News / Internasional
Senin, 29 Juni 2026 | 11:09 WIB
Gempa bumi dahsyat di Venezuela menewaskan 235 orang dan melukai ribuan warga lainnya. (Antara)
Baca 10 detik
  • Gempa bumi kembar berkekuatan besar menewaskan lebih dari 1.400 orang di Venezuela.

  • Kerusakan jembatan dan jalan memicu kelangkaan pangan akut di kota La Guaira.

  • Warga mengkritik minimnya fasilitas evakuasi pemerintah di tengah situasi darurat pascabencana.

Suara.com - Gempa bumi kembar berkekuatan magnitudo 7,2 dan 7,5 menghancurkan wilayah utara Venezuela dalam hitungan detik. Bencana mematikan ini merenggut lebih dari 1.400 nyawa dan memutus total akses logistik ke wilayah terdampak parah.

Runtuhnya jembatan dan jalan utama membuat distribusi bantuan pangan serta air bersih lumpuh total. Kondisi ini memaksa warga lokal di kota pelabuhan La Guaira mengambil barang kebutuhan pokok dari toko-toko demi bertahan hidup.

Kelumpuhan ini membuka mata dunia mengenai rapuhnya manajemen infrastruktur darurat di negara tersebut. Pemerintah dinilai tidak siap menghadapi bencana besar di tengah krisis kemandirian ekonomi yang sudah lama berlangsung.

Dampak Mengerikan Gempa Venezuela, Korban Tewas Bertambah Jadi 589 Orang. [Photo/newswires]

Presiden Pelaksana Delcy Rodríguez menegaskan kepada rakyat Venezuela bahwa mereka tidak berjalan sendirian menghadapi petaka ini. Namun, di lapangan, gerak lambat tim penyelamat membuat keluarga korban terpaksa menggali reruntuhan secara mandiri.

“Hari-hari yang sangat berat akan segera tiba,” kata Neida Pernilla, seorang warga Caracas.

“Menurut saya, kita harus belajar dari segala hal yang sedang kita alami. Bahwa hidup ini singkat—hanya sesaat. Kita harus bersyukur kepada Tuhan, Bunda Maria, atau kepada siapa pun yang kita yakini, atas kenyataan bahwa kita masih hidup; dan kita perlu menjadi lebih manusiawi, lebih kooperatif, serta lebih rendah hati.”

Ketidakpastian nasib ribuan orang yang hilang memicu ketegangan hebat di lingkungan padat penduduk hingga kawasan elite. Harapan kian menipis seiring berjalannya waktu emas evakuasi 72 jam di bawah sengatan cuaca tropis.

Bau menyengat dari material yang membusuk memaksa warga mengenakan masker saat mendekati puing-puing bangunan. Rasa duka yang mendalam menyelimuti setiap sudut kota, terutama di wilayah pesisir Playa Los Cocos.

“Kami, pihak keluarga, yang berupaya membongkar puing-puing demi menemukan kerabat kami,” ujar warga lokal Mileidy Duque, 43 tahun.

Baca Juga: Pesan Terakhir Istri Pemain Argentina Sebelum Ditemukan Tewas Bersama Anak di Gempa Venezuela

“Ibu saya yang berusia 82 tahun, saudara laki-laki saya, putri saya, serta kekasihnya masih belum ditemukan.”

“Situasi ini sungguh menyedihkan, bukan hanya bagi saya, melainkan bagi seluruh Venezuela. Saya tak bisa berkata-kata untuk menggambarkan bagaimana rasanya saat diliputi ketakutan bahwa keluarga Anda terjebak di sana,” kata Duque kepada CNN.

“Saya merasa tak berdaya; situasinya sangat sulit.”

Bagi masyarakat La Guaira, bencana ini membangkitkan ingatan kelam pada tragedi tanah longsor besar Desember 1999 silam. Kala itu, Universitas Sentral Venezuela memperkirakan hampir 15.000 orang tewas tanpa ada angka resmi pemerintah.

Lindomar Milla, warga lain yang kehilangan saudaranya, membandingkan kedua peristiwa mengerikan tersebut di luar kamar jenazah Caracas. Ia melihat kehancuran kali ini jauh lebih masif dan tidak terduga.

“Hati saya hancur, namun saya bersyukur kepada Tuhan karena saya tahu di mana mereka berada,” ujar Milla kepada CNN.

Load More