-
Iran memandang Amerika Serikat dan Israel sebagai satu kesatuan pihak dalam memorandum damai.
-
Perang belum berakhir sepenuhnya sebelum militer Israel mundur dari wilayah jajahan di Lebanon.
-
Teheran mengategorikan setiap serangan baru Israel sebagai bentuk pelanggaran nyata kesepakatan damai.
Suara.com - Iran mematok posisi tawar baru dalam peta perdamaian Timur Tengah dengan menyeret Amerika Serikat dan Israel ke dalam satu paket tanggung jawab hukum yang sama.
Langkah diplomatik ini diambil untuk memastikan komitmen gencatan senjata di Lebanon berjalan tanpa celah pelanggaran tersembunyi.
Teheran menegaskan kesepakatan tidak akan bernilai jika Washington gagal mengendalikan aksi militer Tel Aviv di lapangan.
Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi menyampaikan pandangan tegas tersebut di hadapan perwakilan misi diplomatik asing pada Selasa.
Araghchi menilai kubu sekutu itu berada pada posisi yang sama menghadapi poros perlawanan.
"Saya ingin menekankan poin penting: Dari perspektif kami, satu pihak dalam memorandum ini adalah Amerika Serikat dan Israel, pada pihak lain yaitu Iran dan Hizbullah," kata Araghchi.
Kesepakatan ini mengikat seluruh pihak untuk menghentikan segala bentuk konfrontasi bersenjata di wilayah Lebanon.
Iran memandang berakhirnya perseteruan di Lebanon menjadi kunci utama meredam ketegangan yang lebih luas antara Washington dan Teheran.
Stabilitas kawasan tidak akan tercapai selama agresi militer masih menyisakan pendudukan fisik di tanah Lebanon.
Baca Juga: Selebrasi Pistol Mohammad Mohebi di Piala Dunia 2026 Tuai Kontroversi, FIFA Didesak Bertindak
Araghchi mengingatkan pertempuran akan terus membara jika tentara zionis enggan keluar dari wilayah yang baru saja mereka kuasai.
"Tanpa penarikan pasukan Israel dari wilayah yang mereka jajah selama perang saat ini, perang tak dapat dianggap berakhir sepenuhnya," ucap dia.
Iran juga mengancam akan merespons keras setiap tindakan provokasi militer baru yang diluncurkan pasca-memorandum.
Serangan sekecil apa pun terhadap kedaulatan Lebanon akan langsung dikategorikan sebagai pelanggaran fatal terhadap kesepakatan damai.
Sikap keras Teheran ini mencerminkan dinamika baru dalam konflik geopolitik yang melibatkan aktor negara dan non-negara di Timur Tengah.
Ketegangan regional sebelumnya terus memuncak setelah aksi saling balas serangan udara yang melibatkan militer Israel dan kelompok Hizbullah.
Berita Terkait
Terpopuler
- Daftar Harga Motor Listrik dengan Subsidi Pemerintah, Ada yang Cuma Rp5 Jutaan!
- Survei SMRC: Elektabilitas Gerindra Anjlok Tajam, Peluang Jadi Partai Nomor 1 Terancam
- 5 Kulkas Mini yang Murah dan Hemat Listrik, Bisa Dipakai di Kamar Kos dan Mobil
- Nasib Berubah, Ini 4 Shio yang Panen Keberuntungan dan Rezeki pada 29 Juli 2026
- 5 Sepatu Lari Terbaik Harga Rp200 Ribuan, Nyaman Dipakai untuk Daily hingga Trail Run
Pilihan
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
-
Banyak Air Galon Isi Ulang di Bangka Barat Belum Diuji, Amankah Dikonsumsi Setiap Hari?
-
Dicecar 23 Pertanyaan Penyidik KPK, Ini Kata Plt Bupati Sukoharjo
-
Cuma Sisa Rp200 Juta! Perampok Rp1,2 Miliar di Kalideres Diciduk Usai Habiskan 1 M Dalam 8 Hari
Terkini
-
Pelatih Indonesia All Stars Minta Pemain Jangan Minder Saat Tantang Aston Villa
-
Promo RI: Belanja Kebutuhan Harian di Farmers Market dan Pasarina Dapet Diskon Besar!
-
Raih Opini WTP BPK, Purbaya Klaim Jadi Bukti Fiskal Sehat
-
Mendiktisaintek Didesak Tindak Lanjuti Rekomendasi Irjen soal Dugaan Plagiasi Guru Besar Unsoed
-
Bayar Cicilan Kendaraan Pakai BRImo Bisa Dapat Cashback 10 Persen, Cek Syaratnya!
-
Bea Cukai Ungkap Penerimaan Negara dari Ekspor Sawit Pangkalan Bun Tembus Rp 1,74 Triliun
-
Sempat Sulitkan Timnas Indonesia, John Herdman Angkat Topi Buat Timor Leste
-
Investasi Rp1 Triliun, Jakarta Kembangkan Kawasan Peternakan Sapi Terintegrasi di Banten
-
Di Balik Kemenangan Gugatan MBG, Putusan MK Dinilai Sarat Kompromi Politik
-
Mahasiswa UGM Terangi Jalan Gelap Banyuwangi, Hadirkan Energi Bersih dan Ekonomi Sirkular