat ini tengah menggelar investigasi menyeluruh guna mendalami kronologi kegagalan deteksi ranjau darat itu. Kepergian sang prajurit memicu gelombang duka mendalam bagi publik di wilayah asal korban.

"Mengekspresikan kesedihan yang mendalam atas berita kematian Filin dan menyampaikan belasungkawa kepada keluarga," kata Wali Kota Haifa Yona Yahav dikutip dari Jpost, jumat (19/6/2026)

Baca Juga: Iran dan AS Sepakat Damai, Komisi I DPR RI: Israel Jangan Jadi Provokator!

Di lokasi berbeda pada hari yang sama, badai serangan Hizbullah kembali menghantam formasi pertahanan pasukan Israel. Dua unit drone peledak dilaporkan berhasil menyusup dan melukai 5 tentara yang beroperasi di medan tempur.

Satu pesawat tanpa awak meledak tepat di samping armada tank milik Brigade Givati pada dini hari. Pecahan tajam dari bodi pesawat nirawak tersebut langsung melukai 4 prajurit yang berada di sekitar kendaraan baja.

Helikopter penyelamat segera diterbangkan ke lokasi konflik demi mengevakuasi para korban menuju rumah sakit terdekat. Tak berselang lama, drone peledak kedua kembali menghantam area tersebut dan melukai 1 tentara tambahan.

Kondisi medis 1 prajurit dinyatakan sangat kritis, sementara sisanya menderita kombinasi luka kategori sedang hingga ringan. Respons cepat kembali dilakukan militer Israel dengan mengguyur wilayah sekitar menggunakan tembakan artileri jarak jauh.

Peristiwa berdarah ini memperpanjang catatan kelam operasi militer Israel di sepanjang perbatasan wilayah Lebanon bagian selatan. Ketegangan geopolitik kedua pihak terus meruncing sejak perintah perluasan infiltrasi darat resmi diberlakukan tahun ini.

Kawasan sekitar Sungai Litani sejak lama menjadi garis batas krusial yang diperebutkan dalam peta pertempuran Timur Tengah. Kegagalan taktis menghadapi ranjau improvisasi dan drone murah kini menjadi tantangan berat bagi pergerakan infanteri Israel.

Load More