News / Nasional
Jum'at, 03 Juli 2026 | 16:07 WIB
Seekor tapir disembelih hingga dikonsumsi warga viral di Mesuji. [ANTARA]
Baca 10 detik
  • Pegiat konservasi Lampung menyoroti kasus pembunuhan tapir di Kabupaten Mesuji akibat rendahnya kesadaran masyarakat menjaga satwa liar.
  • Pendidikan konservasi sejak usia dini di sekitar kawasan hutan sangat diperlukan untuk mencegah terulangnya aksi perburuan satwa.
  • Sosialisasi berkelanjutan melalui jalur sekolah, forum desa, hingga pendekatan budaya diharapkan mampu meningkatkan perlindungan terhadap satwa langka.

Suara.com - Pegiat konservasi di Lampung menilai pendidikan konservasi yang dilakukan sejak usia dini menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya pembunuhan satwa liar dilindungi, menyusul kasus tewasnya seekor tapir di Register 45, Kabupaten Mesuji.

Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) sekaligus Pegiat Konservasi Lampung Febrilia Ekawati mengatakan peristiwa tersebut menunjukkan masih rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa liar yang terancam punah.

"Merefleksikan kejadian dibunuhnya dan dikonsumsinya daging tapir sebagai satwa yang terancam punah di Kabupaten Mesuji, ini menjadi gambaran bahwa tidak semua masyarakat di Provinsi Lampung memahami tentang pentingnya melindungi dan melestarikan satwa, terutama satwa liar yang terancam punah," ujar Febrilia saat dihubungi di Bandarlampung, Jumat.

Ia menilai edukasi konservasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan lindung, hutan konservasi, cagar alam, maupun taman nasional.

"Pendidikan konservasi ini harus mulai ditumbuhkan sejak dini dari tingkat taman kanak-kanak, agar kejadian di Register 45 Mesuji tidak terulang. Sebab berdasarkan data International Union for Conservation of Natur (ICUN) tapir masuk kategori endangered atau memiliki risiko kepunahan tinggi," katanya.

Bali Zoo memiliki koleksi baru yakni satwa tapir asia. [Antara]

Menurut Febrilia, informasi mengenai status perlindungan satwa juga perlu terus disosialisasikan melalui sekolah, forum masyarakat di tingkat desa, hingga pendekatan berbasis agama dan budaya agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.

"Di Provinsi Lampung ini banyak sekali spesies satwa langka yang terancam punah, sehingga edukasi konservasi melalui pendekatan kontekstual sesuai budaya lokal atau keagamaan ini bisa menjadi cara untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi," ucapnya.

Ia berharap meningkatnya kesadaran masyarakat di sekitar kawasan hutan dapat mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, termasuk mencegah tindakan perburuan atau pembunuhan satwa yang keluar dari habitatnya.

"Oleh karena itu penting sekali semua pihak harus bersama-sama bekerja sama melakukan penyebarluasan edukasi atau pendidikan konservasi kepada masyarakat secara luas, agar keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat terjaga," tambahnya.

Baca Juga: Viral Warga Mesuji Sembelih Tapir, DPR Desak Pelaku Segera Diproses Hukum

Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu-Lampung menyatakan seekor tapir (Tapirus indicus) ditemukan berada di jalan raya kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, pada Kamis (2/7). Beberapa jam kemudian, satwa dilindungi tersebut ditemukan telah mati dalam kondisi terpotong menjadi tiga bagian setelah dibunuh oleh warga.

Menindaklanjuti kejadian itu, Tim Reserse Kriminal Polres Mesuji mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam penangkapan dan pembunuhan tapir tersebut.

Load More