- Aparat Polda Metro Jaya mengawal ketat ujian doktoral Dokter Tifa terkait kasus ijazah palsu pada Jumat, 19 Juni 2026.
- Prof. Suzie Sudarman menilai intervensi aparat di lingkungan Universitas Indonesia tersebut mencederai kebebasan akademik dan otonomi kampus.
- Akademisi mendesak rektorat segera bersikap karena kehadiran aparat menciptakan intimidasi yang menghambat proses berpikir serta inovasi di universitas.
Suara.com - Masuknya aparat kepolisian ke ranah akademik saat pelaksanaan ujian doktoral (S3) Tifauzia Tyassuma atau Dokter Tifa menuai kritik keras.
Langkah tersebut dinilai mencederai kebebasan akademik dan merusak iklim otonomi yang seharusnya steril dari intervensi kekuasaan.
Kritik ini disampaikan oleh akademisi senior Universitas Indonesia (UI), Prof. Suzie Sudarman. Menurutnya, tindakan aparat yang mengawasi jalannya ujian akademis di lingkungan kampus merupakan preseden buruk yang tidak lazim.
"Ini sudah melebihi dari autocratic legalism. Autocratic legalism yang disertai oleh teror. Karena seseorang yang akan diuji kenapa harus diteror?" kata Suzie dalam wawancara di Forum Keadilan TV.
Penangkapan Dokter Tifa oleh penyidik Polda Metro Jaya atas kasus dugaan fitnah ijazah palsu pada Jumat (19/6/2026) memicu sorotan tajam.
Pasalnya, pegiat media sosial tersebut terpaksa menjalani sisa proses ujian doktoralnya di bawah pengawalan ketat aparat kepolisian.
Suzie menilai, tindakan represif di lingkungan kampus tanpa prosedur yang jelas melanggar batas otonomi universitas.
Berdasarkan aturan, institusi pendidikan tinggi memiliki otoritas penuh atas teritorinya sendiri yang tidak boleh diintervensi sembarangan.
"Masuknya aparat pemerintah secara represif ke dalam kampus itu harus dengan seizin rektor. Apalagi seorang yang sedang akan mengalami ujian, kenapa hal tersebut harus diganggu?" tegas akademisi yang juga menjabat sebagai Ketua Pusat Studi Amerika UI tersebut.
Baca Juga: Diangkut Mobil Tahanan ke RS Polri, Roy Suryo Bercelana Pendek, Dokter Tifa Berompi Oranye
Ia menambahkan, kehadiran aparat di ruang ujian secara psikologis mengganggu jalannya proses akademik. Kebebasan berpikir dan berinovasi di lingkungan kampus, menurut Suzie, hanya bisa tumbuh jika steril dari intimidasi luar.
"Tindakan intrusi dari pemerintahan yang meneror universitas akan mengganggu kebebasan berpikir untuk inovasi. Universitas adalah tempat menemukan sesuatu, mempatenkan sesuatu," jelasnya.
Hingga saat ini, pihak rektorat UI belum memberikan pernyataan resmi terkait insiden tersebut. Suzie pun mendesak agar pimpinan universitas segera bersuara dan meminta masukan dari Dewan Guru Besar untuk menentukan sikap.
Menurutnya, mendiamkan peristiwa ini sama saja dengan memberikan persetujuan secara tidak langsung terhadap tindakan represif aparat di wilayah akademik. Dan ada kemungkinan kejadian serupa bisa terjadi lagi kapan saja dan menimpa siapa saja.
Berita Terkait
Terpopuler
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- 4 Genset Mini Portable Praktis dan Senyap, Solusi Saat Mati Listrik
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Ikuti Jejak Hotel Sultan, Otto Hasibuan Diminta Ikhlas Lepas Lapangan Golf Ottolima ke Negara
- 4 Bohlam Lampu Emergency LED Terbaik Otomatis Nyala saat Mati Listrik, Lebih Aman Tanpa Lilin
Pilihan
-
Program Ayah Ambil Rapor Tuai Dilema, Anak Yatim hingga Buruh Harian Punya Cerita Berbeda
-
Jelang Lawan Mesir, Striker Iran Mehdi Taremi Ditahan Otoritas AS
-
Semua Pengurus BEM FH UBK Dipecat, Kasus Suap Rp 20 Juta dari Polisi
-
Satu Kapal Tanker Pertamina Lolos dari Selat Hormuz
-
Tahan Inggris, Pelatih Ghana Sindir VAR: Saya Tak Yakin Masih Berfungsi
Terkini
-
3 Manajer KDMP-KNMP Meninggal, Amnesty Desak Latsarmil Dihentikan
-
Gempa Besar Venezuela: Ribuan Orang Hilang Dampaknya Sampai Sejauh 1700 Km
-
Fadli Zon Dorong Cerita Rakyat Jadi Gerakan Nasional, Bukan Sekadar Warisan Budaya
-
KPK Cecar Eks Sekjen MPR Maruf Cahyono Soal Bukti-Bukti Gratifikasi Rp17 Miliar
-
Gus Ipul Ajak SP2MI Ambil Peran di Program Sekolah Rakyat
-
19 Ribu Anak Garut Putus Sekolah, Bupati 'Todong' ASN hingga Pengusaha Jadi Orang Tua Asuh!
-
Riset Ungkap Skema Hibah dan Pinjaman Lunak Paling Efektif Danai PLTS Komunitas
-
Hari Pelaut Sedunia, Pelindo Dukung Potensi Ekonomi di Selat Malaka
-
Prabowo Percepat Pengembangan Mobil Nasional hingga Farmasi, Kampus Diminta Kejar Kebutuhan SDM
-
Geledah Kantor BKP Sumsel, KPK Temukan Bukti Upaya Ubah Opini WTP Usai Bupati Muara Enim Kena OTT