- Jubir PSI Dian Sandi Utama membantah tuduhan bahwa Wakil Presiden Gibran memberikan uang kepada mahasiswa saat pertemuan.
- Ketua BEM FH UBK, Muhammad Abdi Maludin, mengakui menerima sejumlah uang terkait aksinya setelah bertemu Wakil Presiden.
- Isu pemberian uang ini memicu aksi protes dari rekan mahasiswa UBK yang menuntut klarifikasi serta pertanggungjawaban pengurus organisasi.
Suara.com - Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Dian Sandi Utama menanggapi pengakuan seorang mahasiswa yang menerima sejumlah uang terkait pertemuan dengan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka.
Dian menegaskan bahwa berdasarkan informasi yang ia terima, pemberian uang tersebut dilakukan sebelum mahasiswa yang menggelar aksi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, bertemu dengan Gibran.
“Saya tidak tau apa motifnya namun mengarahkan isu diberikan oleh Mas Wapres, itu yang saya tolak keras karena sudah terlalu banyak anak muda/ mahasiswa/i yang sudah bertemu dengan Mas Wapres, mereka melakukan audiens dan lain-lain, saya berani memastikan tidak ada satupun dari mereka yang pernah diberikan uang,” kata Dian kepada Suara.com, Rabu (24/6/2026).
Lebih lanjut, Dian juga mengelaborasi pernyataannya melalui unggahan di X yang menyebut Gibran tidak akan main-main dengan mahasiswa Universitas Bung Karno (UBK).
“Saya hanya sedang menyatir bahwa tidak mungkin Mas Wapres itu bermain-main dan kenapa saya menulis Univ Bung Karno, itu karena saya melihat jejak dari civitas akademika maupun gerakan mahasiswanya selama ini cukup kritis terhadap Pak Jokowi maupun Mas Wapres,” tutur Dian.
“Jadi, tidak masuk akal bagi saya Mas Wapres akan bermain-main dengan mereka,” tandas dia.
Sebelumnya, pertemuan antara Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dan perwakilan mahasiswa yang sebelumnya menggelar aksi demonstrasi di kawasan Patung Kuda, Jakarta Pusat, menjadi sorotan setelah muncul pengakuan salah satu peserta pertemuan terkait penerimaan sejumlah uang.
Diketahui, Wapres Gibran menerima 15 perwakilan mahasiswa dari berbagai kampus di Istana Wakil Presiden, Jakarta, pada 15 Juni 2026.
Pertemuan tersebut berlangsung dalam format dialog dan membahas sejumlah isu yang disuarakan mahasiswa, mulai dari evaluasi program Makan Bergizi Gratis (MBG), penolakan program Koperasi Desa Merah Putih, hingga kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM).
Baca Juga: Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?
Saat itu, Koordinator Aksi sekaligus Ketua BEM Fakultas Hukum Universitas Bung Karno (UBK), Muhammad Abdi Maludin, menyatakan bahwa pertemuan tersebut merupakan hasil dari gerakan mahasiswa dan tidak didesain oleh pihak tertentu.
“Tidak ada desain politik atau settingan dari awal. Itu murni hasil dari gerakan kami di Universitas Bung Karno,” ujar Abdi kepada media usai pertemuan.
Namun, sepekan setelah pertemuan tersebut, Abdi menjadi sorotan di lingkungan kampusnya. Pada Senin (22/6/2026), sejumlah mahasiswa UBK menggelar forum internal untuk meminta penjelasan terkait isu penerimaan dana yang beredar di media sosial.
Dalam forum tersebut, Abdi mengakui menerima uang. Pengakuan itu kemudian tersebar luas di media sosial dan memicu berbagai tanggapan dari mahasiswa.
“Terkait uang itu, memang saya terima. 20 persen,” kata Abdi dalam video yang beredar, dikutip dari akun Instagram @soalunsrat, Selasa (23/6/2026).
