News / Nasional
Selasa, 07 Juli 2026 | 17:34 WIB
Ketua DPR RI, Puan Maharani, menekankan kedalaman hubungan historis antara Indonesia dan India saat menyambut kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Gedung Parlemen Senayan, Selasa (7/7/2026). (tangkap layar)
Baca 10 detik
  • Puan menyoroti hubungan historis kedua negara melalui peran Soekarno dalam peringatan Hari Republik India pertama tahun 1950.
  • Indonesia dan India berkomitmen memperkuat kemitraan strategis berdasarkan semangat Dasasila Bandung untuk menjaga perdamaian dan kemandirian bangsa dunia.
  • Gedung DPR dibangun pada tahun 1965 dengan misi besar bagi negara-negara berkembang.

Suara.com - Ketua DPR RI, Puan Maharani, menekankan kedalaman hubungan historis antara Indonesia dan India saat menyambut kunjungan kenegaraan Perdana Menteri India, Narendra Modi, di Gedung Parlemen Senayan, Selasa (7/7/2026).

Dalam pidatonya, Puan menyebut hubungan kedua negara bukan sekadar kerja sama diplomatik biasa, melainkan memiliki akar sejarah yang sangat panjang dan istimewa.

Ia secara khusus mengenang peran kakeknya, Presiden Pertama RI Soekarno, dalam meletakkan batu pertama persahabatan kedua negara.

"Sejarah mencatat bahwa Presiden Soekarno, presiden pertama Republik Indonesia yang juga merupakan kakek saya, menjadi tamu kehormatan utama pada peringatan Hari Republik India yang pertama pada tahun 1950," ujar Puan di hadapan PM Modi dan delegasi India.

Puan menjelaskan, bahwa kemitraan strategis ini terus berkembang hingga melahirkan tonggak sejarah dunia.

Ia mengingatkan kembali peran penting Indonesia dan India sebagai co-sponsor Konferensi Asia Afrika (KAA) di Bandung pada tahun 1955.

"Semangat Dasasila Bandung pada tahun 1955 kemudian menjadi fondasi bagi lahirnya Gerakan Non-Blok," tambahnya.

Puan juga menegaskan bahwa kedua negara memiliki visi yang sama dalam menjaga perdamaian dan kemandirian bangsa-bangsa di dunia.

Perdana Menteri (PM) India, Narendra Modi bersama Ketua DPR RI Puan Maharani. [Ist]

Selain membahas sejarah politik, Puan juga memberikan penjelasan mengenai makna filosofis dari Gedung Parlemen Senayan tempat pertemuan berlangsung.

Baca Juga: Disorot Kamera, Gibran Terlibat Obrolan Serius dengan Pimpinan Parlemen Jelang Kedatangan Modi

Ia mengungkapkan bahwa gedung tersebut dibangun pada tahun 1965 dengan misi besar bagi negara-negara berkembang.

"Gedung ini dibangun sebagai bagian dari rencana penyelenggaraan Conference of the New Emerging Forces atau CONEFO. Ini adalah gagasan strategis Presiden Soekarno yang mencerminkan aspirasi negara-negara berkembang untuk memiliki posisi setara dan turut menentukan dalam tatanan global," jelasnya.

Puan menegaskan bahwa semangat kemandirian dan kesetaraan yang dibawa oleh para pendiri bangsa tersebut tetap menjadi napas dalam menjalankan diplomasi parlemen saat ini.

"Hingga hari ini, semangat tersebut tetap kami jaga dalam pelaksanaan fungsi parlemen dan diplomasi Indonesia," pungkasnya.

Load More