Bisnis / Makro
Senin, 29 Juni 2026 | 09:51 WIB
Ilustrasi ekonomi Indonesia. [Ist]
Baca 10 detik
  • Pasar logistik ASEAN diproyeksikan mencapai 390 miliar dolar AS pada tahun 2030 dengan Indonesia sebagai kontributor utama kawasan.
  • AFFA Council Mid-Year Meeting 2026 di Batam membahas penguatan konektivitas logistik guna menghadapi tantangan rantai pasok global.
  • Peningkatan efisiensi logistik dilakukan melalui digitalisasi kepabeanan, sistem perdagangan terintegrasi, serta pengembangan kompetensi sumber daya manusia di ASEAN.

Suara.com - Nilai pasar logistik dan freight di kawasan ASEAN diproyeksikan mencapai sekitar 390 miliar dolar AS atau sekitar Rp6.958,77 triliun pada 2030.

Indonesia dinilai memiliki peluang besar memanfaatkan pertumbuhan tersebut sebagai kontributor terbesar sektor logistik di Asia Tenggara.

Proyeksi tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam ASEAN Federation of Forwarders Associations (AFFA) Council Mid-Year Meeting 2026.

Forum tersebut mempertemukan asosiasi logistik dari negara-negara ASEAN untuk membahas penguatan konektivitas logistik kawasan di tengah perubahan rantai pasok global.

Ketua Umum DPP Asosiasi Logistik dan Forwarder Indonesia (ALFI), M. Akbar Djohan, mengatakan, penguatan konektivitas logistik menjadi kunci agar ASEAN tetap kompetitif di tengah ketidakpastian ekonomi global.

"Konektivitas logistik adalah urat nadi integrasi ekonomi ASEAN. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan pergeseran rantai pasok global, kawasan kita harus memperkuat kolaborasi agar tetap kompetitif. Forum ini menjadi ruang bagi para pelaku untuk menyatukan langkah dan merumuskan posisi bersama," ujar Akbar kepada wartawan, Senin (29/6/2026).

Lambang ASEAN. [Tangkapan layar IG ASEAN]

Senior Vice President International Federation of Freight Forwarders Associations (FIATA) sekaligus Ketua Dewan Penasihat AFFA, Yukki Nugrahawan Hanafi, mengatakan Batam dipilih menjadi tuan rumah karena memiliki posisi strategis sebagai pintu gerbang perdagangan kawasan.

Menurutnya, letak Batam yang berada di jalur Selat Malaka menjadikannya salah satu simpul logistik penting yang menghubungkan Indonesia dengan pasar regional maupun global.

"Batam adalah contoh nyata bagaimana konektivitas pelabuhan, fasilitasi perdagangan, transformasi digital, dan infrastruktur logistik dapat menopang daya saing Kawasan," kata Yukki.

Baca Juga: Pengusaha Jasa Kurir Janji Ikut Tekan Biaya Logistik Nasional yang Masih Tinggi

Menurutnya, menjadikan Batam tuan rumah adalah penegasan komitmen kita untuk mengangkat simpul-simpul logistik baru yang berkontribusi pada integrasi ekonomi ASEAN.

Selain itu, disoroti juga soal percepatan implementasi ASEAN Single Window, modernisasi kepabeanan, digitalisasi freight forwarding, penerapan Electronic Bill of Lading (eBL), hingga pengembangan sumber daya manusia sektor logistik.

Yukki menilai, efisiensi logistik tidak hanya ditentukan oleh pembangunan infrastruktur fisik, tetapi juga tata kelola, pemanfaatan teknologi digital, serta peningkatan kapasitas tenaga kerja.

"Fasilitasi perdagangan yang lancar harus ditopang sistem digital yang aman dan SDM yang kompeten. Efisiensi logistik tidak terbatas pada infrastruktur fisik, tetapi juga tata kelola, teknologi, serta investasi pada pendidikan, pengembangan keterampilan, dan kapasitas talenta yang relevan dengan kebutuhan industri," jelasnya.

Load More