News / Nasional
Jum'at, 19 Juni 2026 | 15:41 WIB
Wakil Ketua Komisi IX DPR RI, Yahya Zaini. (Dok: DPR)
Baca 10 detik
  • Badan Gizi Nasional melakukan evaluasi total program Makan Bergizi Gratis demi meningkatkan efektivitas dan efisiensi anggaran pemerintah.
  • Celios mengkritik anggaran program tersebut yang dianggap tidak masuk akal serta menuntut fokus pada wilayah 3T.
  • Komisi IX DPR RI berkomitmen memperketat pengawasan melalui rapat berkala dengan Badan Gizi Nasional terkait pelaksanaan program.

"Komisi IX akan rutin mengadakan rapat dengan BGN untuk melakukan pengawasan," pungkasnya.

Sebelumnya, Program makan bergizi gratis (MBG) dikritik hanya menjadi kegiatan bagi-bagi keuntungan bagi kelompok tertentu yang dekat dengan pemerintah.

Ekonom Politik Center of Economic and Law Studies (Celios), Media Wahyudi Askar, mengatakan, praktik itu terlihat dari pelaksanaan program yang dinilai tidak masuk akal, terutama dalam penyusunan anggaran.

Menurut Media, anggaran MBG tidak perlu sampai ratusan triliun apabila sasarannya diberikan untuk masyarakat di wilayah terdeoan, terluar, dan tertinggal (3T) serta kelompok 3B atau busui, bumil, dan balita.

"Jika program dilanjutkan dengan sasaran wilayah 3T, keluarga miskin, balita, dan ibu hamil, anggarannya hanya sekitar Rp67 triliun untuk 26 juta penerima. Bukan Rp268 triliun, seperti yang dianggarkan sekarang," kata Media, dikutip dari postingan di akun media sosialnya, Jumat (19/6/2026).

Dari perhitungan yang ia lakukan dibandingkan dengan penggunaan anggaran oleh pemerintah untuk Badan Gizi Nasional (BGN), maka ditemukan selisih sebesar Rp201 triliun.

"201 T ini untuk siapa? Ini bancakan, memperkaya segelintir orang. Please, hentikan irasionalitas ini!" kritiknya.

Dalih bahwa MBG untuk memberantas stunting juga dinilai Media hanya gimmick semata.

Karena nyatanya sebaran pembangunan dapur MBG justru masih terpusat di Pulau Jawa, padahal angka stunting terbanyak justru ada di Provinsi Papua Pegunungan yang mencapai 40 persen.

Baca Juga: Mahasiswa Trisakti Minta MBG Dihentikan Sementara, Dinilai Serampangan dan Berisiko bagi APBN

Media mengatakan kalau di Papua Pegunungan hanya ada 13 dapur MBG. Sementara Provinsi Jawa Barat dengan angka stunting 15 persen telah dibangun sebanyak 6.347 dapur MBG.

"Stop gimmick menggunakan stunting sebagai alibi untuk mempertahankan MBG. Tidak. Kalian tidak mengatasi stunting. Pemerintah justru memperlebar ketimpangan," tegasnya.

Load More