- Pegiat konservasi Lampung menyoroti kasus pembunuhan tapir di Kabupaten Mesuji akibat rendahnya kesadaran masyarakat menjaga satwa liar.
- Pendidikan konservasi sejak usia dini di sekitar kawasan hutan sangat diperlukan untuk mencegah terulangnya aksi perburuan satwa.
- Sosialisasi berkelanjutan melalui jalur sekolah, forum desa, hingga pendekatan budaya diharapkan mampu meningkatkan perlindungan terhadap satwa langka.
Suara.com - Pegiat konservasi di Lampung menilai pendidikan konservasi yang dilakukan sejak usia dini menjadi langkah penting untuk mencegah terulangnya pembunuhan satwa liar dilindungi, menyusul kasus tewasnya seekor tapir di Register 45, Kabupaten Mesuji.
Direktur Eksekutif Yayasan Konservasi Way Seputih (YKWS) sekaligus Pegiat Konservasi Lampung Febrilia Ekawati mengatakan peristiwa tersebut menunjukkan masih rendahnya pemahaman sebagian masyarakat mengenai pentingnya menjaga kelestarian satwa liar yang terancam punah.
"Merefleksikan kejadian dibunuhnya dan dikonsumsinya daging tapir sebagai satwa yang terancam punah di Kabupaten Mesuji, ini menjadi gambaran bahwa tidak semua masyarakat di Provinsi Lampung memahami tentang pentingnya melindungi dan melestarikan satwa, terutama satwa liar yang terancam punah," ujar Febrilia saat dihubungi di Bandarlampung, Jumat.
Ia menilai edukasi konservasi perlu dilakukan secara berkelanjutan, terutama bagi masyarakat yang tinggal di sekitar kawasan hutan lindung, hutan konservasi, cagar alam, maupun taman nasional.
"Pendidikan konservasi ini harus mulai ditumbuhkan sejak dini dari tingkat taman kanak-kanak, agar kejadian di Register 45 Mesuji tidak terulang. Sebab berdasarkan data International Union for Conservation of Natur (ICUN) tapir masuk kategori endangered atau memiliki risiko kepunahan tinggi," katanya.
Menurut Febrilia, informasi mengenai status perlindungan satwa juga perlu terus disosialisasikan melalui sekolah, forum masyarakat di tingkat desa, hingga pendekatan berbasis agama dan budaya agar lebih mudah diterima oleh masyarakat.
"Di Provinsi Lampung ini banyak sekali spesies satwa langka yang terancam punah, sehingga edukasi konservasi melalui pendekatan kontekstual sesuai budaya lokal atau keagamaan ini bisa menjadi cara untuk menyampaikan pesan-pesan konservasi," ucapnya.
Ia berharap meningkatnya kesadaran masyarakat di sekitar kawasan hutan dapat mengurangi konflik antara manusia dan satwa liar, termasuk mencegah tindakan perburuan atau pembunuhan satwa yang keluar dari habitatnya.
"Oleh karena itu penting sekali semua pihak harus bersama-sama bekerja sama melakukan penyebarluasan edukasi atau pendidikan konservasi kepada masyarakat secara luas, agar keseimbangan ekosistem dan kesejahteraan masyarakat terjaga," tambahnya.
Baca Juga: Viral Warga Mesuji Sembelih Tapir, DPR Desak Pelaku Segera Diproses Hukum
Sebelumnya, Balai Konservasi Sumber Daya Alam Bengkulu-Lampung menyatakan seekor tapir (Tapirus indicus) ditemukan berada di jalan raya kawasan Register 45, Kabupaten Mesuji, pada Kamis (2/7). Beberapa jam kemudian, satwa dilindungi tersebut ditemukan telah mati dalam kondisi terpotong menjadi tiga bagian setelah dibunuh oleh warga.
Menindaklanjuti kejadian itu, Tim Reserse Kriminal Polres Mesuji mengamankan empat orang yang diduga terlibat dalam penangkapan dan pembunuhan tapir tersebut.
Berita Terkait
-
Viral Warga Mesuji Sembelih Tapir, DPR Desak Pelaku Segera Diproses Hukum
-
Sasar 5 Provinsi, Program Lanskap Berkelanjutan Targetkan Konservasi Jutaan Hektare Kawasan
-
Pra-Acara Day of Petroleum 2026: Konservasi Penyu, Tanam Pandan, dan Bersih Pantai di Patihan
-
Konservasi atau Pertumbuhan Ekonomi? Penelitian Ungkap Kita Tak Harus PIlih Salah Satu
-
Bagaimana Desa Jatimulyo Membuktikan Konservasi dan Kesejahteraan Bisa Berjalan Bersama
Terpopuler
- Ogah Pasang AC? Ini 4 Rekomendasi Air Cooler yang Murah, Hemat Listrik, dan Cepat Dingin
- 5 Sepatu Running Lokal yang Anti Licin dan Senyaman Skechers, Harga Cuma Rp200 Ribuan
- 8 Sunscreen di Indomaret untuk Flek Hitam Usia 40 Tahun ke Atas sesuai Review
- 7 Pilihan HP Murah Terbaik Harga 1 Jutaan Juli 2026: NFC hingga Baterai 7000 mAh
- 6 Shio yang Menarik Keberuntungan 2 Juli 2026, Ada Kuda hingga Anjing
Pilihan
-
Tangis Bayi Pecah Pagi Hari, Warga Temukan Bayi Perempuan Baru Lahir di Teras Rumah
-
Rupiah Nyaris ke Rp18.000 Lagi Hari Ini
-
Ole Romeny Bakal Satu Tim dengan Justin Hubner di Liga Belanda, Fortuna Sittard Siapkan Tawaran
-
Antar Timnas Perancis ke 16 Besar, Mbappe Pecahkan Sejumlah Rekor Piala Dunia 2026
-
Prabowo ke Polisi: Gaji dan Senjata Kalian dari Rakyat, Jadi Jangan Menyusahkan Rakyat
Terkini
-
Riset: Hutan Mungkin Tak Lagi Menyerap Karbon Sebanyak yang Kita Perkirakan, Mengapa?
-
Nasib Pedagang Buah Kramat Jati: Niat Cari Nafkah Malah Dimaki Perwira Polisi Gegara 'Ngeyel'
-
Komnas Perempuan Nilai Lirik Lagu Om Zein Seksis, Disebut Merendahkan Martabat Perempuan
-
Titiek Soeharto Resmikan Gudang Bulog di Kalsel, Dukung Penguatan Penyimpanan Pangan Nasional
-
KKB Bakar Pesawat hingga Pilot Tewas, DPR Desak Pengamanan Papua Dievaluasi Total
-
Heboh Hakim Tak Tanya Sikap Nadiem Usai Vonis, Menkum: Hak Hukum Terdakwa Tetap Melekat
-
Polisi Gugur dan Dua Anggota Hilang saat Gerebek Bandar Narkoba, DPR Minta Pelaku Ditindak Tegas
-
Sudah Cukup Terima Kasih 2 Tahun, Said Didu Desak Prabowo Bersihkan Kabinet dari 'Orang Jokowi'
-
Harga Material Naik, Bantuan Rumah Korban Banjir Sumatra Diusul Jadi Rp80 Juta
-
Tiba di Jakarta, Bupati Langkat Syah Afandin Digiring Lewat Pintu Belakang KPK