Dalam keterangan pada akun tersebut, tertulis bahwa uang yang dijanjikan sebesar Rp300 juta, namun Abdi baru menerima 20 persen.
Disebutkan pula bahwa Abdi mengaku menerima uang agar bisa mengondisikan teman-temannya untuk tidak ikut aksi di Istana Negara. Ia juga mengklaim bahwa selain dirinya, ada sejumlah nama lain dari organisasi mahasiswa di lingkungan UBK yang turut menerima dana tersebut.
Menanggapi persoalan itu, mahasiswa UBK menyampaikan sejumlah tuntutan kepada para pengurus organisasi mahasiswa yang disebut terlibat. Di antaranya, meminta klarifikasi terbuka, pengunduran diri dari jabatan organisasi, hingga permintaan maaf kepada civitas akademika kampus.
Berita Terkait
-
Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?
-
Suap Ketua BEM UBK Coreng Wajah Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Bayaran Jadi Penyakit Akut
-
Isu Rapat Khusus Berisi Perintah Awasi Gibran, Gerindra Sebut Hanya Mengawasi Harga Sembako
-
Militerisme Menguat! 1.047 Pembela HAM Diserang di Era Prabowo-Gibran
-
Dugaan Rp20 Juta Usai Demo, UBK Nonaktifkan Ketua BEM dan Bentuk Tim Investigasi
Terpopuler
- 4 Pompa Air Kedalaman 20 Meter ke Atas, Hemat Listrik dan Tekanan Air Stabil
- Gaji di Bawah Rp 8 Juta Kini Masuk Kategori Berpenghasilan Rendah
- Mahasiswa UBK Tuntut Pengurus BEM Mundur usai Diduga Terima Suap dari Wapres Gibran
- Bedak Marcks Tabur untuk Usia Berapa? Ini Penjelasan dan 3 Pilihan Variannya
- 3 Pompa Air Otomatis untuk Sumur Dalam, Air Deras dan Mesin Awet
Pilihan
-
Pelarian Berakhir! Taufik Hidayat Penyekap dan Penyiksa Pacar 3 Tahun Ditangkap di Bandung Raya
-
UBK Nonaktifkan Ketua BEM FH dari Jabatan Usai Mengaku Terima Suap Rp20 Juta dari Oknum Polisi
-
Sisi Gelap 'Operasi Penertiban Sawit' Satgas PKH dan Tentara di Tesso Nilo
-
Pertama Kali Dalam Sejarah Piala Dunia! Badai Petir Hentikan Prancis vs Irak
-
Anak Mantan Bupati Sleman, Raudi Akmal Jadi Tersangka Korupsi Dana Hibah Pariwisata
Terkini
-
Skandal Suap BEM UBK Usai Bertemu Gibran di Istana, Siapa Bermain?
-
2 Calon Manajer Kopdes Merah Putih Tewas saat Latihan Militer, Ini Penyebabnya
-
Teriak 'Kaki Saya Patah' saat Jaga Demo di DPR, Ternyata Ini Diagnosis Medis AKBP Adri Desas
-
Kritik Pedas Mobilisasi Siswa Batam Demi Program MBG: Menyesatkan dan Tak Mendidik
-
Buntut Kasus Gus Yaqut, KPK Periksa Dirjen PHU Kemenag Hilman Latief
-
Suap Ketua BEM UBK Coreng Wajah Gerakan Mahasiswa, Aktivisme Bayaran Jadi Penyakit Akut
-
Dini Hari Mencekam di Duren Sawit: Api Lahap Warung Kelontong, 18 Jiwa Nyaris Terpanggang
-
Anak Sekolah Rawan Terinjak di Demo Makan Gratis Batam: Siapa yang Harus Diseret ke Hukum?
-
Kecelakaan Truk di Flyover Tomang, Material Besi Berserakan Lumpuhkan Jalur
-
Perpecahan di Partai Republik? Kongres AS Desak Trump Hentikan Agresi Militer ke Iran