- Peneliti UGM Subarsono mengkritik pelatihan militeristik bagi manajer Koperasi Desa Merah Putih karena mengakibatkan lima peserta meninggal dunia.
- Pendekatan militer dinilai tidak relevan dengan pengelolaan koperasi yang seharusnya mengutamakan prinsip demokrasi, partisipasi, serta musyawarah anggota organisasi.
- Pemerintah didesak menghentikan pelatihan militer tersebut dan menggantinya dengan kurikulum manajerial yang berorientasi pada pengembangan bisnis serta inovasi koperasi.
Suara.com - Dosen dan peneliti Departemen Manajemen dan Kebijakan Publik UGM, Subarsono, menyoroti pendekatan ala militeristik yang digunakan bagi para manajer Koperasi Desa Merah Putih (KDMP).
Apalagi kini tercatat sudah ada 5 korban meninggal dunia saat mengikuti latihan dasar kemiliteran (latsarmil).
Menurutnya, tanggung jawab utama manajer justru berada pada aspek pengelolaan organisasi dan bisnis koperasi. Sehingga tidak berkaitan dengan pelatihan melalui baris-berbaris, apel, lari hingga penggunaan senjata.
"Mereka bertanggung jawab untuk mengelola staf, mengawasi arus kas, memastikan target penjualan tercapai, serta melaporkan kinerja bisnis kepada pengurus secara berkala demi kesejahteraan anggota," kata Subarsono, Senin (29/6/2026).
"Sedang dalam dunia militer terjemahan disiplin bisa berbeda, misalnya ikut apel pagi tepat waktu, tunduk pada perintah atasan, dan tidak salah dalam berbaris," tambahnya.
Pelatihan yang lebih relevan semestinya berfokus pada tata kelola koperasi, kepemimpinan, manajemen sumber daya manusia, manajemen keuangan digital, kewirausahaan, inovasi model bisnis, perencanaan strategis hingga pemasaran digital.
Ada pun implikasi besar yang terjadi ketika manajer koperasi dilatih secara militeristik, kata Subarsono, bisa berdampak pada lunturnya demokrasi dalam koperasi.
Penggunaan pendekatan militer dalam berbagai program sipil, terutama dalam KDMP dinilai sebagai kebijakan yang salah arah. Pasalnya, koperasi merupakan organisasi sipil yang mengutamakan prinsip demokrasi, partisipasi anggota dan musyawarah.
Sedangkan, organisasi militer memiliki budaya sistem komando, komunikasi satu arah dan absennya budaya dialog.
Baca Juga: Pakar UGM Usul 3 Reformasi MBG: Fokus ke Siswa Miskin hingga Benahi Menu
"Ketika manajer koperasi dilatih secara militeristik, ada potensi akan menggunakan pendekatan militer dalam tata kelola koperasi, dan menggeser budaya demokrasi ke arah sistem komando, komunikasi satu arah, jauh dari partisipasi dan hilangnya budaya dialog," tandasnya.
Selain itu, ia tak menyebut sangat mungkin inovasi yang dihasilkan oleh koperasi pun berkurang. Pasalnya manajer terjebak pada SOP yang sudah baku dan hanya sekadar mengejar target.
Pegawai serta anggota jadi enggan menyampaikan ide baru sebab ruang dialog hilang diganti dengan sistem komando.
Berbagai kasus pendirian KDMP di lokasi yang tidak tepat, seperti di lokasi yang jauh dari pemukiman penduduk atau di perbukitan atau bahkan di tengah hutan sebagai bukti tidak adanya dialog antara pemegang otoritas KDMP dengan warga setempat.
"Masyarakat hanya dipandang sebagai obyek dalam kehadiran proyek KDMP sehingga publik tidak akan merasa memiliki," tegasnya.
Bagi Subarsono, lima kematian peserta latsarmil menjadi alasan yang sangat kuat untuk menghentikan model pelatihan tersebut dan mengevaluasi kebijakan secara menyeluruh.
Berita Terkait
Terpopuler
- Demi Ketenangan Almarhum, Orang Tua Affan Kurniawan Mohon Tak Ada Peringatan Setahun Kematian
- Masuk Desil 10 Padahal Penghasilan Pas-pasan? Jangan Panik, Ini Arti dan Penjelasan Resminya
- 12 Ikan Hias Pembawa Keberuntungan Menurut Feng Shui, Cocok untuk Akuarium di Rumah
- Jelang FIFA ASEAN Cup 2026, Kevin Diks Tegas Sistem Empat Bek Lebih Cocok
- Mau Terlihat Lebih Muda? Ini 5 Pilihan Warna Lipstik yang Bisa Dicoba
Pilihan
-
Masih Banyak Warga NTT Terjebak di Bawah Reruntuhan Bangunan, 2000 Orang Mengungsi
-
Info Terbaru Gempa NTT: 15 Warga Manggarai Tewas, 280 Bangunan Jadi Puing
-
5 Bandara Rusak Diguncang Gempa NTT, Landasan Pacu Sampai Retak
-
Pesona Masjid Pancasila Kediri: Sederhana di Luar, Bikin Pangling di Dalam
-
Prabowo: Ojol Sekarang Dapat 92 Persen Hasil Kerja, Pendapatannya Naik 3 Kali Lipat
Terkini
-
Semarak Kemerdekaan, Intip Promo Spesial BRI
-
Duka Bintang Persib: Rumah Orang Tua Saddil Ramdani Ludes Terbakar di Muna Barat
-
Rayakan HUT ke-81 RI, BRI Tebar Promo Spesial
-
Bukan Sekadar Warisan: Cara Anak Muda Ini Bikin Sektor Pertanian Terlihat Keren di Mata Gen Z
-
Kado HUT ke-81 Kemerdekaan RI, Gubernur Khofifah Gratiskan Naik Trans Jatim pada 17 Agustus 2026
-
31 Gempa Susulan Guncang NTT, Masih Ada Warga Terjebak di Reruntuhan
-
Harta Kekayaan Ketua MA Sunarto yang Gajinya Disebut Prabowo Lebih Besar dari Ketua MA Singapura
-
Gaji Istri Lebih Besar, Apakah Adil Kendali Finansial Tetap di Suami?
-
4 Sepatu Under Armour Terbaik untuk Lari hingga Ngegym, Mulai Rp500 Ribuan
-
Memahami Sesar Naik Flores, Busur Raksasa di Balik Gempa 7,7 Hari Ini