News / Nasional
Selasa, 30 Juni 2026 | 18:31 WIB
Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim. (ist)
Baca 10 detik
  • Anggota Komisi VI DPR RI mendesak pemerintah mengevaluasi desain rekrutmen manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih pasca meninggalnya lima peserta.
  • Gus Rivqy mengkritik durasi retret sebulan yang berisiko tinggi dan menegaskan seleksi harus memprioritaskan kompetensi manajerial serta integritas peserta.
  • Pemerintah disarankan mengalihkan fokus pelatihan ke praktik lapangan dan magang agar tercipta SDM koperasi profesional tanpa membahayakan nyawa.

Suara.com - Anggota Komisi VI DPR RI, Rivqy Abdul Halim, mendesak pemerintah untuk melakukan evaluasi total terhadap desain rekrutmen calon manajer Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDMP).

Hal ini menyusul kabar duka meninggalnya lima orang peserta dalam rangkaian kegiatan Seleksi Penerimaan dan Pelatihan Inti (SPPI).

Pria yang akrab disapa Gus Rivqy ini menyampaikan rasa prihatin dan duka cita mendalam atas tragedi yang menimpa para peserta tersebut.

"Saya menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga para peserta yang meninggal dunia. Semoga almarhum mendapatkan tempat terbaik di sisi Allah SWT dan keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan," ujar Gus Rivqy kepada wartawan di Jakarta, Selasa (30/6/2026).

Menurutnya, program strategis pemerintah untuk memperkuat ekonomi desa seharusnya tidak dibayangi oleh proses seleksi yang berisiko tinggi terhadap keselamatan jiwa.

Ia menekankan bahwa kompetensi utama seorang manajer koperasi terletak pada aspek manajerial, integritas, dan literasi keuangan, bukan pada ketahanan fisik yang berlebihan.

Ia menyoroti durasi retret selama satu bulan yang dinilai terlalu lama bagi para calon manajer.

"Saya melihat retret bagi mereka itu cukup lama ya, sampai sebulan. Dan setelah itu pelatihan manajerial 15 hari. Jadi mungkin untuk selanjutnya dikurangi saja durasi retretnya, jangan sebulan. Akan lebih baik kalau difokuskan ke skema manajerial saja," tegasnya.

Lebih lanjut, ia mengusulkan agar pembekalan lebih menitikberatkan pada praktik lapangan, magang, serta pendampingan oleh mentor profesional.

Baca Juga: Bukan Musibah Biasa, Pemerintah Didesak Bentuk Tim Independen Usut Kematian 5 Peserta Latsarmil

Ia mencontohkan keberhasilan negara-negara maju seperti Jepang, Korea Selatan (melalui gerakan Saemaul Undong), dan Belanda yang membangun koperasi melalui penguatan kapasitas SDM dan profesionalisme bisnis.

"Indonesia perlu mengadopsi praktik-praktik terbaik tersebut. Program Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih akan berhasil apabila dikelola oleh sumber daya manusia yang profesional, berintegritas, memahami bisnis, dan dibina secara berkelanjutan. Yang terpenting, tidak boleh ada lagi peserta yang kehilangan nyawa dalam proses menyiapkan pemimpin koperasi masa depan," pungkasnya.

Load More