- Pakar ekonomi UMY menilai tantangan utama ekonomi Indonesia adalah belum optimalnya tata kelola pemerintahan dalam mengelola sumber daya.
- Imamudin Yuliadi optimistis ekonomi akan membaik dalam beberapa bulan ke depan seiring meredanya tensi geopolitik global saat ini.
- Kebijakan efisiensi anggaran pemerintah berdampak negatif bagi daerah yang ekonomi lokalnya masih bergantung pada belanja negara tersebut.
Suara.com - Persoalan utama ekonomi Indonesia saat ini dinilai bukan terletak pada masyarakat yang menahan belanja atau pelaku usaha yang kesulitan berkembang.
Tantangan terbesar justru berada pada tata kelola pemerintahan yang dinilai belum mampu mengoptimalkan berbagai program strategis dan sumber daya negara untuk mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih merata.
Pakar Ekonomi Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Imamudin Yuliadi, mengatakan berbagai program pemerintah pada dasarnya memiliki tujuan yang baik.
Namun, pelaksanaannya di lapangan masih membutuhkan penguatan ekosistem, pengawasan, dan tata kelola agar manfaatnya benar-benar dapat dirasakan masyarakat.
"Kalau tata kelola sumber daya alam dan program-program strategis diperbaiki, ruang fiskal pemerintah akan jauh lebih longgar. Dampaknya bisa digunakan untuk pendidikan, kesehatan, pengembangan UMKM, hingga penciptaan lapangan kerja," kata Imamudin, Jumat (19/6/2026).
Dalam kondisi sekarang, ia mengaku masih optimistis terhadap kondisi ekonomi Indonesia dalam dua hingga tiga bulan mendatang.
Optimisme tersebut didasarkan pada mulai meredanya tensi geopolitik global yang berpotensi menurunkan harga minyak dunia serta menguatnya nilai tukar rupiah dalam beberapa waktu terakhir.
Adapun fluktuasi nilai tukar rupiah terhadap dolar AS masih berlangsung. Nilai tukar rupiah pada Jumat pagi bergerak melemah 51 poin atau 0,29 persen menjadi Rp17.845 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp17.794 per dolar AS
"Saya masih optimistis. Rupiah mulai menguat, tensi politik global mulai membaik, dan pemerintah terlihat merespons berbagai masukan masyarakat untuk melakukan evaluasi program-program yang ada," tandasnya.
Baca Juga: Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?
Di tengah optimisme tersebut, ia menyoroti pemerintah daerah yang kini menghadapi tantangan akibat kebijakan efisiensi anggaran.
Imamudin menilai pemahaman mengenai efisiensi anggaran perlu dibedakan secara tegas antara upaya mengurangi kebocoran dan pengurangan belanja pemerintah.
Sebab, pengurangan anggaran secara langsung berpotensi mengurangi kekuatan ekonomi yang selama ini digerakkan negara.
"Kalau efisiensi diartikan sebagai pengurangan anggaran ke daerah, maka jelas kekuatan ekonomi yang didorong pemerintah akan berkurang. Namun, jika efisiensi dimaknai sebagai upaya mengurangi kebocoran anggaran, maka itu merupakan langkah yang sangat positif," tandasnya.
Disampaikan Imamudin, dampak efisiensi tidak dirasakan secara merata di setiap daerah. Wilayah yang sektor swastanya telah berkembang masih memiliki bantalan ekonomi.
Sedangkan daerah yang aktivitas ekonominya masih bergantung pada program pemerintah akan menerima tekanan yang lebih besar.
Berita Terkait
-
Peringatan Keras The Economist untuk Indonesia: Saatnya Rem Kebijakan yang Terlalu Ekspansif?
-
Purbaya Akui China Sempat Khawatir soal Kondisi Fiskal RI
-
Jeffrey Hendrik Jadi Bos Baru BEI, Core Indonesia: Investor Lebih Peduli Kondisi Ekonomi RI!
-
Pemerintah Diminta Perkuat Fiskal dan Transformasi Sektor Riil
-
Jajaran Direksi Himbara Merapat ke Istana, Prabowo Gelar Rapat Tertutup Bahas Ekonomi
Terpopuler
- Aliansi BEM Bersatu: Mobil Fortuner Tiyo Ardianto Tercatat Milik Adik Letjen Purn Setyo Sularso
- Jadwal Pemadaman Listrik PLN Kamis 18 Juni 2026 Wilayah Jogja Jateng, Cek Daftar Lokasinya
- 6 Sepatu Adidas Samba Lagi Diskon 50 Persen di Website Resmi, Kesempatan Langka Separuh Harga
- Struktur Kuno Muncul Kembali di Sendang Kamulyan Trenggalek
- 7 Sunscreen Flek Hitam untuk Usia 50 Tahun ke Atas sesuai Review dan Harga
Pilihan
-
Bukan Sekadar Karaoke, Orutaku Club Jadi Mesin Waktu Bagi Wibu Generasi 90-an
-
Kejagung Tetapkan Glory Harimas Sihombing Tersangka, Dugaan Jual Beli Titik Dapur MBG Terungkap
-
Wamensesneg Terluka Kena Batu, Kivlan Zen Berdarah Saat Eksekusi Hotel Sultan GBK Ricuh
-
Ketegangan Memuncak di Hotel Sultan: Eksekusi Lahan Jadi Arena Perlawanan
-
'Sempurna Hanya Milik Allah!' Massa Gelar Aksi Damai Minta MBG Lanjut dan Sikat Koruptornya!
Terkini
-
PDIP Tegaskan Jadi Penyeimbang Pemerintah: Bukan Abu-abu, Tapi Teman yang Jujur
-
Kabel Menjuntai Renggut Nyawa Siswi SMAN 6 Jakarta, Pramono Turun Tangan
-
Ketua DPR Iran ke AS: Jangan Minta Hal Berlebihan, Kami Tak Ragu Menghancurkan
-
Giliran Kelompok Tani Geruduk Patung Kuda, Suarakan Pengaruh MBG Hingga Reforma Agraria
-
Alasan KPK Belum Periksa Anggota Pansus Haji Diduga Terima 1 Juta Dolar AS
-
Pagar Masih dari Bambu, Gibran Janjikan Revitalisasi Sekolah untuk Wilayah 3T
-
Jakarta Ramai Unjuk Rasa, Pramono Ingatkan Massa Peserta Aksi: Jangan Sentuh Fasilitas Umum
-
Ekonom Celios Pertanyakan Anggaran MBG Rp268 Triliun: Kalau Fokus ke 3T, Cukup Rp67 Triliun
-
Dukung Penangkapan Eks Kepala BGN, Tani Merdeka: Program Prabowo Bagus, Oknumnya yang Main!
-
Polri hingga KPK Ajukan Tambahan Anggaran, Legislator PKB Minta Kinerja Berdampak Nyata