- Presiden ke-7 RI Jokowi melakukan ritual adat menginjak kepala kerbau saat melakukan kunjungan kerja di Provinsi Lampung.
- Aksi tersebut memicu perdebatan politik antara PDIP dan PSI terkait makna simbolis prosesi adat masyarakat Lampung tersebut.
- PSI mengkritik PDIP karena dianggap merendahkan budaya, sementara PDIP membantah adanya maksud politis dalam menanggapi ritual tersebut.
Bestari justru membalikkan pertanyaan tersebut, dengan mempertanyakan kredibilitas Andreas dalam menilai langkah politik orang lain.
"Dia yang membuat standarisasi. Dia itu siapa kok menentukan arah orang lain?" kata Bestari.
Ketegangan antara kedua pihak ini, seolah mempertegas jurang pemisah yang semakin lebar antara kubu pendukung Jokowi dan PDIP.
Bestari menyarankan agar PDIP lebih fokus membenahi internal partai, ketimbang terus-menerus melontarkan komentar negatif terhadap Jokowi hanya berdasarkan rasa ketidaksukaan atau luka lama politik.
"Kalau tidak suka, ya hindari. Kalau luka, kecewa, terdegradasi karena ditinggal Jokowi, berbenah diri dulu. Ini kadang mengaku oposisi, terkadang tidak oposisi. Tidak jelas jenis kelaminnya," kata dia.
Sebagai penutup kritiknya, Bestari bahkan meminta Ketua Umum PDIP, Megawati Soekarnoputri, untuk turun tangan mendisiplinkan para kadernya.
Ia berharap agar pendidikan mengenai penghormatan terhadap budaya daerah dimasukkan ke dalam kurikulum internal partai agar kejadian serupa tidak terulang kembali.
"Semoga Ibu Megawati bisa menasihati anak buahnya. Itu supaya bisa menghormati budaya masyarakat Indonesia. Masukkan kurikulum sekolah kader PDIP," kata Bestari.
Baca Juga: Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!
Berita Terkait
-
Roy Suryo: Penangkapan Saya Seperti Film G30S/PKI, Polisi Masuk Kamar dan Larang Mandi!
-
Roy Suryo Telat Masuk Ruang Sidang: Tadi Saya Harus Wajib Lapor Dulu di Kejaksaan Jaksel
-
Gugat Polisi dan Jaksa di Kasus Ijazah Jokowi! Roy Suryo Jalani Sidang Praperadilan Hari Ini
-
Pakar Manajemen Publik: Ambisi Politik Keluarga Jokowi Berisiko Rusak Kepercayaan Demokrasi
-
Ditanya Bro Ron Masih Kuat atau Tidak di Lampung, Jawaban Singkat Jokowi Bikin Heran
Terpopuler
- TNI Mau Ambil Alih Kamtibmas? TB Hasanuddin: Itu Tugas Polri
- Cara Menata Isi Dompet yang Baik Menurut Feng Shui agar Rezeki Lebih Lancar
- 6 Tanda-Tanda Rumah Memiliki Energi Positif Chi yang Membuat Penghuni Tenang
- 5 Sunscreen untuk Flek Hitam Usia 30 Tahun ke Atas Sesuai Review dan Harga
- Media Italia Sebut Jay Idzes Masuk Radar PSG: Transfer Mewah untuk Sassuolo
Pilihan
-
Kampung Bahari Memanas! Massa Lawan BNN dan Brimob Pakai Petasan saat Gerebek Narkoba
-
Sudah Dibangun Sejak 2023, Sejauh Mana Bibit Sriwijaya Kemampo Pulihkan Hutan Sumsel?
-
Napak Tilas Jejak Kolonial Londo Ireng di Makam Kherkof Purworejo
-
100 Personel Damkar Masih Berjibaku Padamkan Kebakaran Gedung Bapenda DKI
-
Kantor Bapenda DKI Jakarta Dilalap si Jago Merah, Api Semakin Membesar
Terkini
-
Menolak Bungkam! Rakyat Kecil di Kota Bogor Tuntut Keadilan Hak Tanah yang Diduga Diserobot
-
Tukang Cukur dan Camat Sudah Minta Maaf, Netizen Masih Buru Pelaku Perekam Video Viral
-
Tanggapi Insiden Tukang Cukur di Rancabungur, Bupati Bogor: Mari Bersama Maknai Kemerdekaan
-
Cara Seru Jakarta Ajak Ratusan Pelajar Kenali Pariwisata Berkelanjutan
-
Nekat Panjat Atap Hingga Bakar Dua Motor, Evakuasi Pria ODGJ di Cibadak Sukabumi Menegangkan
-
BRI Perluas Akses Pembiayaan KUR Petani di Bengkayang Guna Swasembada Pangan
-
Retribusi Melempem, Benyamin Davnie Bentuk Perseroda 'Citra Anggrek Mandiri' Kelola Pasar Tangsel
-
Geledah Jateng-Jatim, KPK Cari Bukti untuk Tetapkan Tersangka Baru dalam Kasus Suap Pajak
-
Bupati Brebes Temui Siswa Sespimmen Polri, Bahas Persoalan Pupuk Subsidi
-
Kembalikan Hak Pejalan Kaki, Pemkot Bandung Tertibkan Bangunan Liar di Jalan Rajawali