-
Gempa bumi kembar berkekuatan besar menewaskan lebih dari 1.400 orang di Venezuela.
-
Kerusakan jembatan dan jalan memicu kelangkaan pangan akut di kota La Guaira.
-
Warga mengkritik minimnya fasilitas evakuasi pemerintah di tengah situasi darurat pascabencana.
“Ada keluarga-keluarga dari berbagai penjuru negeri yang hingga kini belum mengetahui apakah kerabat mereka masih hidup atau sudah meninggal. Sungguh menyakitkan.”
“Situasi ini jauh lebih buruk daripada bencana tanah longsor,” tambah Milla.
“Begitu banyak orang yang masih mencari orang-orang terkasih mereka. Ada orang-orang yang pergi ke La Guaira dan mendapati bangunan-bangunan yang sudah tidak ada lagi.”
Di tengah duka, kemarahan publik mencuat akibat minimnya kesiapan peralatan vertikal dan logistik pemadam kebakaran. Pengarsipan data korban hilang bahkan masih ditulis manual di atas lembaran kertas tanpa sistem digital.
“Kami ingin percaya bahwa tetangga kami di Petunia I akan diselamatkan hidup-hidup,” ungkap Susana Henriquez yang cemas menunggu kabar kawannya.
“Aku punya banyak teman di sana,” ucap Henriquez sambil menahan air mata di depan kompleks Petunia yang runtuh.
Keterbatasan ini justru memicu gerakan kerelawanan masif dari kelompok mahasiswa dan pemuda di ibu kota. Mereka menggalang bantuan obat-obatan, pakaian, serta makanan kering secara swadaya untuk disalurkan langsung.
“Saya dan teman-teman memutuskan untuk berkumpul dan mulai mengumpulkan makanan serta berbagai kebutuhan lainnya untuk disalurkan kepada warga yang terdampak. Saya melihat beberapa kelompok mahasiswa lain juga melakukan hal serupa,” jelas Mariana Sanchez, seorang mahasiswa berusia 20 tahun.
“Masyarakat sangat mengapresiasi hal ini. Di saat-saat seperti inilah warga Venezuela bersatu dan saling membantu untuk bangkit; sungguh sangat menginspirasi.”
Baca Juga: Pesan Terakhir Istri Pemain Argentina Sebelum Ditemukan Tewas Bersama Anak di Gempa Venezuela
Aksi penggalangan dana juga meluas hingga ke luar negeri melalui komunitas diaspora di Miami, New York, dan Madrid. Mereka mengirimkan berbagai kebutuhan pokok bayi dan peralatan darurat untuk meringankan beban korban di tanah air.
“Tidak peduli berapa tahun berlalu sejak saya meninggalkan Venezuela, saya akan selalu merasakan penderitaan negara itu,” kata Marcos Mirabal, warga Miami saat distribusi donasi.
“Saya membawa popok, senter, pakaian. Anak-anak perempuan saya memiliki begitu banyak pakaian dan ada begitu banyak anak di negara itu yang menderita saat ini.”
Sebelum dua gempa bumi besar ini mengguncang, rakyat Venezuela sudah lama hidup dalam jeratan krisis ekonomi kronis. Inflasi tinggi yang tidak sebanding dengan pendapatan harian membuat mayoritas warga kesulitan memenuhi kebutuhan pangan pokok.
“Sungguh tak masuk akal bahwa saat ini sudah tahun 2026, namun negara ini masih beroperasi dengan cara seperti ini,” kritik Gustavo Quintero kepada CNN.
“Kami terpaksa mencari nama orang-orang terkasih kami pada lembaran kertas yang ditulis tangan; petugas pemadam kebakaran tidak memiliki sumber daya yang memadai untuk menolong warga. Bahkan kebutuhan logistik dasar pun tidak tersedia.”
Tekanan ekonomi global dan iklim politik yang represif telah mendorong jutaan warga bermigrasi ke negara tetangga seperti Kolombia dan Amerika Serikat. Gempa bumi kembar ini menjadi ujian terberat bagi ketahanan sosial bangsa yang tengah rapuh ini.
“Kami tidak pernah menyerah,” tegas Miguel Martínez, mahasiswa hukum berusia 18 tahun, kepada CNN.
“Kami sudah melalui banyak hal dan ketika keadaan menjadi sulit, yang bisa kami lakukan hanyalah saling menyemangati.”
Berita Terkait
Terpopuler
- 4 HP Murah Terbaru 2026 untuk Anak Sekolah: Baterai 7000 mAh hingga Koneksi 5G
- 3 Rekomendasi Bedak Padat di Indomaret untuk Makeup Halus dan Tahan Lama
- 5 Shio yang Menarik Keberuntungan 28 Juni 2026, Hari Penuh Hoki dan Kesempatan
- 4 Sepatu Kanky Terlaris di Shopee, Nyaman Dipakai Seharian Sesuai Review Pembeli
- Keunggulan Pompa Air Shimizu PL-138 BIT, Solusi Air Jernih Anti Karat
Pilihan
-
Sejarah! Timnas Voli Indonesia Kalahkan Korsel dan Juara AVC Mens Volleyball Cup 2026
-
Bumi Berguncang! Gempa 6,2 M Hantam Afghanistan, Getaran Terasa Hingga India
-
Perang Meletus Lagi! Iran Hantam Basis AS di Teluk, Gencatan Senjata Runtuh
-
Pelatih Timnas Iran Desak Infantino Tegas Terhadap AS: Perlakuan Mereka Buruk!
-
Korban Meninggal Latsarmil SPPI Bertambah Menjadi 5 Orang, Ini Penjelasan Kemhan
Terkini
-
Iphone XS Rp 34 Juta Tak Dibayar Pemenang Lelang KPK
-
Pakar UGM Nilai Pelatihan Militer untuk Manajer Koperasi Salah Arah
-
KPK Minta RS Polri Segera Tuntaskan Perawatan Gus Yaqut
-
Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!
-
Sadis Kasus Mayat Dalam Koper di Thailand, Warga Australia Bunuh Perempuan 17 Tahun
-
DPR Minta Kasus Judi Online Rp13,9 Triliun Tak Berhenti di Operator, Bos Besar Harus Diungkap
-
Roy Suryo Telat Masuk Ruang Sidang: Tadi Saya Harus Wajib Lapor Dulu di Kejaksaan Jaksel
-
Gagal Sembunyi! Penyelundup 325 Kg Sabu Thailand Gunakan Chat Enkripsi Militer Ditangkap Bareskrim
-
Ada Bukti CCTV! Korban Pencurian di Jakpus Protes Kasus Malah Dihentikan Polisi
-
Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini