- Gobel Group membangun ekosistem ketahanan pangan terpadu di Gorontalo untuk meningkatkan nilai tambah hasil pertanian dan kesejahteraan masyarakat.
- Strategi hilirisasi melalui kawasan industri dan pelabuhan internasional dirancang untuk mempermudah distribusi hasil panen ke pasar global.
- Kemitraan strategis dengan perusahaan internasional menghubungkan petani lokal ke dalam rantai pasok global agar memperoleh keuntungan lebih.
Suara.com - Selama bertahun-tahun, pembicaraan mengenai ketahanan pangan di Indonesia hampir selalu berpusat pada satu hal: bagaimana meningkatkan produksi. Bibit unggul, pupuk, mekanisasi pertanian, hingga perluasan lahan menjadi agenda yang terus diulang. Namun, pengalaman menunjukkan bahwa panen yang melimpah tidak otomatis membuat petani lebih sejahtera atau menjamin pasokan pangan nasional tetap kuat.
Masalahnya sering kali muncul justru setelah panen selesai.
Gambaran tersebut juga tercermin dalam berbagai laporan lembaga nasional maupun internasional. Badan Pangan Dunia (FAO) berulang kali menekankan bahwa ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh ketersediaan pangan, tetapi juga kelancaran distribusi, akses pasar, dan kemampuan menciptakan nilai tambah di sepanjang rantai pasok. Sementara itu, berbagai publikasi Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan sektor pertanian masih menjadi penopang kehidupan jutaan rumah tangga Indonesia, sehingga persoalan pascapanen dan distribusi memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan masyarakat.
Hasil pertanian yang melimpah kerap kehilangan nilai karena minimnya fasilitas pengolahan, mahalnya biaya distribusi, terbatasnya akses menuju pasar, hingga panjangnya rantai perdagangan yang membuat keuntungan terbesar tidak selalu dinikmati oleh petani maupun nelayan.
Di sinilah ketahanan pangan memasuki babak yang lebih kompleks. Ia bukan lagi sekadar persoalan menghasilkan lebih banyak pangan, melainkan bagaimana membangun sebuah ekosistem yang mampu menghubungkan produksi, industri, logistik, hingga pasar dalam satu rantai nilai yang saling menguatkan.
Cara pandang inilah yang kini coba diwujudkan Gobel Group melalui berbagai investasi strategis di Gorontalo.
Ketahanan Pangan Tak Berakhir di Sawah
Bagi banyak orang, Gobel Group identik dengan industri elektronik. Namun di balik perjalanan hampir tujuh dekade perusahaan tersebut, terdapat benang merah yang konsisten: membangun industri yang memberikan manfaat bagi masyarakat.
Komitmen itu bahkan telah dimulai sejak 1963 ketika pendiri Gobel Group, almarhum Thayeb Mohammad Gobel, mendirikan PT Pabrik Diesel dan Traktor (Paditraktor). Perusahaan tersebut menghadirkan berbagai alat mekanisasi pertanian, mulai dari traktor, pengering gabah, mesin pengolah beras, hingga penyemprot hama untuk membantu petani meningkatkan produktivitas.
Baca Juga: BPK Dukung BULOG Wujudkan Swasembada Pangan Lewat Tata Kelola Akuntabel
Warisan pemikiran itu kemudian berkembang mengikuti perubahan zaman.
Jika pada masa lalu tantangan pertanian adalah meningkatkan hasil panen, maka hari ini tantangannya adalah memastikan hasil panen tersebut memiliki nilai tambah yang mampu meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Karena itulah Gobel Group tidak berhenti pada penyediaan teknologi pertanian. Perusahaan ini mulai membangun mata rantai berikutnya—mulai dari kawasan industri, pelabuhan internasional, akses pasar global, hingga kemitraan industri pengolahan.
Pendekatan tersebut diperkenalkan kembali kepada publik melalui partisipasi Gobel Group dalam Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo.
"Bagi Gobel Group, ketahanan pangan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan meningkatkan produksi pertanian dan perikanan. Ketahanan pangan memerlukan ekosistem yang mampu menghubungkan petani dan nelayan dengan teknologi, infrastruktur, industri hilir, sistem logistik yang efisien, serta akses pasar yang berkelanjutan," ujar Chairman Gobel Group, Rachmat Gobel, dalam Pembukaan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII 2026 di Gorontalo.
Pernyataan tersebut menunjukkan bahwa ketahanan pangan tidak lagi dipandang sebagai persoalan sektoral, melainkan sebuah sistem yang saling terhubung dari hulu hingga hilir.
Berita Terkait
Terpopuler
- Mengenal Lisda Cancer, Perwira Tinggi Polri yang Pensiun Tak Lama Usai Jadi Brigjen
- Skenario Timnas Indonesia Jika Imbang atau Kalah dari Vietnam di Piala AFF 2026
- Sunscreen Apa yang Bagus untuk Menghilangkan Flek Hitam di Wajah? Ini 3 Rekomendasi sesuai Review
- Fortuna Sittard Ogah Jual Justin Hubner ke Klub Super League
- 4 Shio Beruntung Hari Ini 4 Agustus 2026: Macan hingga Babi Berpeluang Dapat Kabar Baik
Pilihan
-
Pagar Besi di Mal-mal, Benarkah untuk Antisipasi Plot Kerusuhan Agustus?
-
Desa Kecil, Mimpi Mendunia: Ketika Kolaborasi Mengubah Wajah Kemiren
-
Kejagung Geledah Rumah Eks Jampidsus Febrie yang Pernah Dijaga TNI
-
Kematian Sutrimo dan Rangkaian Kejanggalan yang Muncul dari Kampung Halaman
-
Pengintai Misterius dan CCTV Mendadak, Kejanggalan di Rumah Sutrimo
Terkini
-
Mosi Tidak Percaya! Jajaran Wakasek dan Guru SMPN di Subang Mundur Massal
-
Lolos ke Final Usai Singkirkan Persija, Lucho Keluhkan Lapangan Dipta yang Keras dan Kering
-
Singkirkan Arema FC, Persebaya Tantang Persib di Final Piala Presiden 2026
-
Apa Itu Registration Ban FIFA? Ini Penyebab Klub Sriwijaya FC Bisa Dilarang Daftar Pemain
-
Jejak Kasus Haji Halim Ali, Dari Pengusaha Besar hingga Ahli Waris Kembalikan Rp127 Miliar
-
Modus Penimbun Pertalite Terbongkar, Isi BBM Berulang Pakai Barcode Berbeda di SPBU
-
Geger Temuan Mayat Mutilasi dalam Karung Beras di Pancoran Mas Depok
-
Jelang HUT ke-81 RI, Masjid Indonesia Pertama di Kanada Barat Resmi Berdiri
-
Diduga Bawa Kabur Kamera Rp200 Juta, DJ Wanita dan Suaminya Dipolisikan di Bogor
-
5 Perubahan Contact Center di Era Generative AI, Tak Lagi Sekadar Layanan Pengaduan