Suara.com - Saat membicarakan polusi udara di kota-kota besar, perhatian publik biasanya tertuju pada sumber yang paling terlihat: asap kendaraan, emisi industri, partikel PM2.5, atau karbon dioksida (CO2).
Di Indonesia, isu ini menjadi semakin dekat dengan kehidupan sehari-hari, terutama di wilayah perkotaan seperti Jakarta, Tangerang, dan Surabaya yang berulang kali menghadapi kualitas udara buruk.
Namun, penelitian terbaru menunjukkan bahwa ada aktor lain yang selama ini jarang menjadi pusat perhatian, meskipun berpotensi memengaruhi pembentukan polusi udara secara signifikan.
Gas tersebut adalah nitrogen monoksida (NO).
Dalam studi berjudul Nitric oxide can enhance secondary aerosol precursor formation from aromatic carbonyls, para peneliti menemukan bahwa peran nitrogen monoksida dalam atmosfer ternyata lebih kompleks dibanding pemahaman sebelumnya.
Selama ini, NO kerap dipandang sebagai senyawa yang dapat membatasi pembentukan zat-zat tertentu yang kemudian berkembang menjadi aerosol sekunder—partikel halus yang terbentuk melalui reaksi kimia di udara.
Namun, temuan baru menunjukkan gambaran yang tidak sesederhana itu.
Gas yang selama ini dianggap menekan polusi ternyata bisa ikut membentuknya
Menurut peneliti dalam studi tersebut, Sharon Barua, nitrogen monoksida ternyata dapat membantu mempercepat terbentuknya senyawa baru dari gas-gas volatil di atmosfer.
Baca Juga: Label Poliester Daur Ulang Terlihat Ramah Lingkungan, tetapi Apakah Benar Berkelanjutan?
Senyawa inilah yang kemudian berkembang menjadi prekursor aerosol sekunder—komponen yang berperan dalam pembentukan partikel halus penyebab polusi udara.
Temuan ini penting karena aerosol sekunder bukan hanya berkaitan dengan kesehatan manusia.
Partikel tersebut juga dapat mengurangi jarak pandang, memengaruhi pembentukan awan, serta berdampak pada dinamika cuaca dan iklim.
Artinya, kualitas udara perkotaan tidak hanya ditentukan oleh apa yang langsung keluar dari knalpot atau cerobong, tetapi juga oleh proses kimia yang terjadi setelah berbagai emisi bercampur di atmosfer.
Dari kendaraan hingga produk sehari-hari
Penelitian ini juga menyoroti bahwa nitrogen monoksida bukan senyawa yang langka.
Berita Terkait
Terpopuler
- 10 Pantangan Feng Shui Rumah yang Sebaiknya Dihindari, dari Pintu hingga Kamar Mandi
- 3 HP Infinix Memori 256 GB dan NFC Harga Rp1 Jutaan, Solusi Multitasking hingga Gaming
- 3 HP Xiaomi RAM 8 GB Murah di Bawah Rp1 Juta, Ini Pilihannya
- KPAI Desak Audit Total MBG: Tata Kelola Gagal, Anak-anak Jadi Korban Ambisi Program
- Ramalan Shio 9 Agustus 2026: 5 Shio Bakal Buang Kesialan dan Buka Jalan Keberuntungan
Pilihan
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
-
Bocoran Reshuffle Kabinet Agustus: Norman Joesoef Bakal Dilantik Jadi Wamenhan RI
Terkini
-
Pengacara Yoyok Sukawi Bantah Aset Disita, Kuasa Jual Juga Ditolak PN Semarang
-
10 Momen Kece yang Wajib Kamu Tahu sebelum Nonton Spider-Man: Brand New Day
-
2 Rekomendasi Cushion Hanasui untuk Kulit Berminyak Sesuai Klaim dan Review Pembeli
-
Prabowo Pilih Destry Jadi Calon Tunggal Gubernur BI, Airlangga Blak-blakan di Balik Keputusan Ini?
-
Review House of the Dragon Season 3: Hancurnya Moralitas Para Penguasa!
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Sungai Musi Surut! Tinggi Muka Air Kini Cuma 0,88 Meter
-
Pasokan Semen Aceh Tertekan, SIG Perkuat Pabrik dan Distribusi
-
Karhutla 200 Hektare di OKI Belum Sepenuhnya Padam, Tim Kejar Ekor Api
-
Bukan Sekadar Jumpscare, Aghniny Haque Ungkap Horor Berbeda di "Bisikan Desa Gringsing"